Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 12 Mei 2024 | 14.31 WIB

Orang Desa dan Pesisir Juga Berhak Punya Selera

Cover Buku - Image

Cover Buku

Mahfud Ikhwan seolah melawan tulisan musik populer arus utama dengan irama desa yang diusungnya.

MEMBICARAKAN Mahfud Ikhwan memang tak bisa mencerabutnya dari pembahasan musik. Hampir semua novelnya memasukkan unsur musik di dalamnya.

Dari alunan musik Melayu pada novel Ulid hingga dangdut pada karya terbarunya, Anwar Tohari Mencari Mati. Namun, sebenarnya semesta musik penulis alumnus Jurusan Sastra Indonesia Universitas Gadjah Mada itu jauh lebih luas dari apa yang sudah termaktub dalam novel-novelnya.

Dalam buku terbarunya yang berjudul Kepikiran Dangdut dan Hal-Hal Pop Lainnya, Mahfud seolah memamerkan semua wawasan musikalnya. Tak cukup di situ, penulis asal Lamongan itu merangkum semua memori estetis yang menemani masa tumbuh kembangnya mulai anak-anak, remaja, hingga dewasa. Ludruk, film, buku, hingga ceramah agama diulasnya dengan gaya khasnya yang segar.

Buku terbitan Warning Books awal 2024 ini sebenarnya adalah kumpulan esai Mahfud yang pernah terbit di beberapa media massa cetak dan daring. Pembaca media massa mungkin pernah membaca satu atau dua esainya secara tidak sengaja.

Karena itu, buku setebal 260 halaman ini menjadi jalan termudah untuk memahami wawasan seni budaya Mahfud secara lebih mendetail dan menyeluruh.

Irama Desa

Lahir di sebuah desa di Lamongan, Jawa Timur, membuat Mahfud selalu berjarak dengan kultur pop urban. Hal itulah yang selalu tecermin dalam esai-esainya.

Walaupun pernah mengenyam kuliah di Jogjakarta, dia selalu mencoba menantang realitas dan memberikan wacana yang menurutnya lebih proporsional. Di sini Mahfud seolah melawan tulisan musik populer arus utama dengan irama desa yang diusungnya.

Hal itu terjadi bukannya tanpa alasan. Sebagai anak yang dibesarkan di lingkungan desa, dia akan sangat akrab dengan musik dan tontonan yang ada di desanya. Dalam lingkar yang lebih sempit lagi, keluarga mempunyai andil yang cukup besar dalam membentuk selera musik dan tontonannya.

Melalui buku catatan lagu milik ayahnya, Mahfud mulai mengenal lagu sekaligus musisi yang populer di masa generasi sebelumnya. Sebut saja Layar Tancap Nomo Koeswoyo, Maria Julius Sitanggang, dan Suratan Tommy J. Pisa sudah dikenalnya saat dia kecil.

Tak sekadar mendengarkan dan mendendangkan lagunya, dari sana dia juga mempelajari makna bahasa yang dipakai di dalam lirik lagu sekaligus memberikan analisis kritis dari lirik-lirik lagu tersebut. Hal itu diceritakan dalam esai yang berjudul Lagu di Buku dan Buku Lagu.

Satu yang unik dari Mahfud adalah dia tidak dibesarkan dalam keluarga yang mempunyai artefak musik. Dia tidak mempunyai koleksi kaset dan tidak memiliki alat pemutarnya.

Dia juga bukan pembaca majalah musik dan bukan anak skena pada eranya. Wawasan musiknya meluas justru dari peristiwa budaya di sekitar seperti acara pernikahan yang selalu memasang toa untuk menyetel musik dari dangdut hingga ludruk.

Dari sini dia mengenal akrab lagu-lagu dangdut klasik Awara dan duet klasik Evy-Oma. Selain itu, dia sangat akrab dengan lakon-lakon ludruk yang diputar di beberapa sesinya. Hal itu dituangkan dalam esai Toa dan Budaya (Massa).

Editor: Ilham Safutra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore