
ILUSTRASI
Oleh NIZAR MACHYUZAAR
---
Sudah menjadi permafhuman bersama bahwa produksi dan konsumsi konten telah menyasar sesiapa yang melek internet. Darinya, informasi dalam bentuk transmisi digital menjadi model berinteraksi dan berkomunikasi yang efektif untuk menyampaikan gagasan pemikiran dan pesan yang menyertainya.
DARINYA pula, para pemroduksi konten mencari model narasi untuk memancing pengonsumsi konten tertarik mengeklik tautan atas informasi yang diunggah. Dengannya, timbangan pancingan klik atau lebih dikenal dengan istilah klikbait digunakan, baik oleh pengguna blog pribadi maupun blog lembaga penyiaran berita.
Karenanya, siapa pun berpotensi untuk menjadi sumber informasi. Sebaliknya, siapa pun berdaya dalam memilih dan memilah konten yang dikonsumsi. Bineritas global-lokal, pusat-daerah, atau profesional blog-personal blog tereduksi dalam arus produksi dan konsumsi informasi sedemikian tersebab masif, luas, dan cepatnya produksi konten.
Replikasi
Lalu, di mana marwah kebenaran informasi bersandar? Angin segar keterbukaan informasi terdukung internet, terutama jika kita menghampiri konten-konten yang terunggah pada media sosial. Sebuah peristiwa disampaikan dalam beragam sudut pandang. Kita terarus dalam semesta konten untuk berselancar dan menemukan informasi berisi peristiwa dan makna.
Kegamangan kita dalam mengonsumsi kebenaran informasi yang melimpah ini telah mendorong para pemaham dan perumus dalam bidang sosial, budaya, komunikasi, dan bahasa untuk mereformulasi proses berinteraksi dan berkomunikasi, terutama pada masyarakat perkotaan.
Tantangan tersebut, setidaknya, telah mengusik bagaimana kita membangun pengetahuan dan pemahaman diri yang, salah satunya dimediasi oleh pemerolehan informasi melalui konten. Kita tentu saja menyadari beragam dampak negatif konten yang masif, luas, dan cepat diproduksi ini. Berita bohong, ujaran kebencian SARA, kejahatan siber, konten pornografi, aplikasi perjudian daring, dan kampanye gelap hampir setiap hari dimamah dan dikonsumsi warganet.
Sebagian para pemaham dan perumusnya mengistilahkan gejala kelebihan informasi ini dengan post-truth. Dan, yang tak kalah menarik selain gejala pancingan umpan adalah demennya warganet mengunggah atau membagi konten (share) dan mengunggah atau membagi ulang konten (reshare), baik melalui akun media sosial maupun melalui akun berbagi pesan.
Barangkali, kita dapat menamai kegemaran warganet dalam mengunggah konten dan mengunggah ulang konten dengan istilah replikasi konten. Tentu saja, kita dapat membayangkan berapa konten yang direplikasi warganet di Indonesia dalam hitungan detik. Apalagi, jika kita memasukkan unggah konten warganet hasil dari re-kreasi konten atau familier disebut dengan meme.
Bahkan, hasil pengumpulan data dan informasi yang tak berhingga pada internet telah dapat disistematisasikan dan diformulasikan secara mekanis ke dalam aplikasi yang setiap saat dapat diakses oleh warganet. Kita mengenalnya dengan istilah kecerdasan buatan.
Bonus Tekstografi
Segala informasi pada internet dapat disebut konten. Konten berbentuk gambar, suara, dan kombinasi dua hal sebelumnya. Konten berbahan baku bahasa meskipun hanya menyertakan gambar tanpa teks. Sebabnya, konten akan dipahami pengonsumsi dengan dibahasakan melalui prosedur interpretasi. Demikian pun pemroduksi konten saat memproduksi konten.
Sementara itu, teks adalah segala peristiwa bahasa yang terbakukan ke dalam tulisan. Dengan begitu, konten dapat dianggap teks, yakni dokumen transmisi digital, baik dalam bentuk rekam gambar, rekam suara, maupun kombinasi keduanya. Karena bermaksud menyampaikan pesan, konten sebagai teks akan diinterpretasi pengonsumsi melalui kode bahasa sebagai bahan baku pemahaman.
