
Ketua DPD PDI Perjuangan Jawa Timur, Said Abdullah, dalam acara bihalal DPD PDIP Jatim, Minggu (12/4). (Istimewa)
JawaPos.com - Ketua DPD PDI Perjuangan Jawa Timur, Said Abdullah, menegaskan pentingnya memahami jati diri masyarakat Jawa Timur sebagai pijakan dalam merumuskan arah perjuangan ke depan. Ia mengajak seluruh elemen untuk merefleksikan diri, serta bagaimana semangat kolektif dibangun untuk menjawab tantangan zaman.
Menurut Said, refleksi tersebut menjadi semakin relevan di tengah kondisi dunia yang kian dipenuhi kepalsuan. Ia menekankan bahwa momentum Syawal seharusnya menjadi pengingat akan nilai ketulusan dan kejujuran, sekaligus menjadi pedoman dalam bersikap di kehidupan sosial maupun politik.
“Pertama tentang jati diri kita di Jawa Timur, siapa kita, apa masalah kita bersama, dan bagaimana elan perjuangan ke depan. Kedua, tentang wajah dunia yang makin dipenuhi kepalsuan, padahal Syawal itu pesan ketulusan dan kejujuran, serta bagaimana kita harus bersikap,” kata Said Abdullah, Minggu (12/4).
Ia menjelaskan, Jawa Timur sejak lama dikenal sebagai basis “Ijo-Abang”, yang merepresentasikan dua kekuatan besar dalam masyarakat. Menurutnya, Nahdlatul Ulama (NU) dan PDIP memiliki akar di Jatim.
“Jawa Timur ini basisnya Ijo-Abang (hijau-merah), santri dan abangan, santri cerminan dari kekuatan Nahdlatul Ulama (NU), abang menandakan kekuatan nasional, PDI Perjuangan. Keduanya menjadi akar politik hingga ke kampung kampung di Jawa Timur,” ujarnya.
Namun, Said melihat bahwa pembelahan sosial yang dulu digambarkan oleh Clifford Geertz kini semakin melebur. Ia menyebutkan, dalam berbagai survei nasional, pemilih yang mengaku sebagai bagian dari NU justru banyak menyalurkan suaranya kepada PDI Perjuangan.
“Oleh sebab itu, PDI Perjuangan, apalagi di Jawa Timur tidak akan meninggalkan NU,” tegasnya.
Baca Juga:Tenis Putri Indonesia Lolos Playoff Piala Billie Jean King, PELTI Siapkan Program Lanjutan
Said juga menyoroti kesamaan kondisi sosial antara kelompok santri dan abangan. Ia menilai perbedaan di antara keduanya sangat tipis, sementara tantangan yang dihadapi justru sama.
“Santri dan abangan ini hanya beda sehelai bulu saja, yang satu rajin sholat, yang satu kurang rajin sholat. Tetapi nasibnya sama, sama-sama miskin, sama-sama mayoritas yang terbelakang dari sisi pendidikan, sama-sama susah mendapatkan pekerjaan yang layak, pokoknya sama-sama kisah sedih isinya. Banyak kesamaannya, minim perbedaanya,” bebernya.
Ketua DPP PDIP itu juga mengungkapkan pembagian peran antara organisasi keagamaan dan partai politik. Menurutnya, NU memiliki tugas sosial dalam memberdayakan umat, sementara PDI Perjuangan berperan dalam memperjuangkan kebijakan publik yang berpihak pada rakyat.

Koperasi Desa Merah Putih di Pakuhaji Sepi dan Bangunan Sederhana, Dinkop UMKM Tangerang: Tidak Dibangun dari Dana Agrinas
Jadwal Moto3 Catalunya 2026: Veda Ega Pratama Siap Jaga Konsistensi di Barcelona
Sekjen Laskar Merah Putih Minta Presiden Perhatikan Para Jaksa: Mereka Belum Dapat Apresiasi yang Proporsional
Kemendiktisaintek Ubah Nama Prodi Teknik jadi Rekayasa, ini Daftarnya
Fans Persija Datangi Sesi Latihan di Sawangan, Jakmania Bentangkan Spanduk Kritik untuk Manajemen Klub
Hasil Moto3 Catalunya 2026: Veda Ega Pratama Bikin Kejutan! Tembus 13 Besar di FP2
11 Oleh-Oleh Khas Semarang yang Paling Diburu Wisatawan karena Rasanya Lezat dan Cocok Dijadikan Buah Tangan
10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
12 Hotel Terbaik di Semarang dengan Fasilitas Lengkap, Nuansa Cozy dan Menenangkan untuk Quality Time Bersama Orang Tercinta
13 Buah Tangan Khas Malang Paling Populer dengan Cita Rasa Lezat dan Harga Ramah di Kantong
