Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 21 Mei 2023 | 03.12 WIB

Polemik Panjang di Jombang, Ini Tanggapan Lengkap Ketua Umum PBNU

Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf menyampaikan sambutan di acara pelantikan PCNU Jombang masa khidmah 2023-2024, Sabtu (20/5). - Image

Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf menyampaikan sambutan di acara pelantikan PCNU Jombang masa khidmah 2023-2024, Sabtu (20/5).

JawaPos.com- Jajaran Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Jombang masa khidmah 2023-2024 yang ditunjuk PBNU, Sabtu (20/5) akhirnya dilantik. Pelantikan itu dihadiri pengurus inti PBNU. Di antaranya, Rais Aam KH Miftakhul Ahyar, Katib Aam KH Ahmad Said Asrori, Ketua Umum KH Yahya Cholif Staquf, Sekjen Saifullah Yusuf, dan Bendahara Umum Gudfan Arif.

Hadir juga di acara halalbilahal dan pelantikan di Gedung Serbaguna PCNU Jombang itu antara lain Bupati Jombang Munjidah Wahab dan beberapa pejabat pemkab, serta jajaran perwakilan Forkopimda Jombang. 

Kepengurusan PCNU Jombang sempat vakum hampir setahun. Hingga terbentuk pengurus karteker, pelaksanaan konferensi cabang (Konfercab) tidak terlaksana. Akhirnya, PBNU langsung menunjuk pengurus definitif. Namun, masa tugasnya terbatas. Jika normalnya 5 tahun, mereka hanya setahun. Tugas utamanya adalah menyiapkan pelaksanaan Konfercab.

Sesuai Surat Keputusan (SK) PBNU yang berlaku mulai 8 Mei 2023 hingga 8 Mei 2024 itu ditunjuk sebagai ketua tanfdziah PCNU Jombang adalah KH Fahmi Amrullah Hadzik dan Sekretaris A.H. Hamdah. Adapun Rais Syuriah KH Achmad Hasan dan Katib Syuriah Dr KH Sholahudin Faturrahohman. Namun, belakangan katib syuriah memilih mundur.  

Sebelumnya, pelantikan PCNU Jombang itu menuai polemik dari sejumlah pihak. Beberapa gus, tokoh, dan warga Nahdliyyin, mengirimkan surat terbuka ke PBNU. Mereka menolak penunjukkan pengurus tersebut. Salah satunya lantaran pengurus tidak dipilih melalui Koncercab sebagaimana mestinya.

Dinamika yang terjadi di PCNU Jombang tersebut mendapat atensi luas. Maklum, Jombang tidak lain tempat lahir tiga muassis (pendiri) NU. Yakni, Hadratussyaikh KH Hasyim Asyari (Tebuireng), KH Wahab Chasbullah (Tambakberas), dan KH Bisri Syansuri (Denanyar). Nah, soal dinamika itu juga mendapat respons dari para petinggi PBNU. Termasuk dari Ketua Umum KH Yahya Cholil Staquf. Berikut sambutan lengkap Gus Yahya, panggilan akrab KH Yahya Cholil Staquf:

Memang pantas orang rebutan berkhidmah di Nahdlatul Ulama. Dari dulu memang keadannya begitu. Karena orang sudah tahu bahwa Nahdlatul Ulama itu tempatnya barokah, dari dulu itu sudah tahu. Maka, ya nggak ada kaget-kagetnya sedikit pun kalau kita melihat orang-orang berebut ingin berkhidmah kepada Nahdlatul Ulama. Siapa yang tidak kemecer melihat barokah raksasa seperti Nahdlatul Ulama. Pasti kepengen berkhidmah.

Nah, saya kira kalau tadi Sekjen telah menceritakan sedikit dinamika yang terjadi di cabang NU Kabupaten Jombang, ini sebetulnya gambaran dari keinginan banyak orang untuk berkhidmah di NU. Maka, bapak-ibu sekalian, khususnya kepada pengurus cabang yang baru dilantik, dan kepada MWC serta pengurus ranting yang hadir di sini, saya gunakan kesempatan untuk mengingatkan kembali bahwa kita semua berada di sini untuk berkhidmah. Kita semua berada di sini untuk berkhidmah. Bukan mencari untung sendiri. Bukan mencari keunggulan bagi diri kita atau kalangan tertentu saja. Tetapi kita semua ingin berkhidmah karena mengharapkan barokah dari Nahdlatul Ulama.

Tadi, Sekjen menyebut-nyebut tentang soal mundur dari pengurus, misalnya. Kalau mau mundur silakan. Saya harap ini tidak terjadi. Karena kita bukan mau rebutan kekuasaan. Kita di sini bukan mau rebutan kekuasaan. Menjadi ketua tanfidziah cabang itu, Gus Fahmi, tidak berarti nanti otomatis bisa menjadi calon bupati. Sekjen saja tadi sudah usul supaya tadi calon bupati tetap katanya. Karena Nahdaltul Ulama itu bukan soal kekuasaan. Nahdlatul Ulama ini wahana untuk berkhidmah. Bukan untuk menggalang kekuasaan.

Maka, kalau kemarin-kemarin mungkin, mungkin ada cerita, ada cerita yang arahnya seolah-olah bahwa dinamika yang terjadi di Jombang ini soal menggalang kekuasaan, saya tegaskan di sini tidak sama sekali. Tidak ada sama sekali. Kalau ada orang yang menuduh bahwa PBNU membuat langkah-langkah terkait cabang Jombang ini dengan motivasi-motivasi politik dan kekuasaan, saya kira yang membuat cerita itu sendiri yang sebetulnya sedang mencari jalan untuk menggalang kekuasaan untuk diri mereka sendiri.

Karena persis yang hendak kita lakukan adalah membangun khidmah. Nah, ini ada beberapa hal yang ingin kita sampaikan terkait dengan ini bapak-ibu sekalian. NU ini dijalankan atas dua landasan dasar. Yang pertama, landasan-landasan yang sifatnya merupakan aturan-aturan tertulis. Yang kemudian kita sebut sebagai landasan konstitusional. Ada Anggaran Dasar, Anggaran Rumah Tangga. Ada Peraturan-Peraturan Perkumpulan, ada Peraturan PBNU, dan lain sebagainya. Aturan-aturan tertulis.

Sejak awal sudah saya tegaskan bahwa kepengurusan ini harus kita jalankan dengan berdisiplin. Mengikuti aturan-aturan yang ada itu. Tidak perlu membuat kompromi-kompromi. Apa yang ada, aturan yang sekarang ada itu mari kita jalani saja, sejak awal sekali. Sejak awal PBNU dilantik, saya langsung menegaskan hal itu. Maka, semua yang dijalankan PBNU ini persis secara disiplin mengikuti aturan-aturan yang ada.

Tapi, bapak-ibu sekalian, Nahdlatul Ulama ini juga berjalan atas landasan tradisi. Yang oleh Rais Aam dibahasakan sebagai thariqah. Di dalam tradisi itu, di dalam thariqah itu sebagai bagian di dalamnya adalah penghormatan kita kepada para ulama, kepada para kiai, sebagai penuntun jalannya organisasi. Maka, ya harus kita perhatikan sungguh apa yang menjadi pemikiran, apa yang menjadi keprihatinan, apa yang menjadi wawasan, keinginan dari para kiai ini. Karena pada dasarnya, Nahdlatul Ulama ini yang diajak Hadratussyaikh untuk ikut bergabung dalam Nahdlatul Ulama ya para ulamanya.

Editor: M Sholahuddin
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore