
Pengunjung melihat produk Xiaomi saat pembukaan gerai baru di Erajaya Digital Complex, PIK 2, Tangerang, Jumat (27/10/2023). (Hanung Hambara/Jawa Pos)
JawaPos.com - Emiten ritel teknologi dan gaya hidup, PT Erajaya Swasembada Tbk mengumumkan rencana pembelian kembali (buyback) saham dengan nilai maksimal Rp 150 miliar. Kebijakan buyback tersebut mengacu pada ketentuan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengenai pembelian kembali saham dalam kondisi pasar yang berfluktuasi signifikan.
Sesuai regulasi, jumlah saham yang dibeli kembali tidak akan melebihi 20 persen dari modal disetor dengan ketentuan saham beredar minimal 7,5 persen.
Dalam keterbukaan informasi kepada Bursa Efek Indonesia (BEI), dikutip Selasa (27/1), ERAA menyampaikan bahwa periode pelaksanaan buyback akan berlangsung selama tiga bulan yakni mulai 23 Januari hingga 23 April 2026.
Pembelian kembali saham akan dilakukan melalui PT Trimegah Sekuritas Indonesia Tbk. dengan harga yang dinilai baik dan wajar sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Langkah ini menunjukan keyakinan manajemen di tengah volatilitas pasar.
Langkah buyback ini juga ditopang oleh kondisi likuiditas perseroan yang relatif solid.
Dalam laporan keterbukaan informasinya, perseroan menyampaikan bahwa pendanaan pembelian kembali saham akan sepenuhnya berasal dari kas internal perseroan. Dengan struktur permodalan dan arus kas yang tersedia saat ini, perseroan menilai pelaksanaan buyback dapat dilakukan tanpa mengganggu kegiatan usaha maupun kebutuhan pendanaan operasional.
Head of Research & Chief Economist PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Rully Arya Wisnubroto berpandangan bahwa aksi buyback ERAA mencerminkan pendekatan berbasis valuasi. "Hal ini dilakukan untuk menjaga stabilitas harga saham, dan juga menjaga kepercayaan investor tentang kondisi fundamental perusahaan," ujarnya.
Menurut Rully, sebagai perusahaan ritel dan distributor perangkat digital, valuasi ERAA umumnya dianalisis menggunakan kombinasi rasio price to book value (PBV), sebagai perbandingan antara harga saham dan nilai buku perusahaan, serta enterprise value to EBITDA (EV/EBITDA) sebagai indikator valuasi perusahaan terhadap kemampuan menghasilkan laba operasional.
Dia melihat skala dana buyback yang dialokasikan tidak mengurangi fleksibilitas Perseroan dalam memenuhi kebutuhan modal kerja maupun rencana ekspansi.
Di luar kebijakan buyback, ERAA juga terus menjalankan strategi pengembangan usaha melalui diversifikasi lini bisnis. Selain bisnis inti distribusi dan ritel perangkat teknologi, perseroan melalui Erajaya Active Lifestyle (ERAL) memperluas eksposur ke segmen gaya hidup aktif.
Sementara itu, Erajaya Food & Nourishment (EFN) mengelola lini makanan dan minuman dengan sejumlah merek internasional seperti Paris Baguette, Bacha Coffee, dan Chagee, yang tengah memperluas jaringan gerainya di kawasan Asia Tenggara.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Guruh Soekarnoputra Meninggal, Ini Daftar Anak Soekarno yang Masih Hidup dan Sudah Tiada
Prediksi Skor Hong Kong vs Laos di FIFA ASEAN Cup: Duel Seru Berpotensi Imbang di Kai Tak Stadium
Prediksi Skor Slovakia vs Moldova di Liga Nations UEFA: Sokoli Borong Gol di Futbal Tatran Aréna
Prediksi Skor Albania vs Belarus di Liga Nations UEFA: Kuq e Zinjtë Menang Tipis Hadapi Tim Tamu
Prediksi Skor Bulgaria vs Luksemburg: Duel Ketat, Tuan Rumah Diunggulkan
Prediksi Skor Kamboja vs Myanmar di FIFA ASEAN Cup: Singa Asia Berpeluang Menang Tipis
Prediksi Skor Kuwait vs Irak di Arabian Gulf Cup: Laga Sengit Rawan Berakhir Imbang
Prediksi Skor Makedonia Utara vs Swiss di Liga Nations UEFA: Nati Pesta Gol di Kandang Lawan
Prediksi Skor Lithuania vs Azerbaijan di UEFA Nations League: Duel Ketat Berpotensi Imbang
Prediksi Skor Slovenia vs Skotlandia: Sesko Absen, Era Baru Pocognoli Dimulai di Ljubljana

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022