
5 Penyebab yang Menjadi Pemicu Penuaan Dini pada Kulit./freepik.com
JawaPos.com- Hormon kortisol sering kali dikenal sebagai "hormon stres" karena hubungannya dengan tekanan dan kecemasan.
Meski fungsinya penting dalam membantu tubuh merespons situasi yang menegangkan, kadar kortisol yang tinggi dalam jangka panjang bisa berdampak negatif pada kesehatan fisik dan mental.
Penelitian dari American Psychological Association (APA) menunjukkan adanya hubungan kompleks antara kortisol dan depresi, termasuk dalam hal pemicu, kekambuhan, penyelesaian, dan kerentanan berkelanjutan terhadap depresi.
Ini mengindikasikan bahwa depresi tidak hanya memengaruhi kondisi mental, tetapi juga fisik seseorang.
Dilansir dari Your Tano, berikut adalah lima gejala fisik yang sering dialami oleh seseorang dengan depresi akibat tingginya kadar kortisol:
1. Penurunan Imunitas Tubuh
Kortisol memiliki peran penting dalam kehidupan sehari-hari, termasuk membantu kita terbangun di pagi hari dan memulai aktivitas dengan energi.
Namun, kadar kortisol yang tinggi dalam waktu lama bisa menurunkan sistem kekebalan tubuh.
Menurut The World Journal of Biological Psychiatry, stres dan depresi berhubungan dengan penurunan fungsi kekebalan tubuh dan meningkatkan kerentanan terhadap penyakit infeksi dan kanker.
Hal ini terjadi karena perubahan adaptif akibat stres dan depresi kronis yang menyebabkan aktivitas reseptor glukokortikoid pada sel imun dan daerah limbik di otak menjadi terganggu.
2. Insomnia
Bayangkan kortisol sebagai secangkir kopi alami tubuhmu di pagi hari. Normalnya, kadar kortisol akan menurun seiring berjalannya hari, sehingga kamu bisa merasa lelah dan siap untuk tidur di malam hari.
Namun, ketika depresi melanda, kadar kortisol justru tetap tinggi di luar waktu seharusnya, yang menyebabkan kesulitan tidur atau insomnia.
Studi pada tahun 2023 di Sleep Science mengungkapkan bahwa tingkat insomnia yang lebih tinggi berhubungan dengan kadar kortisol pagi yang meningkat, depresi, dan kecemasan.
Itulah mengapa sering kali penderita depresi merasa lebih buruk di pagi hari dan sedikit membaik menjelang malam.
3. Peningkatan Lemak di Area Perut
Kortisol juga berperan dalam distribusi lemak di tubuh, terutama di area perut. Sebuah studi tahun 2002 menemukan bahwa pasien depresi dengan kadar kortisol tinggi mengalami resistensi insulin dan peningkatan lemak visceral.

5 Mall Terbaik dan Paling Cozy di Solo, Cocok untuk Menikmati Kuliner, Belanja, dan Nongkrong di Satu Tempat
7 Mall Terbaik di Bandung dengan Banyak Tenant Kuliner dan Spot Foto yang Instagramable
Persebaya Surabaya Dilaporkan Capai Kesepakatan dengan Striker Asing, Punya Rekam Jejak di Indonesia!
Bupati Roby Kurniawan Disebut Netizen Sebagai Bupati R yang Bikin Ayu Aulia Kehilangan Rahim
11 Tempat Berburu Sarapan Bubur Ayam Paling Enak di Bandung, Layak Masuk Daftar Wisata Kuliner!
10 Rekomendasi Bubur Ayam Paling Favorit di Surabaya, Terkenal Lezat dan Jadi Langganan Pecinta Kuliner Pagi
10 Rekomendasi Kuliner Bakmi Jawa di Surabaya, Pengunjung Sampe Rela Antre Demi Seporsi Kenikmatan Kuliner Malam Satu Ini!
14 Kuliner Nasi Goreng Paling Enak di Bandung, Tiap Hari Pelanggan Rela Antre Demi Menikmati Kelezatan Kuliner Malam Satu Ini!
14 Daftar Mall Terbaik di Bandung yang Selalu Ramai Dikunjungi, Lengkap untuk Shopping dan Hiburan Keluarga
10 Mall di Semarang yang Tak Pernah Sepi Pengunjung, Tempat Favorit untuk Belanja dan Nongkrong
