
TAMBAHAN SYARAT BEPERGIAN: Para calon penumpang pesawat mengantre di depan konter check-in. Kemenhub menerapkan persyaratan tes PCR mulai Minggu (24/10). (Dipta Wahyu/Jawa Pos)
JawaPos.com - PT Bio Farma (Persero) menjelaskan secara rinci terkait struktur yang menentukan harga tes PCR yang selama ini dipertanyakan oleh masyarakat luas dan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). Direktur Utama PT Bio Farma (Persero) Honesti Basyir mengungkapkan, komponen terbesar dalam struktur harga tes PCR reagen adalah biaya produksi dan bahan baku, yaitu 55 persen.
Namun struktur harga juga bisa beragam tergantung dari labolatorium serta dari bisnis model yang dilakukan. "Struktur cost ini banyak dipertanyakan oleh masyarakat, banyak juga ditanyakan oleh anggota," ujarnya dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) Komisi VI DPR RI, Selasa (9/11).
Pihaknya memaparkan, komponen yang membentuk harga reagen tes PCR diantaranya, biaya produksi dan bahan baku 55 persen, biaya operasional 16 persen, biaya distribusi 14 persen, royalti 5 persen, margin atau keuntungan 10 persen.
"Ini adalah struktur cost yang dilakukan, kami ambil contohnya dari lab diagnostik yang ada di Bio Farma sendiri. Tapi mungkin nanti dari Kimia Farma dan Indofarma yang mereka memiliki labolatorium yang jauh lebih besar mungkin juga akan memberikan gambaran yang sedikit berbeda," tambahnya.
Dalam dokumen yang dipaparkan, pada Agustus 2020 hingga Januari 2021 atau berlangsung selama 5 bulan, perseroan sudah mampu mendorong kompetitor menurunkan harga reagen PCR yang berkisar Rp400 ribu hingga Rp800 ribu per tes. Saat itu menggunakan produksi Biocov (Singleplex) dengan kapasitas produksi yang masih sedikit.
Selanjutnya pada September 2020, harga alat tes PCR yang dijual Bio Farma sudah berhasil diturunkan hingga seharga Rp250 ribu. Mulai akhir 2020, perseroan melakukan inovasi produk menjadi Mbiocov Multiplex.
Pada Agustus 2021, harga alat tes PCR Bio Farma kini semakin turun menjadi Rp113.636. Saat itu, Bio Farma mulai melakukan peningkatan kapasitas produksi dengan mengoperasikan fasilitas eks Flu Burung untuk produksi reagen PCR kit.
Hingga Oktober 2021, harga alat tes PCR produksi Bio Farma kembali turun menjadi Rp90 ribu pada Oktober 2021. Dengan harga yang relatif terjangkau harapannya dapat membuat permintaan meningkat.
Selain itu, Bio Farma juga dapat mengoptimalkan kapasitas produksi sampai dengan 5 juta per bulan. Menurutnya, semakin banyak suplai dalam negeri harga tes PCR dapat diturunkan hingga ke level tertentu.

Bocor! Alasan Brian Uriarte Tetap P4 Meski Crash di Moto3 Hungaria 2026, Bikin Veda Ega Pratama Finis P16
Viral! Diduga Dana Operasional Belum Cair, Sejumlah SPPG Mogok Operasional Mulai 8 Juni 2026
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Shin Tae-yong Bajak Staf Persebaya Surabaya, Gerbong Eks Timnas Indonesia Bisa Diboyong ke Persija Jakarta
Apa Itu Weton Tibo Pati dan Siapa Saja yang Mendapatkan Julukan Ini? Simak Misteri di Balik Nasib Weton Tibo Pati
BREAKING NEWS! Persija Jakarta Resmi Tunjuk Shin Tae-yong sebagai Pelatih Baru
Menebak Ranking FIFA Timnas Indonesia Selanjutnya Jika Menang Lawan Mozambik
Melihat 10 Besar Penjualan Mobil Mei 2026: Jaecoo Kuasai Brand Tiongkok, Tak Ada Nama BYD
Prediksi Piala Dunia 2026: Sejarah Sebut Hanya 5 Tim Lolos Semua Kriteria Juara, Belanda Masuk Daftar
Sudah Setor Total Rp 117 Miliar tapi Rumah Tak Kunjung Jadi, Konsumen Emeralda Resort Polisikan Yana Priatna
