
Photo
JawaPos.com- Sejumlah ’’Kiai Langit’’ sebutan lain kiai sepuh dari berbagai daerah di Indonesia, Kamis (16/2) malam berkumpul di Pondok Pesantren (Ponpes) Tebuireng, Jombang, Hadir pula Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar, Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf dan jajaran pengurus PBNU dan PWNU.
Menurut Alissa Wahid, salah seorang ketua PBNU, kegiatan di Tebuireng itu menjadi forum para kiai. Khususnya, yang berada dalam struktur Jamiyah NU. ’’Jika pada 7 Februari lalu (resepsi puncak Satu Abad NU di Sidoarjo, Red), perayaan bagi jamaaah, maka forum ini adalah forumnya jamiyah. Yang hadir sebagian besar para pengurus NU," kata putri Gus Dur itu.
Alissa mengatakan, setidaknya ada tiga agenda utama dalam kesempatan tersebut. Pertama, kirim doa untuk para muassis (pendiri) dan masyayikh (sesepuh) NU sebagai wujud terima kasih atas limpahan berkah satu abad NU. Kedua, tasyukuran ulang tahun ke-100. ’’Ketiga, penyampaian harapan para kiai sepuh NU pada abad kedua ini,’’ ujarnya.
Harapan-harapan tersebut akan dicatat dan menjadi acuan penting bagi PBNU dalam mengelola organisasi untuk masa khidmah 2022-2027. "PBNU akan menindaklanjuti, dengan memilah mana yang merupakan fundamen, mana yang masuk kategori strategi, dan mana yang mesti masuk menjadi bagian dari program prioritas NU ke depan," tambahnya.
Soal tempat di Tebuireng, Alissa menilai Ponpes Tebuireng adalah pilihan yang tepat. Di pesantren inilah, pendiri NU Hadratussyekh KH Hasyim Asy'ari dimakamkan persama para kiai sepuh lainnya. Tanpa mengurangi rasa takzim untuk para pendiri NU di daerah lain, ’’Tebuireng adalah simbol tentang semangat kembali ke akar, Episentrumnya NU,’’ tegasnya.
Sebelumnya, kegiatan dimulai pembacaan tahlil dan istighotsah di makbarah keluarga besar Tebuireng. Di pesarean itu, Hadratussyaikh KH Hasyim Asy'ari, KH A. Wahid Hasyim, KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), dan keluarga besar lain dimakamkam. Alissa menyebut, ada sekitar 400 peserta yang hadir. Termasuk para kiai sepuh, jajaran mustasyar, syuriyah PBNU dan PWNU.
Beberapa di antaranya KH Nurul Huda Djazuli, KH Anwar Manshur, KH Anwar Iskandar, KH Ali Akbar Marbun, KH Cholil As'ad Syamsul Arifin, dan KH Abdullah Ubab Maimoen. Adapun KH Ahmad Mustofa Bisri (Gus Mus) menyampaikan sambutan dan harapan secara daring.
Sejauh ini, peringatan Harlah Satu Abad NU juga masih semarak di mana-mana di Indonesia. Baik tingkat wilayah, kabupaten, hingga ranting atau desa. "Jika ada peringatan-peringatan serupa, itu wajar karena memang PBNU mengimbau struktur NU di semua tingkatan untuk menyemarakkan momen Satu Abad NU. Bentuk kegiatannya pun beragam," pungkasnya

Kasus Hantavirus di Indonesia, Kemenkes: Saat ini Ada 2 Kasus Suspek di Jakarta dan Yogyakarta
14 Spot Gudeg di Bandung dengan Cita Rasa Khas Yogyakarta yang Autentik dan Menggugah Selera
Jadwal Persipura vs Adhyaksa FC Play-Off Promosi Super League, Siaran Langsung, dan Live Streaming
10 Batagor Terenak di Bandung dengan Bumbu Kacang Istimewa, Kuliner Murah Meriah dengan Rasa Premium
Pertandingan Perpisahan Bruno Moreira? Kapten Persebaya Surabaya Kirim Sinyal Emosional Jelang Lawan Persis Solo
12 Kuliner Tahu Campur Paling Enak di Surabaya dengan Kuah Petis Kental yang Selalu Jadi Favorit Warga Lokal hingga Wisatawan
11 Kuliner Gudeg Paling Recomended di Surabaya dengan Harga Murah Meriah Tapi Rasa Tidak Murahan
15 Oleh-oleh Paling Ikonik dan Khas dari Kota Surabaya, Rasanya Autentik dan Tiada Duanya, Wajib Kamu Bawa Pulang!
7 Hidden Gem Kuliner Sunda di Bogor yang Enak dan Wajib Dicoba, Suasana Asri dan Menunya Autentik
12 Rekomendasi Kuliner Malam di Surabaya dengan View Terbaik untuk Nongkrong Santai dan Pemandangan yang Memukau
