JawaPos.com - Himpunan Mahasiswa Teknik Informatika FMIPA Universitas Padjadjaran kembali menyelenggarakan Informatics Festival (IFEST) 2025. Tahun ini tema yang diusung yakni Artificial Intelligence sebagai Upaya Edukasi dan Pemberdayaan Masyarakat Melalui Teknologi.
Adapun salah satu program unggulan tahun ini adalah Technopreneur. Kegiatan ini berupa workshop dan kompetisi Business Plan Competition (BPC) dengan tujuan menumbuhkan minat dan bakat kewirausahaan berbasis teknologi di kalangan mahasiswa dan masyarakat umum.
Technopreneur IFEST 2025 menerapkan bisnis yang adaptif dan berkelanjutan. Pelatihan intensif, pendampingan langsung, serta ruang eksplorasi ide bisnis berbasis Artificial Intelligence (AI) diberikan kepada para peserta.
IFEST 2025 juga menghadirkan Innovesia, perusahaan yang telah berpengalaman dalam menerapkan Design Thinking di berbagai sektor industri di Indonesia. Innovesia memberikan pemahaman metode berpikir kreatif dan terstruktur dalam merancang solusi bisnis berbasis teknologi.
“Banyak orang mengira inovasi lahir dari kecanggihan teknologi atau fitur-fitur baru yang terlihat menarik. Padahal, kenyataannya inovasi sering gagal ketika kita lupa menanyakan apakah ini benar-benar relevan bagi manusia yang menggunakannya? Tanpa empati, inovasi hanyalah ilusi, indah dipandang, tetapi kosong manfaatnya,” kata Founder Innovesia, Fiter Bagus Cahyono dalam keterangannya, Selasa (16/9).
Dia menjelaskan, Design Thinking adalah pendekatan yang mengembalikan inovasi ke akarnya yakni manusia. Konsepnya yakni memahami masalah secara lebih dalam, melihat realitas dari sudut pandang orang lain, dan menemukan kebutuhan yang sesungguhnya.
“Lebih dari sekadar metodologi, Design Thinking adalah cara pandang baru: melihat dunia dengan mata empati, mendengarkan dengan hati, dan menciptakan dengan tujuan. Karena inovasi sejati bukan tentang seberapa rumit teknologi yang kita buat, tetapi seberapa dalam kita peduli pada manusia yang akan merasakan dampaknya,” tambahnya.
Sementara, Ketua Divisi Technopreneur IFEST 2025, Aisha Kinasih Susanto berharap sesi Design Thinking dapat membentuk cara berpikir yang lebih terstruktur dan berorientasi pada kebutuhan manusia. Dengan begitu, ide-ide yang lahir bukan hanya kreatif, tetapi juga mampu menyelesaikan masalah nyata di masyarakat maupun industri.
“Design Thinking sebagai salah satu pendekatan, yaitu karena metode ini berfokus pada pemahaman mendalam terhadap kebutuhan pengguna sebelum merancang solusi. Menurut kami, pemahaman Design Thinking penting karena dapat membantu peserta untuk melihat permasalahan dari sudut pandang pengguna. Pendekatan ini juga melatih pola pikir kreatif, kolaboratif, dan adaptif yang penting bagi seorang technopreneur,” ujar Aisha.