
ANTRE KELUAR: Penumpang pengguna sepeda motor menunggu giliran keluar dari kapal di Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi, Rabu (19/4).
JawaPos.com – Sesuai prediksi, puncak arus mudik penyeberangan Jawa–Bali terjadi Rabu (19/4). Sedangkan peningkatan arus kendaraan masih berlangsung di jalur darat di wilayah Jatim. Diperkirakan, situasi itu terjadi hingga menjelang hari H Lebaran mendatang.
Di Pelabuhan ASDP Ketapang, sejak Selasa (18/4) hingga Rabu (19/4), tercatat 52.104 orang dan 16.531 kendaraan menyeberang dari Bali. Pantauan Jawa Pos Radar Banyuwangi, jumlah pemudik mengalami peningkatan signifikan. Ratusan kendaraan, baik roda empat maupun roda dua dari Gilimanuk, Bali, memenuhi dermaga sejak Selasa malam.
Salah seorang pemudik Sarwo, 55, harus menunggu sampai enam jam sebelum akhirnya bisa terangkut kapal. ”Saya sampai depan Pelabuhan Gilimanuk jam 12 malam, baru naik kapal jam 6 pagi,” ujar pemudik asal Solo tersebut.
Akibat situasi itu, pihak pelabuhan mengoperasikan kapal tambahan, yakni KMP Jatra II, untuk mengurai kepadatan kendaraan dan penumpang. Koordinaurtor BPTD Jatim Wilayah Ketapang Rocky Surentu menambahkan, KMP Jatra II akan terus beroperasi sampai jumlah penumpang di Gilimanuk terurai. ”KMP Jatra II hanya bertugas memuat kendaraan dari Gilimanuk,” ucapnya.
Peningkatan arus kendaraan juga terlihat di jalur darat, termasuk di ruas-ruas tol. Seperti di ruas Ngawi-Solo–Kertosono. Terjadi kenaikan jumlah kendaraan masuk Jatim sebesar 10 persen.xq
Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Muhadjir Effendy memantau arus lalu lintas di tol tersebut. Dia meminta pengelola tol di Jatim menambah papan peringatan di sejumlah titik.
Sebab, papan peringatan itu sangat penting. Sebab, angka kecelakaan lalu lintas di tol akibat pengendara lelah atau mengantuk mendominasi. ”Terlebih, di wilayah Jawa Timur tertinggi setelah Jawa Tengah dan Jawa Barat,” tuturnya.
Pemudik yang melintas di wilayah Jatim diminta waspada. Sebab, cukup banyak jalur mudik yang rawan mengalami bencana alam serta kemacetan.
Untuk mempermudah pemantauan secara mandiri, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jatim meluncurkan peta jalur mudik. Layanan tersebut bisa diakses secara real time melalui s.id/petamudik atau smartpb.bpbd.jatimprov.go.id/dasbor.
Di sana situasi jalur-jalur utama terkini bisa diketahui. Rabu (19/4), misalnya, ada tiga bencana yang terpantau dalam peta. Yakni, angin kencang di wilayah Jombang serta bencana longsor dan pohon tumbang di Malang.
Kepala Pelaksana BPBD Jatim Gatot Soebroto menjelaskan, peta mudik dibuat karena masih tingginya potensi bencana hidrometeorologi di Jatim. ”Kami membuat peta mana saja daerah yang rawan,” ujarnya kepada Jawa Pos Rabu.
Tujuannya, ketika melintas di dekat area bencana, pemudik bisa menyiapkan antisipasi. ”Atau, jika ada potensi macet, pemudik bisa menghindar dan mencari jalur alternatif,” katanya.
Khusus untuk daerah potensi bencana banjir dan longsor, BPBD Jatim telah membuat petanya. Tercatat 38 kabupaten/kota berpotensi mengalami bencana tersebut. ”Kami menyiapkan posko di sejumlah wilayah,” paparnya. (elo/mg3/sat/c9/ris)

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
Sempat Di-blacklist Koramil, Pembangunan Koperasi Merah Putih di Tuban Dikawal Babinsa
Kecelakaan Kereta dan KRL di Bekasi Timur, KAI Fokus Evakuasi Para Korban
11 Rekomendasi Gudeg Terenak di Jakarta, Kuliner Manis yang Tak Kalah Legit Seperti di Jogjakarta
Terkendala Lahan dan Faktor Teknis, 7 Koperasi Merah Putih di Sukoharjo Jawa Tengah Belum Dibangun
