
Cover Buku
Mahfud Ikhwan seolah melawan tulisan musik populer arus utama dengan irama desa yang diusungnya.
MEMBICARAKAN Mahfud Ikhwan memang tak bisa mencerabutnya dari pembahasan musik. Hampir semua novelnya memasukkan unsur musik di dalamnya.
Dari alunan musik Melayu pada novel Ulid hingga dangdut pada karya terbarunya, Anwar Tohari Mencari Mati. Namun, sebenarnya semesta musik penulis alumnus Jurusan Sastra Indonesia Universitas Gadjah Mada itu jauh lebih luas dari apa yang sudah termaktub dalam novel-novelnya.
Dalam buku terbarunya yang berjudul Kepikiran Dangdut dan Hal-Hal Pop Lainnya, Mahfud seolah memamerkan semua wawasan musikalnya. Tak cukup di situ, penulis asal Lamongan itu merangkum semua memori estetis yang menemani masa tumbuh kembangnya mulai anak-anak, remaja, hingga dewasa. Ludruk, film, buku, hingga ceramah agama diulasnya dengan gaya khasnya yang segar.
Buku terbitan Warning Books awal 2024 ini sebenarnya adalah kumpulan esai Mahfud yang pernah terbit di beberapa media massa cetak dan daring. Pembaca media massa mungkin pernah membaca satu atau dua esainya secara tidak sengaja.
Karena itu, buku setebal 260 halaman ini menjadi jalan termudah untuk memahami wawasan seni budaya Mahfud secara lebih mendetail dan menyeluruh.
Irama Desa
Lahir di sebuah desa di Lamongan, Jawa Timur, membuat Mahfud selalu berjarak dengan kultur pop urban. Hal itulah yang selalu tecermin dalam esai-esainya.
Walaupun pernah mengenyam kuliah di Jogjakarta, dia selalu mencoba menantang realitas dan memberikan wacana yang menurutnya lebih proporsional. Di sini Mahfud seolah melawan tulisan musik populer arus utama dengan irama desa yang diusungnya.
Hal itu terjadi bukannya tanpa alasan. Sebagai anak yang dibesarkan di lingkungan desa, dia akan sangat akrab dengan musik dan tontonan yang ada di desanya. Dalam lingkar yang lebih sempit lagi, keluarga mempunyai andil yang cukup besar dalam membentuk selera musik dan tontonannya.
Melalui buku catatan lagu milik ayahnya, Mahfud mulai mengenal lagu sekaligus musisi yang populer di masa generasi sebelumnya. Sebut saja Layar Tancap Nomo Koeswoyo, Maria Julius Sitanggang, dan Suratan Tommy J. Pisa sudah dikenalnya saat dia kecil.
Tak sekadar mendengarkan dan mendendangkan lagunya, dari sana dia juga mempelajari makna bahasa yang dipakai di dalam lirik lagu sekaligus memberikan analisis kritis dari lirik-lirik lagu tersebut. Hal itu diceritakan dalam esai yang berjudul Lagu di Buku dan Buku Lagu.
Satu yang unik dari Mahfud adalah dia tidak dibesarkan dalam keluarga yang mempunyai artefak musik. Dia tidak mempunyai koleksi kaset dan tidak memiliki alat pemutarnya.
Dia juga bukan pembaca majalah musik dan bukan anak skena pada eranya. Wawasan musiknya meluas justru dari peristiwa budaya di sekitar seperti acara pernikahan yang selalu memasang toa untuk menyetel musik dari dangdut hingga ludruk.
Dari sini dia mengenal akrab lagu-lagu dangdut klasik Awara dan duet klasik Evy-Oma. Selain itu, dia sangat akrab dengan lakon-lakon ludruk yang diputar di beberapa sesinya. Hal itu dituangkan dalam esai Toa dan Budaya (Massa).

10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
Berburu Oleh-Oleh Khas Pasuruan? Ini 15 Buah Tangan yang Cocok untuk Keluarga di Rumah Berdasarkan yang Paling Dicari Wisatawan
10 Tempat Makan Pempek Favorit di Bandung, Pilihan Menu Lengkap, Rasa Autentik, dan Perpaduan Cuko yang Kaya Rempah
16 Tempat Wisata Terbaik di Pandaan Pasuruan yang Buat Liburan Penuh Panorama Alam, Pegunungan dan Ketenangan
11 Rekomendasi Es Teler Terlaris di Jogja, Selalu Jadi Favorit Pecinta Dessert Tradisional Warga Lokal Maupun Pelancong!
10 Kuliner Lezat Dekat Stasiun Pasar Turi Surabaya, dari Lontong Balap hingga Nasi Bebek
10 Kedai Es Teler Paling Enak di Jakarta, Cocok untuk Melepas Dahaga saat Cuaca Panas di Siang Hari!
14 Rekomendasi Gado-Gado Paling Recomended di Surabaya, Cita Rasa Klasik Autentik dan Harga Ramah di Kantong
18 Oleh-Oleh Khas Tulungagung Ini Wajib Dibeli Jika Berkunjung, dari Kuliner hingga Kerajinan Tradisional
Ribuan Suporter Rayakan HUT ke-94 PSIS Semarang, Flare dan Nyanyian Menggema di Depan Kantor Gubernuran Jawa Tengah
