
Nol Karbon, yang berbasis di Indonesia, dan Blue Forest, yang berpusat di Dubai lakukan kerjasama restorasi hutan mangrove di Aceh. (Foto: Istimewa)
JawaPos.com - Proyek restorasi untuk pulihkan 6.459 hektar hutan mangrove yang terdegradasi di Aceh diwujudkan dalam kerjasama antara Nol Karbon, yang berbasis di Indonesia, dan Blue Forest, yang berpusat di Dubai.
Keduanya yang telah menandatangani perjanjian kerjasama berlokasi di Langsa, Aceh Timur (12/2) untuk penanganan proyek tersebut dalam 2 tahun ke depan.
Proyek restorasi ini akan dikembangkan dengan melibatkan masyarakat lokal dan didanai melalui ekonomi karbon.
Kemitraan ini merupakan langkah konkret dalam upaya mitigasi emisi CO2 dan pemberdayaan ekonomi lokal di area hutan mangrove, terutama di Aceh yang menjadi rumah bagi 96.813 orang komunitas nelayan.
Ini sejalan dengan komitmen Indonesia untuk mencapai emisi nol pada tahun 2060, sebagaimana diutarakan oleh Presiden Joko Widodo pada COP28 di Dubai.
Menurut Pera Malinda Sihite, Direktur Nol Karbon Indonesia, sebagai negara dengan luasan hutan mangrove terbesar di dunia, Nol Karbon berharap kerjasama dengan Blue Forest akan memulai upaya restorasi hutan mangrove di Aceh dan seluruh Indonesia.
"Nol Karbon ingin memberikan manfaat ekonomi karbon kepada masyarakat lokal melalui implementasi silvofishery, yang menggabungkan perikanan dengan penanaman hutan mangrove. Semakin banyak hutan mangrove yang Nol Karbon tanam, semakin banyak komunitas yang kami bantu," ujarnya dalam keterangan resminya, Selasa (13/2).
Terkait hal ini Sohaib Alhajhussein, Direktur Blue Forest. juga berkomentar bahwa pihaknya mempunyai misi memulihkan ekosistem mangrove secara global.
"Kami sangat senang dapat bekerja dengan Nol Karbon untuk memulihkan hutan mangrove di Aceh dan pada saat yang sama memberi dampak positif bagi hampir 100.000 jiwa," ungkap Sohaib.
Sohaib menambahkan Saat ini, Blue Forest sedang mengembangkan proyek karbon biru terbesar di Afrika melalui proyek MozBlue di Mozambik. Dengan berkolaborasi dengan Nol Karbon, bertujuan untuk memberikan dampak serupa di Indonesia.
Indonesia memiliki luasan hutan mangrove terbesar di dunia, mencapai sekitar 3,3 juta hektar.
Hutan mangrove di negara ini memiliki potensi untuk menyerap 4-5 kali lebih banyak karbon daripada hutan daratan, dengan kapasitas penyerapan sekitar 33 miliar ton karbon dioksida (CO2) atau sekitar 1.000 ton karbon per hektar.
Hutan mangrove menyediakan layanan ekosistem berharga yang berkontribusi pada kesejahteraan ekonomi di Indonesia, dengan manfaat rata-rata mencapai USD 15.000 per hektar per tahun.
Perdagangan karbon memiliki potensi besar bagi Indonesia, mengingat hutan tropisnya yang luas. Berdasarkan data luas hutan, dengan skenario harga kredit karbon sebesar US$5 per ton, pendapatan potensial bisa mencapai Rp 8.000 triliun.

104 Pusat Perbelanjaan di Jakarta Bakal Pesta Diskon sampai 70 Persen, Catat Waktunya!
Pulang ke Persebaya Surabaya? Andik Vermansah Dapat Tawaran dari 5 Klub, Ingin Kembali Bermain di Kasta Tertinggi
11 Rekomendasi Es Teler Terlaris di Jogja, Selalu Jadi Favorit Pecinta Dessert Tradisional Warga Lokal Maupun Pelancong!
16 Tempat Wisata Terbaik di Pandaan Pasuruan yang Buat Liburan Penuh Panorama Alam, Pegunungan dan Ketenangan
Jadwal Moto3 Italia 2026! Veda Ega Pratama Ditantang Tak Goyah di Mugello demi Salip Rival Klasemen
10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
8 Spot Kuliner di Kota Tua Surabaya, Makan Enak dengan Suasana Vintage dan Pemandangan yang Memanjakan Mata!
Mariano Peralta Merapat ke Persija Jakarta? Manajer Borneo FC Langsung Buka Suara
15 Kuliner Soto Ayam Paling Lezat di Surabaya dengan Kuah Kuning Pekat, Koya Memikat dan Topping Nikmat
Berburu Oleh-Oleh Khas Pasuruan? Ini 15 Buah Tangan yang Cocok untuk Keluarga di Rumah Berdasarkan yang Paling Dicari Wisatawan
