
Cover buku. (Istimewa)
Siti Murtiningsih mengajak kita untuk tidak menolak sama sekali keterlibatan mesin dalam proses pendidikan. Ada begitu banyak hal dari teknologi kecerdasan buatan yang dapat dimanfaatkan manusia.
PARADIGMA lama pendidikan meyakini manusia terbentuk sikap dan karakternya oleh lingkungan. Yakni, keluarga, sekolah, dan lingkungan sekitar, termasuk kondisi geografis alam maupun iklim. Dalam perkembangan sejarah manusia modern, kita memasuki era di mana ciptaan kita sendiri, yakni kecerdasan buatan, akan membentuk kita dalam berbagai cara yang tidak kasatmata. Tantangan itulah yang mendasari penerbitan buku ini.
Penulisnya, Siti Murtiningsih, mengajak kita untuk berdiskusi secara mendalam tentang tantangan filsafat kehadiran sistem kecerdasan buatan. Apakah artificial intelligence (akal imitasi/AI) benar-benar menjadi obat mujarab yang menyelesaikan banyak hal, termasuk di dunia pendidikan? Ataukah AI justru ancaman karena menjadi pesaing manusia? Bagaimana pendidikan kita harus menyikapi persoalan ini? Pertanyaan-pertanyaan itulah yang dielaborasi jawabannya secara filosofis dalam buku setebal 165 halaman ini.
Hubungan manusia dengan mesin pintar, pada mulanya, merupakan kisah fiksi dalam film. Misalnya, dalam film Her (2013) karya sutradara Spike Jonze. Diceritakan Theodore, seorang lelaki yang jatuh cinta dan cemburu pada mesin bernama Samantha. Padahal, Theodore hanya mengenal Samantha lewat suara.
Berbeda dengan fiksi lainnya, Black Mirror. Dalam episode Be Right Back (2013), diceritakan sebuah mesin kecerdasan buatan sebagai pengganti pasangan seseorang yang telah meninggal. Mesin cerdas ini hadir dalam sebuah bentuk tubuh berbahan silikon. Sehingga tidak hanya bisa diajak ngobrol, mesin ini bisa diajak bercinta.
Kisah fiksi tersebut kini telah mewujud, kian menjadi nyata. Dalam beberapa tahun ke depan, seseorang bisa berkencan dengan manusia silikon dengan akal imitasi. Dan pada saat bersamaan, bisa jadi, yang berdiri di depan kelas mengajar anak-anak kita bukan manusia dengan tubuh berbasis karbon, melainkan mesin kecerdasan buatan yang dimasukkan ke dalam tubuh berbasis silikon (hal 5).
Fakta yang nyata. Sejak 2018, China telah menugaskan robot kecil KeeKo untuk mengajar di 600 kelas taman kanak-kanak. KeeKo bercerita, mengajukan soal logika, dan bereaksi dengan ekspresi wajah saat siswa bisa menguasai pelajaran.
Tahun 2024, India juga telah memperkenalkan Iris, guru-robot yang mengajar di Kerala School. Iris didesain sebagai guru perempuan. Ia mengenakan pakaian khas India. Dapat merespons pertanyaan dan memberikan penjelasan serta menyampaikan materi pelajaran.
Di Indonesia, bukan tidak mungkin, kecerdasan buatan sudah merasuki dunia pendidikan. Meski belum mewujud dalam tubuh berbentuk robot, kecerdasan buatan atau akal imitasi (AI) sudah banyak mewarnai dunia pendidikan. Berbagai aplikasi berbasis AI sering dipilih anak didik dalam mencari rujukan menyelesaikan soal pelajaran.
Kita layak cemas ketika melihat anak-anak yang justru belajar tentang banyak hal dari YouTube, ChatGPT, atau perangkat AI lainnya. Namun, Siti Murtiningsih mengajak kita untuk tidak menolak sama sekali keterlibatan mesin dalam proses pendidikan. Ada begitu banyak hal dari teknologi kecerdasan buatan yang dapat dimanfaatkan untuk mengoptimalkan proses pendidikan.
Karena itu, daripada menolak atau membiarkan mesin mengambil alih proses pendidikan, kita sebaiknya mulai membayangkan bagaimana mendidik manusia bersama mesin.
Dalam buku ini, Siti mengajak memanfaatkan AI sebagai salah satu cara bagi manusia untuk membantu membentuk kecerdasan emosional dan mengembangkan cara berpikir kritis. Integrasi kecerdasan artifisial dalam pendidikan menawarkan cara-cara transformatif untuk menyampaikan materi pendidikan selama periode perubahan sosial dan budaya yang cepat. AI sebagai sebuah mesin dapat dimanfaatkan sebagai kolaborator manusia dalam dunia pendidikan.
Teknologi memang memiliki peran sebagai alat bantu bagi para pendidik untuk meningkatkan kapasitas diri dan menyelesaikan tugas-tugas yang lebih kompleks. AI dan otomatisasi teknologi telah mengubah secara dramatis dunia pendidikan saat ini.
Siti menggunakan kacamata pedagogi kritis ala Paulo Freire –seorang tokoh filsafat pendidikan– untuk melihat masalah disrupsi teknologi. Dikatakan, satu tawaran dalam pedagogi kritis ini adalah menekankan kembali proyeksi pembelajaran kolektif. Pembelajaran kolektif yang ia maksud adalah merancangkan keterlibatan AI agar mendorong interaksi yang lebih bermakna antara guru dan murid.
Interaksi inilah yang menjadi penting apabila melihat proses belajar-mengajar. Guru dapat menanamkan harapan atau pengalaman dan perasaan yang nyata. Manusia tetap perlu hadir sebagai pendidik karena pendidikan tidak hanya menyampaikan pengetahuan, tetapi juga harus menumbuhkan empati, solidaritas, dan komitmen kolektif terhadap keadilan sosial dan ekologis.

Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Jadwal Thomas Cup 2026 Indonesia vs Aljazair, Siaran Langsung, dan Live Streaming: Laga Perdana Wajib Menang!
