Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 14 Mei 2025 | 13.38 WIB

Tegas! BGN Bakal Stop Suplier Makanan ke Dapur MBG jika Terbukti jadi Sebab Siswa Keracunan

Siswa saat menyantap makanan pada program Makan Bergizi Gratis (MBG) di SDN 03 Jati Pulogadung, Jakarta. (Dery Ridwansah/ JawaPos.com) - Image

Siswa saat menyantap makanan pada program Makan Bergizi Gratis (MBG) di SDN 03 Jati Pulogadung, Jakarta. (Dery Ridwansah/ JawaPos.com)

JawaPos.com - Badan Gizi Nasional (BGN) secara tegas akan menyetop pasokan dari suplier bahan makanan ke dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) atau Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Itu dilakukan, apabila dari hasil pengecekan bahan makanan yang diterima SPPG terbukti jadi sebab para siswa penerima mengalami keracunan.

"Membeli bahan makanan kan itu dengan supplier ya. Nah dia harus cek supplier itu dari mana dia dapatnya. Kalau sumbernya itu dari bahan makanan, jadi bahan makanannya harus kita cek dari mana asal suppliernya," tegas Deputi Bidang Sistem dan Tata Kelola Badan Gizi Nasional, Tigor Pangaribuan dalam keterangannya, dikutip Selasa (13/5).

"Begitu kita tahu suppliernya maka kita akan berikan teguran ke supplier tersebut. Kalau dia tidak ada perbaikan kita stop supplier tersebut," sambung Tigor.

Sebelumnya, sederet kasus keracunan MBG terjadi di beberapa wilayah. Terakhir, terjadi di Kota Bogor dengan korban yang mencapai 223 orang.

Berdasarkan data yang dikeluarkan Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Bogor, korban dugaan keracunan MBG bertambah sembilan orang, dari sebelumnya sebanyak 214 orang. Dari ratusan korban dugaan keracunan MBG itu ada belasan orang yang hingga saat ini butuh penanganan medis dan masih dirawat di sejumlah rumah sakit.

Terdapat laporan 27 orang yang sudah selesai rawat inap, sehingga jumlah total yang masih berada di RS sebagai pasien rawat inap sebanyak 18 orang. Kasus keracunan MBG di Kota Bogor ini diketahui masih dalam proses Penyelidikan Epidemiologi (PE). Kegitan ini dilakukan di 13 sekolah.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Bogor, Sri Nowo Retno, mengatakan, PE dilakukan guna mencari sumber permasalahan yang mengakibatkan ratusan orang terbaring sakit. Ini didapati dengan menguji sampel makanan.

"Pengambilan sampel air minum isi ulang sebanyak dua liter, mengambil sampel usap tray sebanyak satu buah, sampel usap wadah makanan sebanyak satu buah dan sampel usap dubur penjamah makanan sebanyak dua orang," ujarnya.

Editor: Estu Suryowati
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore