
Mesin pelorot lilin mampu meningkatkan produksi batik hingga 20 persen dibandingkan 2018. (ist)
JawaPos.com - Meningkatnya tren penggunaan batik membuat permintaannya ikut terkerek. Produksi dengan cara manual sudah tidak mampu untuk memenuhi permintaan pasar.
Melihat fakta itu, tim dosen Universitas Wijaya Putra (UWP) Surabaya yang terdiri dari Nugroho Mardi Wibowo, Siswadi, dan Yuyun Widiastuti serta dibantu Karsam, salah satu dosen Institut Bisnis dan Informatika STIKOM Surabaya melakukan diskusi. Mereka ingin membantu UKM Batik Jombang meningkatkan produksi secara modern.
"Kami menilai produksi cara manual membuat produksi batik melambat. Kami berpikir untuk memodernkan alat produksi batik," kata Nugroho Mardi Wibowo, tim pembuat mesin pelorot lilin modern dalam keterangan resminya, Jumat (2/8).
Nugroho mengatakan, kalau alat ini diuji coba pada kegiatan di UKM Tulis New Colet milik Sutrisno. UKM ini berada di Desa Jatipelem Kecamatan Diwek Kabupaten Jombang, Jawa Timur.
Dengan menggunakan mesin ini, UKM mampu meningkatkan produksi batik hingga 20 persen dibandingkan 2018. Tahun lalu, produksi Batik Tulis New Colet sebanyak 1.756 potong. Sedangkan tahun ini produksinya diperkirakan mencapai 2.107 potong.
Produksi Batik Tulis New Colet terus mengalami peningkatan, dari 1.240 potong pada 2015 menjadi 1.410 potong pada 2016 (naik 13,71 persen). Kemudian naik lagi menjadi 1.570 potong pada 2017 (naik 11,35 persen), dan menjadi 1.756 potong pada 2018 (naik 11,85 persen).
"Jadi, permintaan banyak, UKM ini sampai tidak mampu memenuhinya. Makanya kami memberikan solusi dengan membuat mesin tepat guna yang digarap secara modern," ujarnya.
Terobosan ini dinilai sangat tepat, karena saat ini batik sudah menjadi produk fesyen yang berakar dari budaya Indonesia dan memiliki prospek bisnis yang menjanjikan. Bahkan banyak daerah di Indonesia mulai mengembangkan motif batik sesuai dengan ciri khas daerahnya masing-masing. Jombang salah satu kabupaten yang mengangkat batik sebagai ikon.
Namun dalam perjalanan pengembangan produk batik Jombang, muncul masalah-masalah dikalangan pengrajin. Di antarannya kapasitas produksi belum bisa memenuhi peningkatan permintaan pasar.
Selain itu, motif batik Jombang dinilai juga belum menarik dan variatif. "Atas dasar itulah Tim Dosen dari Universitas Wijaya Putra (UWP) melakukan kegiatan pengabdian masyarakat melalui Program Pengembangan Produk Unggulan Daerah (PPPUD) yang didanai oleh Ditjen Penguatan Riset dan Pengembangan Kemenristekdikti," tegas Nugroho.
Sementara untuk mengembangkan motif menjadi lebih baik, Nugroho menegaskan timnya melakukan pelatihan dan pengembangan desan motif batik berbasis kearifan lokal Jombang. "Ada delapan motif baru yang dihasilkan batik tulis maupun cap. Bahkan dua motif di antaranya mendapatkan hak cipta dari Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual Kementerian Hukum dan HAM dengan nomor sertifikat 000146523 dan 000146332. Kami sangat bangga dengan ini semua," pungkasnya.

Kasus Hantavirus di Indonesia, Kemenkes: Saat ini Ada 2 Kasus Suspek di Jakarta dan Yogyakarta
14 Spot Gudeg di Bandung dengan Cita Rasa Khas Yogyakarta yang Autentik dan Menggugah Selera
Jadwal Persipura vs Adhyaksa FC Play-Off Promosi Super League, Siaran Langsung, dan Live Streaming
10 Batagor Terenak di Bandung dengan Bumbu Kacang Istimewa, Kuliner Murah Meriah dengan Rasa Premium
Pertandingan Perpisahan Bruno Moreira? Kapten Persebaya Surabaya Kirim Sinyal Emosional Jelang Lawan Persis Solo
12 Kuliner Tahu Campur Paling Enak di Surabaya dengan Kuah Petis Kental yang Selalu Jadi Favorit Warga Lokal hingga Wisatawan
11 Kuliner Gudeg Paling Recomended di Surabaya dengan Harga Murah Meriah Tapi Rasa Tidak Murahan
15 Oleh-oleh Paling Ikonik dan Khas dari Kota Surabaya, Rasanya Autentik dan Tiada Duanya, Wajib Kamu Bawa Pulang!
7 Hidden Gem Kuliner Sunda di Bogor yang Enak dan Wajib Dicoba, Suasana Asri dan Menunya Autentik
12 Rekomendasi Kuliner Malam di Surabaya dengan View Terbaik untuk Nongkrong Santai dan Pemandangan yang Memukau
