Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 1 Agustus 2024 | 19.54 WIB

PJ Gubernur Jabar Bey Triadi Machmudin Minta Label Khusus Minuman Kemasan Antisipasi Cuci Darah

Penjabat Gubernur Jawa Barat Bey Triadi Machmudin. (Ricky Prayoga/Antara) - Image

Penjabat Gubernur Jawa Barat Bey Triadi Machmudin. (Ricky Prayoga/Antara)

JawaPos.com–Penjabat (Pj) Gubernur Jawa Barat Bey Triadi Machmudin mendesak Kementerian Kesehatan dan pihak terkait segera menerapkan label khusus pada makanan dan minuman kemasan. Hal itu guna mencegah munculnya lonjakan kasus anak cuci darah yang angkanya terdeteksi tinggi.

Menurut Bey, dengan ditandatanganinya Peraturan Pemerintah 28 Tahun 2024 tentang Peraturan Pelaksanaan Undang-undang Nomor 17 Tahun 2023 tentang Kesehatan oleh Presiden Joko Widodo, Kementerian Kesehatan bisa segera menindaklanjuti dengan langkah menerapkan penandaan khusus pada makanan dan minuman. Terutama terkait kandungan gula, garam, dan lemak (GLG).

”Saya berharap Kemenkes segera menerapkan penandaan pada makanan dan minuman kemasan terkait GLG, seperti obat berbahaya itu tandanya merah, yang aman tandanya hijau, supaya memberikan kepastian pada masyarakat terutama menyikapi tingginya kasus anak cuci darah,” kata Bey seperti dilansir dari Antara di Bandung.

Bey memastikan pihaknya merespons fenomena anak cuci darah. Yakni, dengan meminta Kepala Dinas Kesehatan Jawa Barat Vini Adiani Dewi memastikan agar anak-anak yang mengalami kasus itu mendapatkan perawatan terbaik di fasilitas layanan kesehatan.

”Kedua terkait edukasi, saya minta Kadis Kesehatan berkoordinasi dengan kepala dinas kesehatan di kabupaten dan kota agar puskesmas dan posyandu memberikan edukasi dan pemahaman terkait nutrisi dan bahaya makanan dan minuman yang mengandung GLG berlebih,” ujar Bey.

Menurut dia kasus cuci darah yang dialami pasien anak, artinya penyakit ginjal kronis sudah stadium 4. Pihaknya mengaku akan berupaya mengantisipasi dan terus berkoordinasi dengan layanan kesehatan di bawah koordinasi dinas kesehatan.

”Edukasi kepada masyarakat tentang bahaya minuman dan makanan manis. Kedua saya meminta seluruh puskesmas segera lakukan cek gula darah,” tutur Bey.

Sementara itu sebelumnya, Rumah Sakit Umum Pusat Hasan Sadikin (RSHS) Bandung menerima 10-15 pasien anak cuci darah setiap bulan yang mengalami gangguan ginjal kronis akibat berbagai faktor. RSHS mengklaim tidak terjadi kenaikan atau penurunan kasus cuci darah pada anak.

”Tidak ada peningkatan atau penurunan untuk kasus anak dengan ginjal kronis dengan cuci darah rutin. Itu 10-20 anak per bulan,” kata staf Divisi Nefrologi KSM Ilmu Kesehatan Anak RSHS Bandung dr Ahmedz Widiasta.

Editor: Latu Ratri Mubyarsah
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore