
BARU SETAHUN DITEMPATI: Penampakan Omah Gajah saat ini. Karena kosong, beberapa bagian rusak. Namun, kini sudah ada yang direnovasi agar layak huni. (Frizal/Jawa Pos)
Batik Tulungagung pernah berjaya pada masa kolonial Belanda. Omah Gajah menjadi buktinya. Tak hanya menyimpan sejarah, bangunan yang berada di Dusun Simo, Desa Simo, Kedungwaru, itu juga memiliki kisah-kisah mistis karena dibiarkan kosong selama empat dekade.
---
DARI penampakan depan, Omah Gajah berbeda dengan bangunan rumah lain. Gaya arsitekturnya khas Belanda. Dua gambar gajah besar berwarna abu-abu menghiasi fasadnya. Begitu juga tulisan Belanda serta tahun 1916. Artinya, sudah 106 tahun rumah loji tersebut berdiri. Di rumah itulah, batik khas Tulungagung pernah diproduksi dan berjaya pada masanya di bawah kepemimpinan almarhum Haji Umar.
Sayang, agresi militer Belanda membuat produksi batik berhenti. Puncaknya, pada 1976 Omah Gajah dilanda banjir. Bencana itu membuat produksi tutup total. Setelah berhenti beroperasi, Omah Gajah dibiarkan kosong. Selama berpuluh tahun tak terjamah manusia, cerita dan kejadian mistis sering terdengar. Banyak warga yang menganggapnya salah satu tempat angker.
’’Banyak yang menyebut begitu, sampai ada kejadian lucu,’’ kata Jhon Heru, salah seorang anggota keluarga pemilik Omah Gajah. Pria 56 tahun itu menuturkan, sekitar 2000-an ada rombongan keluarga yang datang ke Omah Gajah. Tujuannya, melamar seorang gadis cantik. Tapi, rombongan itu kaget ketika sampai di lokasi. Sebab, Oma Gajah kosong tak berpenghuni.
Rupanya, beber Heru, waktu itu ada pria dari luar Desa Simo yang bertemu gadis cantik di sekitar Omah Gajah. Dari penuturan laki-laki yang hendak melamar tersebut, saat itu kondisi Omah Gajah tidak kosong. Bagus. Bahkan ramai layaknya rumah di kampung pada umumnya.
Dia pun mengobrol dengan gadis itu. Merasa cocok, dia berjanji membawa keluarganya. ’’Sampai sini ternyata suwung,’’ ucap Heru, lantas tertawa.
Saat ini Omah Gajah tak lagi kosong. Sejak setahun terakhir, cucu keempat Haji Umar, yakni Sri Andarwili Saveria, menempatinya. Saat Jawa Pos berkunjung, kondisinya 80 persen masih sama. Hanya, ada sedikit renovasi agar layak huni.
Beberapa barang sudah ada sejak puluhan tahun lalu. Di antaranya, meja makan dan meja rias. Begitu juga koleksi wayang Haji Umar. Semuanya masih terjaga. Termasuk album foto orang tua Saveria.
Tadinya Omah Gajah merupakan bangunan induk, lalu ada beberapa bangunan lain. Namun, saat ini tersisa bangunan induk saja. Terdapat tujuh ruangan di dalam Omah Gajah. Suasananya adem. Sekilas, aura mistis tak terasa. Tapi, tidak berarti Saveria tak pernah mengalami hal mistis.
Hanya, dia menganggapnya biasa saja. ’’Saya bilang, nggak apa-apa masih di sini, asal jangan nampak,’’ ucap ibu dua anak tersebut.
Dia menuturkan, bau anyir kadang sering tercium. Juga ada perempuan berbaju putih dan noni Belanda. ’’Saya belum pernah melihat itu secara langsung,’’ terangnya. Dia hanya mendapat cerita dari beberapa orang lain. Saking angkernya, ada warga yang tidak berani masuk ke Omah Gajah. Padahal, rumah itu sudah ditempati Saveria dan keluarganya.
Saat agresi Belanda, Omah Gajah sempat digunakan sebagai poliklinik tentara yang terluka. Pada zaman itu, batik yang diproduksi di Omah Gajah juga sering dipakai perempuan Belanda. Saat penjajahan Jepang, harta yang ada di Omah Gajah dijarah.
Maklum, Omah Gajah pada zamannya merupakan tempat elite. Produksi batiknya yang besar membuat pemilik bergelimang harta. ’’Di Dusun Simo ini dulu banyak yang jadi pengusaha batik, termasuk Haji Umar,’’ kata Heru.
Hal itu bisa dilihat dari struktur bangunan Omah Gajah. Temboknya saja dibuat berlapis. Jendelanya dibuat kukuh dan ada bahan pelat besi. Tujuannya, aman dari maling atau penjarahan.
Muyanto, keluarga Haji Umar, mengatakan, konon ada harta karun yang tersimpan di salah satu sudut Omah Gajah. Isinya berupa logam mulia yang ditempatkan di dalam peti. Namun, petinya ditanam di mana, belum ada yang tahu.
’’Dibilang banyak wingitnya juga ada, tapi kan sudah ditempati,’’ ucapnya.

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
11 Rekomendasi Gudeg Terenak di Jakarta, Kuliner Manis yang Tak Kalah Legit Seperti di Jogjakarta
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
12 Tempat Makan Legend di Bandung yang Wajib Dicoba, Ada yang Sudah Berdiri Sejak Zaman Belanda!
Tanpa Eliano Reijnders dan Luciano Guaycochea! Prediksi Susunan Pemain Bhayangkara FC vs Persib Bandung
11 Kuliner Malam Surabaya Paling Enak dan Legendaris untuk Kamu yang Sering Lapar Tengah Malam
