Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 5 Juni 2025 | 13.19 WIB

Waspadai Obsesi Makan Sehat Berlebihan: Orthorexia dan Dampaknya pada Pola Hidup Sehari-hari

Ilustrasi orthorexia (Freepik) - Image

Ilustrasi orthorexia (Freepik)

JawaPos.com – Fokus berlebihan pada konsumsi makanan sehat secara ekstrem dapat mengganggu keseimbangan hidup dan relasi sosial.

Orthorexia merupakan kondisi obsesif terhadap pola makan sehat dan kemurnian makanan yang berdampak negatif pada kehidupan.

Menurut Beth Auguste, ahli diet ibu dan anak di Philadelphia, orthorexia termasuk gangguan makan subklinis yang kini makin dikenali.

Memahami orthorexia membantu mengenali batas antara pola makan sehat dan perilaku obsesif yang merugikan kesehatan.

Berikut waspadai obsesi makan sehat berlebihan tentang orthorexia dan dampaknya pada pola hidup sehari-hari dilansir dari laman Huffpost, Rabu (4/6):

Baca Juga: Fasilitas GBLA Banyak yang Rusak, Venue Piala Presiden 2025 Dipindah ke Stadion Si Jalak Harupat Bandung

1. Pantangan Makanan Terlalu Ekstrem

Menghindari kelompok makanan tertentu tanpa alasan medis seperti alergi dapat menunjukkan kecenderungan orthorexia. Seseorang mungkin menetapkan aturan ketat seperti hanya makan nasi merah dan menolak nasi putih tanpa fleksibilitas.


Fokusnya bukan lagi pada kesehatan, tetapi pada kemurnian dan kontrol makanan yang obsesif. Kondisi ini dapat mengarah pada stres jika tidak mengikuti aturan yang dibuat sendiri.

2. Gangguan dalam Aktivitas Sosial

Rasa cemas terhadap makanan tertentu dapat membuat seseorang menolak undangan makan atau pertemuan sosial. Aktivitas normal terganggu karena takut akan komposisi atau proses pembuatan makanan yang disajikan.

Perilaku ini dapat menyebabkan isolasi sosial dan kesulitan menjalin relasi dengan lingkungan sekitar. Ketika makanan mendominasi pikiran hingga memengaruhi keseharian, diperlukan penanganan profesional.

3. Obsesi terhadap Label Bahan Makanan

Pemeriksaan bahan makanan secara kompulsif bisa menghabiskan waktu berjam-jam setiap hari. Hal ini melampaui kebiasaan sehat dan menjadi gangguan jika dilakukan tanpa henti untuk setiap makanan.

Seseorang dengan orthorexia bisa menghindari makanan karena satu bahan yang dianggap tidak cukup “murni”. Situasi ini menciptakan tekanan mental yang intens tanpa alasan kesehatan yang nyata.

4. Rasa Bersalah Saat Melanggar Aturan Makan

Merasa cemas dan bersalah usai makan makanan di luar aturan pribadi adalah tanda orthorexia. Perasaan ini menunjukkan adanya konflik mental antara keinginan makan dan aturan yang diciptakan.

Jika hal ini memicu stres berlebih atau berdampak pada suasana hati, perlu ada evaluasi dari ahli. Dampaknya bukan hanya pada kesehatan fisik, tapi juga kondisi emosional dan psikologis.

5. Kesulitan Membedakan Sehat dan Obsesif

Batas antara makan sehat dan pola makan obsesif bisa sangat tipis dan sulit dikenali sendiri. Bantuan ahli seperti dietisien atau terapis menjadi penting untuk menilai kondisi secara objektif.

Konsultasi dengan profesional berlisensi dapat membantu mengidentifikasi apakah pola makan yang dijalani tergolong sehat. Intervensi sejak awal dapat mencegah dampak jangka panjang pada tubuh dan mental.

6. Peran Media Sosial dalam Membentuk Persepsi


Paparan terhadap konten digital yang mempromosikan makanan “benar” sering memperparah pola pikir orthorexia. Tren makanan yang viral dapat menciptakan tekanan untuk mengikuti standar makan yang tidak realistis.

Banyak orang merasa harus meniru gaya makan influencer meski tidak sesuai kebutuhan pribadi. Kondisi ini memperkuat gagasan bahwa hanya satu cara makan yang bisa dianggap sehat.

7. Keseimbangan adalah Kunci Utama

Tidak perlu menjadi sempurna untuk hidup sehat, cukup memiliki variasi dan keteraturan dalam konsumsi makanan. Menghilangkan pola pikir serba “selalu” dan menggantinya dengan “biasanya” dapat membantu menjaga fleksibilitas.

Bahasa internal yang lebih ramah membantu mengurangi tekanan dan menghindari penilaian negatif terhadap diri sendiri. Menjadikan makan sehat sebagai proses yang berkelanjutan lebih penting dibanding obsesif terhadap kesempurnaan.

Orthorexia sebagai obsesi terhadap makan sehat perlu dikenali sejak awal agar tidak berkembang menjadi kebiasaan yang merusak keseimbangan hidup.
Editor: Hanny Suwindari
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore