
Wajah megah Stadion Palaran, Samarinda, Kalimantan Timur, yang kini tak terawat.
JawaPos.com - Sudah hampir tiga tahun terakhir perawatan Stadion Utama Palaran, sangat minim. Kerusakan fasilitas nampak di sejumlah sisi stadion.
Kondisi ini sangat ironis, sebab ia pernah menjadi ikon kebanggaan Benua Etam. Sepuluh tahun lalu saat Kalimantan Timur (Kaltim) menjadi tuan rumah penyelenggaraan Pekan Olahraga Nasional (PON), pemerintah sangat bersemangat membangun stadion utama ini.
Kemarin Rabu (23/5), Kaltim Post (Jawa Pos Grup) mendatangi kompleks olahraga yang dilengkapi sejumlah fasilitas olahraga berstandar internasional itu. Ironisnya, ketika memasuki kompleks stadion, koran ini sudah disambut dengan jalan yang rusak. Bahkan tergenang air berwarna kecokelatan.
Akses menuju stadion yang tersusun dari paving block tertutup rumput liar. Sehingga riskan untuk dilewati pengendara motor atau mobil. Kondisi tak jauh beda juga dapat disaksikan ketika memasuki tribune stadion.
Jika diperhatikan, kursi tribune dengan kapasitas 67 ribu penonton itu berwarna dasar biru, hijau, dan kuning. Namun, kini tampak memudar. Bahkan, kursi juga ditumbuhi rumput liar.
Tidak hanya itu, kursi tampak berlumut dan rusak. Kondisi itu diduga sudah bertahun-tahun dibiarkan begitu saja tanpa perawatan. Sehingga tidak layak digunakan.
Di sudut bangunan stadion, banyak tanaman liar yang hidup dan tumbuh. Tentu merusak kemegahan, apalagi warna dinding juga tak elok dipandang. Sebab, telah berubah warna menjadi kehijau-hijauan karena lumut yang menempel.
Padahal, selain PON 2008, stadion yang dibangun dengan anggaran hampir Rp 1 triliun itu pernah menggelar kejuaraan sepak bola Piala Gubernur Kaltim, Februari lalu.
Menurut Kepala Pengelola Stadion Utama Palaran Hasbar, sejak dua tahun terakhir, anggaran hanya dialokasikan untuk perawatan lanskap stadion. "Termasuk perawatan rumput dan taman stadion," kata Hasbar dikutip dari Kaltim Post (Jawa Pos Grup), Kamis (24/5).
Meski begitu, Hasbar tak menampik masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan. Terutama membersihkan rumput liar di area stadion. "Perawatan lanskap sudah terjadwal untuk seluruh area stadion. Tetap saja kami terkendala anggaran," katanya.
"Apalagi pekerja hanya berjumlah 10 orang. Sementara kompleks stadion memiliki seluas 88 hektare," keluh Hasbar.
Dia juga tak tahu sampai kapan kerusakan fasilitas stadion tersebut bisa diperbaiki. Hal itu mengingat keuangan daerah juga belakangan lagi minim.
"Tiga tahun lalu ada pengecatan. Tapi tidak menyentuh seluruh bangunan," imbuhnya.
Sementara itu, Kepala Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Stadion Palaran Ednandar S Samad menambahkan, perawatan terakhir dilakukan pada 2016. Namun sampai sekarang tidak ada anggaran pemeliharaan khusus untuk stadion.
"Apalagi anggaran sebelumnya kecil. Terakhir perbaikan gedung serbaguna serta gedung lain hanya Rp 900 juta. Jelas kurang untuk mencakup seluruh area stadion," ucapnya.

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
11 Rekomendasi Gudeg Terenak di Jakarta, Kuliner Manis yang Tak Kalah Legit Seperti di Jogjakarta
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
12 Tempat Makan Legend di Bandung yang Wajib Dicoba, Ada yang Sudah Berdiri Sejak Zaman Belanda!
Tanpa Eliano Reijnders dan Luciano Guaycochea! Prediksi Susunan Pemain Bhayangkara FC vs Persib Bandung
11 Kuliner Malam Surabaya Paling Enak dan Legendaris untuk Kamu yang Sering Lapar Tengah Malam
