Suasana tradisi nyadran di Desa Balongdowo, Candi, Sidoarjo. (Radar Sidoarjo)
JawaPos.com – Warga Desa Balongdowo, Kecamatan Candi, Kabupaten Sidoarjo kembali menggelar perayaan nyadran menjelang datangnya bulan suci Ramadan. Kegiatan itu memang telah menjadi tradisi dari warga desa yang dilakukan setiap tahun dengan arak-arakan perahu menuju makam Dewi Sekardadu.
Nyadran diawali dengan kegiatan arak-arakan perahu yang membawa tumpeng raksasa dan berisi hasil bumi masyarakat. Tumpeng tersebut nantinya akan dinikmati bersama warga lainnya. Warga meyakini akan mendapat keselamatan dan rezeki terutama bagi sebagian besar warga yang berprofesi di laut sebagai nelayan.
Amiril Mukminin selaku Kepala Desa Balongdowo mengatakan bahwa kegiatan nyadran ini biasa dilakukan diakhir bulan Ruwah. Karena warga mempercayai jika kegiatan tersebut dilakukan akan mendapat rezeki yang berlimpah ke depannya.
“Ritual nyadran ini dilakukan rutin setiap tahun diakhir bulan Ruwah, dengan harapan warga desa yang berprofesi mencari kupang mendapat hasil yang lebih berlimpah,” ujarnya pada hari Minggu (25/2) seperti dilansir dari Radar Sidoarjo (JawaPos Group).
Ia menjelaskan bahwa kegiatan itu bukan hanya sekadar menikmati hasil bumi secara bersama-sama saja, tetapi juga digelar kegiatan istighosah dan doa bersama. Sekaligus sebagai upaya melestarikan tradisi kebudayaan leluhur warga desa.
“Nyadran ini merupakan bentuk melestarikan atau uri-uri budaya warisan leluhur, jangan sampai warisan leluhur ini mati suri,” ucapnya.
Salah seorang warga Desa Balongdowo yang turut berpartisipasi dalam kegiatan nyadran bernama Agus Setiawan mengaku senang dapat mengikuti kegiatan tersebut. Walaupun dirinya masih muda, tetapi ia sangat antusias untuk mengetahui warisan budaya leluhurnya.
“Kami dari kalangan muda turut bangga dapat terlibat memeriahkan kegiatan nyadran ini. Meskipun hanya dengan membawa perangkat sound system,“ kata dia.
Kecintaan pada tradisi warisan leluhur itu membuatnya rela menghabiskan uang Rp 30 juta untuk menyewa perahu dan perlengkapan sound system. Ia menyatakan bahwa tradisi tersebut patut untuk terus dihidupkan.
“Anak muda yang ikut dalam perahu sebanyak 20 orang, biaya untuk menyewa perahu dan sound system itu ditanggung bersama,” pungkasnya.

10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
14 Rekomendasi Gado-Gado Paling Recomended di Surabaya, Cita Rasa Klasik Autentik dan Harga Ramah di Kantong
Berburu Oleh-Oleh Khas Pasuruan? Ini 15 Buah Tangan yang Cocok untuk Keluarga di Rumah Berdasarkan yang Paling Dicari Wisatawan
15 Pecel Paling Enak di Surabaya, Cita Rasa Sambal Kacang yang Autentik dan Ragam Lauk Tradisional yang Menggoda Selera
10 Tempat Makan Pempek Favorit di Bandung, Pilihan Menu Lengkap, Rasa Autentik, dan Perpaduan Cuko yang Kaya Rempah
Koperasi Desa Merah Putih di Pakuhaji Sepi dan Bangunan Sederhana, Dinkop UMKM Tangerang: Tidak Dibangun dari Dana Agrinas
5 Mall Terbaik dan Paling Cozy di Solo, Cocok untuk Menikmati Kuliner, Belanja, dan Nongkrong di Satu Tempat
13 Wisata Terbaik Dekat Stasiun Pasuruan, Buat Liburan Tak Perlu Jauh Tapi Tetap Seru
12 Tempat Kuliner Soto yang Jadi Favorit di Malang, Soal Rasa Jangan Ditanya Pasti Enak!
Tak Perlu lagi Pusing Parkir, Ini Rute Transjakarta Paling Pas ke Indonesia Arena GBK
