
Photo
JawaPos.com - Sejak dulu masyarakat Desa Cisantana, Kecamatan Cigugur, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat, sudah diwarisi kehidupan rukun yang saling menghargai di tengah perbedaan keyakinan. Gen toleransi mengalir di tubuh warga Cisantana. Sehingga selama ini tidak ada konflik kegamaan satupun di Desa Cisantana.
Sekertaris Desa Cisantana Aji Rianto mengatakan, perbedaan keyakinan di Desa Cisantana bukan karena adanya penduduk pendatang yang berbeda agama. Tetapi memang dari dulu masyarakat Cisantana sudah banyak yang berbeda agama. Dari hampir 7.500 penduduk, mereka adalah penganut agama Islam, Katolik, Kristen, dan Aliran Kepercayaan Sunda Wiwitan.
"Mayoritas warga memang muslim. Tapi non muslimnya pun lumayan banyak, khususnya di Dusun Cisantana yang sekarang dicanangkan menjadi Kampung Toleransi," kata dia.
Di Desa Cisantana tedapat enam dusun yakni Dusun Cisantana, Ciputri, Malar Aman, Palutungan, Sukamanah, dan Dusun Dano. Sampai sekarang, kehidupan mereka rukun menjalankan keyakinan masing-masing tanpa ada tekanan. Tidak ada gesekan diantara warga yang berbeda keyakinan. Perangkat desa pun ada yang non muslim karena memang terbiasa hidup bersama-sama
"Kita pasti toleransi karena mau tidak mau kita satu rumpun dan terbiasa dari nenek moyang kita menjalani kehidupan dengan keyakinan masing-masing. Jadi memang ini bukan ada perbedaan, lalu kita harus rukun. Tetapi memang dari dulu masyarakat kita sudah terbiasa rukun dengan perbedaan keyakinan di antara warganya," tegasnya.
Dia menyebutkan, sikap toleransi yang terbangun saat ini tidak diajarkan tapi disadari oleh semua warga. Sehingga untuk bermasyarakat sehari-hari tidak ada perbedaan keyakinan. Sebab, kehidupan bertetangga dalam satu waktu pasti membutuhkan itu yang menjadi kesadaran dari dulu.
"Mungkin karena kita juga satu rumpun bukan pendatang kita satu rumpun sama-sama orang Sunda yang membedakan adalah keyakinan sehingga secara sosial kehidupan di Cisantana ya toleran," imbuh Aji.
Penata Keadatan Sunda Wiwitan Ela Romlah menyampaikan, hidup bertoleransi di Cisantana berangkat dari kesadaran masyakaratkanya. Menurut Ela, benih gen toleransi itu sudah ada di setiap jiwa masyarakat Cisantana. Ela mengatakan, kampung toleransi di Cisantana tidak mengada-ngada dan dibuat-buat.
"Kampung toleransi dibuat mungkin semacam legal atau stempel dari pemerintah atau pengukuhan bahwa memang di Cisantana seperti ini toleransinya, karena kita sudah toleran seperti ini sejak dulu," kata Ela.
Karena itu, Dengan dijadikannya kampung toleransi, bisa menjadi pesan bagi semua orang bahwa semboyan Bhinneka Tunggal Ika itu benar-benar terwujud di kampung Cisantana.
"Dengan pengukuhan Kampung toleransi kami berharap warga luar juga mendapatkan pelajaran yang baik terkait toleransi yang selama ini terjalin di Cisantana," katanya.

Kasus Hantavirus di Indonesia, Kemenkes: Saat ini Ada 2 Kasus Suspek di Jakarta dan Yogyakarta
14 Spot Gudeg di Bandung dengan Cita Rasa Khas Yogyakarta yang Autentik dan Menggugah Selera
Jadwal Persipura vs Adhyaksa FC Play-Off Promosi Super League, Siaran Langsung, dan Live Streaming
10 Batagor Terenak di Bandung dengan Bumbu Kacang Istimewa, Kuliner Murah Meriah dengan Rasa Premium
Pertandingan Perpisahan Bruno Moreira? Kapten Persebaya Surabaya Kirim Sinyal Emosional Jelang Lawan Persis Solo
12 Kuliner Tahu Campur Paling Enak di Surabaya dengan Kuah Petis Kental yang Selalu Jadi Favorit Warga Lokal hingga Wisatawan
11 Kuliner Gudeg Paling Recomended di Surabaya dengan Harga Murah Meriah Tapi Rasa Tidak Murahan
15 Oleh-oleh Paling Ikonik dan Khas dari Kota Surabaya, Rasanya Autentik dan Tiada Duanya, Wajib Kamu Bawa Pulang!
7 Hidden Gem Kuliner Sunda di Bogor yang Enak dan Wajib Dicoba, Suasana Asri dan Menunya Autentik
12 Rekomendasi Kuliner Malam di Surabaya dengan View Terbaik untuk Nongkrong Santai dan Pemandangan yang Memukau
