
Tim gabungan lakukan proses pencarian dan evakuasi terhadap pekerja yang tertimbun longsor tambang galian C di Argasunya Cirebon, Rabu (18/6). (Fathnur Rohman/Antara)
JawaPos.com - Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi membahas kebijakannya mengenai pembersihan daerah aliran sungai, membongkar sejumlah bangunan, serta menutup tambang ilegal di wilayah Jabar. Dia menegaskan bahwa apa yang dilakukan selalu memiliki tujuan.
Seperti diketahui, Dedi Mulyadi memang sempat menertibkan bangunan liar, khususnya yang berada di sekitar bantaran sungai.
Bahkan, eks Bupati Purwakarta ini juga sempat melakukan penutupan terhadap tambang ilegal dan tambang yang melanggar meskipun telah memiliki izin.
Tentunya, langkah tersebut menuai banyak tanggapan. Ada pihak yang mendukung, dan terdapat pula yang kontra dengan kebijakan Dedi.
"Saya sampaikan ya, bahwa kebijakan-kebijakan saya mengenai pembersihan daerah-daerah aliran sungai membongkar bangunan itu semuanya untuk kepentingan masa depan," kata Dedi, dikutip dari akun Instagram @dedimulyadi71, Minggu (22/6).
Namun, Dedi menjelaskan bahwa dia selalu memberikan solusi terhadap setiap kebijakan yang dilakukannya.
“Solusinya kalau jumlahnya hanya puluhan saya bisa cepat memberikan pembiayaan karena itu berasal dari uang yang saya miliki," jelas Dedi Mulyadi.
Hanya saja, jika jumlahnya ratusan, Dedi akan mencari mitra untuk memberikan bantuan dari BJB Peduli serta Baznas Provinsi Jawa Barat. Tujuannya untuk meringankan warga yang mengalami perubahan pola hidup dari bantaran sungai ke tempat kontrakan.
Tak hanya mengenai kebijakan pembongkaran bangunan di bantaran sungai, pria yang akrab disapa Kang Dedi Mulyadi atau KDM ini juga berbicara mengenai kebijakannya dalam penutupan tambang di Jawa Barat.
"Banyak juga yang berteriak-teriak bahwa penutupan tambang menimbulkan pengangguran, kami menderita. Lupa ya, tambang ilegal itu merusak jalan, merugikan negara ratusan miliar bahkan triliun. Dan lupa juga tambang-tambang yang anda keruk itu menimbulkan sedimentasi sungai," tegas Dedi.
Alhasil, banyak petani yang terdampak aktivitas tambang. Seperti kehilangan waktu bercocok tanam lantaran sungai dan sawahnya kering.
Hanya saja, para petani menurut Dedi Mulyadi memilih diam, tak punya akses, dan tak berteriak-teriak, sehingga Dedi akan membela mereka yang selama ini diam dan dizolimi.
"Mereka (petani) tidak mengkonsolidir diri dalam bentuk lembagaan, mereka tidak bisa maju karena takut terhadap intimidasi ancaman siapapun yang sering menjadi back up tambang ilegal," jelas Dedi.
Karena itu, Dedi berjanji tak akan pernah takut menghadapi siapapun dan tegas bergerak mengembalikan alam Jawa Barat seperti sediakala.
“Bukan milik perorangan, tapi milik seluruh rakyat, milik seluruh warga negara. Dan alamnya bukan hanya untuk kita, tapi untuk anak cucu kita ke depan," imbuh Dedi.

Prediksi Susunan Pemain Timnas Portugal vs RD Kongo: Vitinha Incar Gol Pertamanya
Bocor ke Publik! 2 Alasan Krusial Ramadhan Sananta Mau Gabung ke Persebaya Surabaya
Apa Itu Weton Tibo Pati dan Siapa Saja yang Mendapatkan Julukan Ini? Simak Misteri di Balik Nasib Weton Tibo Pati
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
Daftar Pemain Ghana dan Panama di Grup L Piala Dunia 2026
Prediksi Skor Austria vs Yordania di Piala Dunia 2026: Debut Bersejarah Wakil Asia Terancam di Laga Pertama
Sudah Masuk KBLI, Konten Kreator Didorong Punya NIB untuk Perkuat Legalitas
TVRI Hilang? Begini Cara Memunculkan Sinyal TVRI untuk Nonton Piala Dunia 2026 Gratis
Prediksi Skor Timnas Portugal vs RD Kongo, Duel Pembuka Grup K Piala Dunia 2026 yang Sarat Ambisi
Foto Prabowo-Gibran Dipasang di Salib Merah saat Demo di Monas, PMKRI: Simbol Dua Pendosa
