Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 18 September 2026 | 05.28 WIB

Pembenahan Sistem Dermaga Belum Disentuh, Asosiasi Sopir Truk Pesimis Zero ODOL Bisa Terlaksana 2027

Ilustrasi antre di Pelabuhan Ketapang (Ramada Kusuma/Jawa Pos Radar Banyuwangi) - Image

Ilustrasi antre di Pelabuhan Ketapang (Ramada Kusuma/Jawa Pos Radar Banyuwangi)

JawaPos.com - Ketua Asosiasi Sopir Logistik Indonesia (ASLI), Slamet Barokah menilai, menjelang diterapkannya Zero Over Dimension Overloading (ODOL), antrean panjang truk logistik masih tetap terjadi di jalur penyeberangan atau dermaga. Hal itu diakibatkan masih kurangnya sarana dan prasarana serta pelayanan kapal yang tidak memadai.

Menurutnya, jika Pemerintah tidak membenahi apa yang terjadi di dermaga, sopir-sopir truk logistik pesimis Zero ODOL bisa diterapkan di 2027.

“Hingga saat ini belum ada perhatian dari Pemerintah untuk membenahinya. Jadi, bagaimana mungkin bisa mewujudkan Zero ODOL yang tinggal beberapa bulan lagi dengan kondisi dermaga seperti itu,” ujarnya dalam keterangannya, Kamis (17/9).

Slamet mencontohkan seperti yang terjadi di dermaga Gilimanuk dan Ketapang. Setidaknya, dibutuhkan tambahan beberapa dermaga lagi untuk menghindari terjadinya antrean truk yang sangat panjang di 7 dermaga Gilimanuk dan 9 di Ketapang yang setiap harinya menampung ribuan truk yang akan menyeberang dari sana.

“Bisa dibayangkan antrean truk yang akan mengular di dermaga itu kalau Zero ODOL tetap akan dipaksakan berlaku di 2027 nanti,” lanjutbya.

Dikatakan Slamet, saat kapal mengantre, secara otomatis kapal-kapal itu akan mengapung dalam waktu lama dan menghabiskan banyak BBM. Apalagi yang digunakan itu adalah BBM bersubsidi. Karena, sekalipun mengapung, mesin kapal harus tetap dihidupkan supaya jangan terombang-ambing.

“Artinya, akan terjadi juga penguapan subsidi. Jadi, bukan efisiensi tapi malah terjadi pemborosan uang subsidi. Padahal, uang itu seharusnya bisa digunakan untuk membangun dermaga baru,” ucapnya.

Akibat lamanya mengantre di pelabuhan penyeberangan tersebut, sopir bisa mengalami kerugian sebesar Rp200-300 ribu, sekaligus rugi waktu dan capek yang berlebihan. “Artinya, Zero ODOL 2027 nanti tidak akan menjadi solusi bagi sopir truk jika kondisi dermaga masih dibiarkan seperti itu,” tuturnya.

Koordinator Pengemudi Indonesia Sunaryo menambahkan bahwa selain infrastruktur yang tidak dibenahi, layanan kapal di dermaga juga sangat tidak optimal. Menurutnya, kondisi ini sering menimbulkan kemacetan dan antrean panjang seperti di pelabuhan penyeberangan atau dermaga Bakauheni dan Merak.

Editor: Estu Suryowati
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022

Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore