Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 23 Juni 2026 | 06.52 WIB

DPR Tegaskan Risiko Besar dari Penambahan Layar Bioskop

Ilustrasi bioskop. (Pexel/Antara) - Image

Ilustrasi bioskop. (Pexel/Antara)

JawaPos.com - Anggota Komisi VII DPR RI, Novita Hardini, mengingatkan pemerintah agar tidak menjadikan penambahan jumlah layar bioskop sebagai satu-satunya strategi untuk mendorong pertumbuhan industri perfilman nasional. Menurutnya, di tengah kondisi ekonomi yang masih menekan daya beli masyarakat, kebijakan ekspansi layar bioskop tanpa penguatan ekosistem industri berisiko menimbulkan persoalan baru.

Pernyataan tersebut disampaikan Novita dalam Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) Panja Kreativitas dan Distribusi Film Nasional yang berlangsung di Kompleks Parlemen, Senayan, Senin (22/6).

Legislator Fraksi PDI Perjuangan itu menegaskan, tantangan yang dihadapi industri film nasional tidak hanya berkaitan dengan keterbatasan jumlah layar bioskop.

“Pertanyaannya bukan sekadar berapa banyak layar yang perlu ditambah. Pertanyaannya adalah apakah masyarakat memiliki kemampuan ekonomi yang cukup untuk mengakses bioskop secara berkelanjutan, dan apakah industri film nasional sudah memiliki ekosistem yang sehat untuk memanfaatkan penambahan layar tersebut,” kata Novita.

Ia menilai, pemerintah perlu berhati-hati agar kebijakan yang diambil tidak hanya berorientasi pada peningkatan konsumsi. Menurutnya, penambahan layar bioskop memang dapat memperbesar kapasitas penayangan film, namun belum tentu mampu mendongkrak jumlah penonton apabila kondisi ekonomi masyarakat belum sepenuhnya pulih.

"Jika kursi bioskop bertambah tetapi penontonnya tidak bertambah secara proporsional, maka yang muncul adalah risiko bisnis baru bagi industri itu sendiri,” tegasnya.

Novita menyoroti bahwa persoalan mendasar perfilman nasional saat ini justru berada pada aspek distribusi dan keberpihakan kebijakan. Menurutnya, film nasional masih menghadapi ketimpangan akses terhadap layar bioskop dan harus bersaing dengan film impor yang memiliki dukungan modal serta jaringan distribusi yang lebih kuat.

“Persoalan kita bukan semata kekurangan layar, tetapi bagaimana layar yang ada dapat memberikan ruang yang adil bagi film Indonesia. Negara harus hadir memastikan bahwa film nasional tidak selalu kalah oleh mekanisme pasar yang hanya mengejar keuntungan jangka pendek,” bebernya.

Karena itu, ia mendorong pemerintah melalui Kementerian Ekonomi Kreatif dan Kementerian Kebudayaan untuk menghadirkan regulasi yang lebih afirmatif bagi industri perfilman

Editor: Estu Suryowati
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore