
Pementasan Monolog Cut Nyak Dhien di Taman Budaya Sumut (TBSU), Selasa (29/8) malam
JawaPos.com - Pentas seni monolog digelar di Taman Budaya Sumatera Utara (TBSU), Jalan Perintis Kemerdekaan, Kota Medan, Selasa (29/8) malam. Monolog itu berkisah tentang kehidupan Cut Nyak Dhien. Mulai dari dipaksa menikah saat usia 12 tahun dengan Teuku Ibrahim hingga harus menjanda dua kali.
Hidup sendiri bukan alasan bagi Cut Nyak Dhien menjadi rapuh. Dia justru bangkit. Hingga memimpin pasukan perang di Tanah Rencong, Aceh. Teerakhir, dia ditangkap Belanda dan kemudian diasingkan di Jawa Barat. Cut bertahan hidup dengan kondisi yang miris. Badannya sakit. Tapi tak ada keluhan yang keluar dari mulutnya.
Sosok Cut Nyak Dhien diperankan aktris Sha Ine Febriyanti. Di atas panggung, Ine seperti kerasukan Cut Nyak Dhien. Dia begitu total memerankannya. Mulai dari gerakan hingga logat Aceh yang cukup kental.
Ine mengenalkan cerita Cut Nyak Dhien sebagai bentuk semangat. Dia ingin Cut Nyak Dhien menjadi inspirasi. “Berangkat dari hal itu, saya tergerak untuk berbagi talenta di bidang seni pertunjukan dengan mengadakan roadshow yang menghadirkan Pentas Monolog Cut Nyak Dhien dan mengadakan workshop atau diskusi di sepuluh kota di Indonesia,” kata Ine.
Monolog Cut Nyak Dhien sudah 19 kali dipentaskan. Tanggapannya beragam. Mulai dari banyak diapresiasi hingga penonton yang hanya 50 orang. Di Kota Medan, ruangan teater padat. Ada seribuan lebih penonton yang datang. Semuanya memberikan apresiasi. Tepuk tangan bergemuruh diakhir pementasan.
Namun, Ine tak peduli lagi soal itu. Dia hanya ingin menyampaikan pesan semangat perjuangan perempuan. Pementasan sudah digelar sejak April lalu di Gianyar, Bali. “Kami belajar tentang keberanian, prinsip serta perlawanan sekuat-kuatnya dan tak henti dari sosok Cut Nyak Dhien,” ujarnya.
Bagi Ine, sosok Cut Nyak Dhien cukup berat diperankan. Dia harus belajar banyak. Bahkan harus fasih berlogat Aceh. "Terserah penontonnya mau ribuan orang ataupun sedikit. Yang penting mereka merasakan spirit yang sama dengan kami," katanya.
Ine melakukan serangkaian persiapan sebelum pementasan. Dari berpuasa hingga mengelilingi teater sebelum tampil. "Mengelilingi tempat pementasan itu proyeksi ruang. Jadi saya menyisir ruang. Saya merasakan ruangan itu. Saya mengenal ruang. Sepertinya di situ kami baru bisa merasakannya. Selain itu, saya berdoa bersama para pemeran lainnya," tandasnya.

Pertandingan Perpisahan Bruno Moreira? Kapten Persebaya Surabaya Kirim Sinyal Emosional Jelang Lawan Persis Solo
11 Kuliner Gudeg Paling Recomended di Surabaya dengan Harga Murah Meriah Tapi Rasa Tidak Murahan
Mengenal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026: Aturan, Materi, dan Ambang Batas
10 Batagor Terenak di Bandung dengan Bumbu Kacang Istimewa, Kuliner Murah Meriah dengan Rasa Premium
Prediksi Skor Bayern Munchen vs PSG: Siapa yang akan Bertemu Arsenal di Final Liga Champions?
14 Spot Gudeg di Bandung dengan Cita Rasa Khas Yogyakarta yang Autentik dan Menggugah Selera
7 Hidden Gem Kuliner Sunda di Bogor yang Enak dan Wajib Dicoba, Suasana Asri dan Menunya Autentik
13 Gudeg Paling Enak di Solo dengan Harga Terjangkau, Rasa Premium, Cocok untuk Kulineran Bareng Keluarga!
12 Rekomendasi Kuliner Malam di Surabaya dengan View Terbaik untuk Nongkrong Santai dan Pemandangan yang Memukau
Prediksi Skor Bayern Munchen vs PSG: Sejarah Die Roten Selalu Lolos dari Semifinal Liga Champions, Masih Dominan Lawan Klub Ligue 1
