Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 5 April 2025 | 20.06 WIB

Tarif Ekspor ke AS Bisa Lebih Rendah dari 32 Persen jika Industri Tekstil Indonesia Lakukan Hal Ini

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump umumkan tarif impor baru ke berbagai negara (Dok. Reuters/Carlos Barria) - Image

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump umumkan tarif impor baru ke berbagai negara (Dok. Reuters/Carlos Barria)

JawaPos.com - Asosiasi Produsen Serat & Benang Filamen Indonesia (APSyFI) mengungkap skenario yang bisa dilakukan untuk menghadapi pemberlakuan tarif resiprokal 32% yang dikenakan Amerika Serikat (AS) terhadap Indonesia. 

Ketua Umum APSyFI, Gita Wirawasta, menjelaskan, ekspor tetap bisa dilakukan dengan tarif rendah jika menggunakan minimal 20% bahan baku industri tekstil dari AS. Hal ini tentu berdampak pada tarif resiprokal yang akan berkurang dari angka 32%.

“Ekspor ke AS masih tetap bisa dilakukan dengan tarif rendah jika kita menggunakan minimal 20% bahan baku dari AS,” kata Gita dalam keterangannya, Jumat (4/4).

“Mengingat AS tidak bisa menyediakan benang dan kain, maka dalam hal ini Indonesia harus lebih banyak menggunakan kapas AS yang dapat dikombinasikan dengan serat polyester dan rayon yang dipintal dan dirajut di dalam negeri, sehingga akan memperbaiki kinerja TPT (industri tekstil dan produk tekstil) nasional secara keseluruhan dari hulu sampai hilir dan sekaligus menekan laju importasi barang jadi,” imbuh dia.

Dalam keadaan normal, industri TPT Indonesia mengonsumsi sekitar USD 600 juta kapas dari AS. Namun, Indonesia justru mengimpor benang, kain dan garmen senilai USD 6,5 Miliar dari Tiongkok.

Menurutnya, hal ini tentu mematikan industri TPT dalam negeri karena terdapat persaingan yang tidak sehat, yang berujung mengakibatkan utilisasi mesin produksi hanya berada di angka 45%. 

“Karena itu kami mendorong pemerintah melakukan negosiasi reciprocal dengan AS agar kita bisa mengimpor lebih banyak kapas sebagai trade off sekaligus mendorong importasi produk-produk AS yang tidak dapat kita produksi,” jelas dia.

Sementara itu, jika industri dalam negeri menggunakan lebih banyak kapas dari AS, tetapi proses pemintalan hingga perajutan tetap dilakukan di Indonesia, maka penggunaan bahan baku minimal 20% dari AS tersebut akan mudah tercapai.

"(Komposisi) bahan baku sekitar 60%. Kalau bahan bakunya dapat dari AS, kapas dicampur dengan polyester, berarti (bahan baku dari AS) sudah 25%. Jadi kita sudah pasti dapat pengurangan bea masuk dari AS," tutup Gita.

Editor: Kuswandi
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore