Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 16 Mei 2025 | 13.14 WIB

5 Gejala Fisik yang Sering Muncul Akibat Depresi dan Tingginya Kadar Kortisol

5 Penyebab yang Menjadi Pemicu Penuaan Dini pada Kulit./freepik.com - Image

5 Penyebab yang Menjadi Pemicu Penuaan Dini pada Kulit./freepik.com

JawaPos.com- Hormon kortisol sering kali dikenal sebagai "hormon stres" karena hubungannya dengan tekanan dan kecemasan.

Meski fungsinya penting dalam membantu tubuh merespons situasi yang menegangkan, kadar kortisol yang tinggi dalam jangka panjang bisa berdampak negatif pada kesehatan fisik dan mental.

Salah satu kondisi yang sangat berkaitan dengan tingginya kadar kortisol adalah depresi.

Penelitian dari American Psychological Association (APA) menunjukkan adanya hubungan kompleks antara kortisol dan depresi, termasuk dalam hal pemicu, kekambuhan, penyelesaian, dan kerentanan berkelanjutan terhadap depresi.

Ini mengindikasikan bahwa depresi tidak hanya memengaruhi kondisi mental, tetapi juga fisik seseorang.

Dilansir dari Your Tano, berikut adalah lima gejala fisik yang sering dialami oleh seseorang dengan depresi akibat tingginya kadar kortisol:

1. Penurunan Imunitas Tubuh
Kortisol memiliki peran penting dalam kehidupan sehari-hari, termasuk membantu kita terbangun di pagi hari dan memulai aktivitas dengan energi.

Namun, kadar kortisol yang tinggi dalam waktu lama bisa menurunkan sistem kekebalan tubuh.

Menurut The World Journal of Biological Psychiatry, stres dan depresi berhubungan dengan penurunan fungsi kekebalan tubuh dan meningkatkan kerentanan terhadap penyakit infeksi dan kanker.

Hal ini terjadi karena perubahan adaptif akibat stres dan depresi kronis yang menyebabkan aktivitas reseptor glukokortikoid pada sel imun dan daerah limbik di otak menjadi terganggu.

2. Insomnia
Bayangkan kortisol sebagai secangkir kopi alami tubuhmu di pagi hari. Normalnya, kadar kortisol akan menurun seiring berjalannya hari, sehingga kamu bisa merasa lelah dan siap untuk tidur di malam hari.

Namun, ketika depresi melanda, kadar kortisol justru tetap tinggi di luar waktu seharusnya, yang menyebabkan kesulitan tidur atau insomnia.

Studi pada tahun 2023 di Sleep Science mengungkapkan bahwa tingkat insomnia yang lebih tinggi berhubungan dengan kadar kortisol pagi yang meningkat, depresi, dan kecemasan.

Itulah mengapa sering kali penderita depresi merasa lebih buruk di pagi hari dan sedikit membaik menjelang malam.

3. Peningkatan Lemak di Area Perut
Kortisol juga berperan dalam distribusi lemak di tubuh, terutama di area perut. Sebuah studi tahun 2002 menemukan bahwa pasien depresi dengan kadar kortisol tinggi mengalami resistensi insulin dan peningkatan lemak visceral.

Editor: Hanny Suwindari
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore