
ILUSTRASI perkebunan sawit. Konflik petani plasma dengan MPE terus berlanjut. Petani meblokade akses jalan menuju pabrik yang berafiliasi dengan MPE.
JawaPos.com - Kisruh petani plasma dengan pihak perusahaan sawit PT Multi Prima Entakai (MPE) di Kabupaten Sekadau tak kunjung tuntas. Aksi pemagaran akses jalan perkebunan perusahaan tersebut terus berlanjut.
Hingga Kamis (25/10) sore, pagar akses jalan perusahaan di kawasan perkebunan sawit hamparan 19, Dusun Selimus, Desa Seraras, Kecamatan Sekadau Hilir masih terpasang. Para petani pun masih berjaga di sekitar lokasi pagar itu. Bahkan jumlah petani yang datang jauh lebih banyak. Jika hari sebelumnya hanya puluhan orang, kini jumlah petani sudah lebih dari 100 orang.
"Kami tidak akan buka pagar jika tuntutan kami belum dipenuhi," ujar Hermanto, salah seorang perwakilan petani dikutip dari Rakyat Kalbar (Jawa Pos Group), Jumat (26/10).
Pihak petani bersikeras tidak akan membuka pagar sebelum tuntutan dipenuhi. Petani bahkan sudah membuat surat tertulis ke perusahaan terkait tuntutan mereka.
Salah satu tuntutan, mendesak agar perusahaan tidak lagi memberlakukan sistem kouta dalam pembelian buah sawit petani plasma. Mereka merasa dirugikan atas kebijakan kouta tersebut.
Seperti diketahui, sejak tiga bulan terakhir, PT. MPE membeli sawit dari petani plasma dengan sistem kouta. Jika dianggap sudah melebihi kouta, maka akan dibayarkan dengan harga pihak ketiga, yakni seharga 600 rupiah lebih.
Harga ini dianggap jauh dari harga ketetapan pemerintah yang berkisar di angka Rp 1.300 per kilogramnya. "Harusnya tidak ada sistem kouta seperti ini. Kami kan petani plasma. Kecuali kami petani mandiri, boleh lah beli dengan harga sesuka hati," paparnya.
Setelah beberapa jam menunggu, pihak perusahaan mengutus salah seorang pegawainya, Heru untuk menemui petani yang sudah berkumpul di hamparan 19. "Pimpinan kami ingin bertemu dengan bapak-bapak perwakilan KUD di kantor (Desa Seraras)," kata Heru.
Namun permintaan Heru itu tidak digubris petani. Sebab, sejak sehari sebelumnya, mereka meminta agar pihak manajemen tertinggi perusahaan datang ke lokasi. "Kami mau penyelesainnya di lokasi," papar Lusmen Satar Doloksaribu, perwakilan petani lainnya.
Setelah berdiskusi panjang, diputuskan petani membuat surat tuntutan ke perusahaan yang diantar oleh perwakilan perusahaan dan Kepala Desa Seraras. Namun setelah jawabannya belum memuaskan, petani pun menjadi berang.
Lebih dari 100 petani kemudian menggeruduk pabrik PT. Peramata Hijau Sarana (PHS) yang masih berafiliasi dengan PT. MPE. Petani kemudian menyegel pabrik tersebut. "Pabriknya kami segel," kata salah seorang perwakilan petani kepada Rakyat Kalbar, tadi malam.
General Manager PT MPE, Yosapat mengatakan, petani plasma yang melakukan aksi tersebut berasal dari 6 KUD. Pada prinsipnya, 6 KUD itu tidak ada kemitraan dengan pabrik PHS, melainkan hanya dengan PT. MPE.
"Memang MPE dengan PHS masih satu group. Tapi beda management," kata Yosapat kepada Rakyat Kalbar via selulernya, tadi malam.
Yosapat menegaskan, dirinya bukan tidak mau datang ke lokasi. Tapi dirinya ingin mencari solusi tentang permasalahan tersebut berdasarkan kesepakatan yang sudah dibuat dengan pihak petani, beberapa waktu lalu dan diselesaikan di kantor pabrik PT. PHS.

Kasus Hantavirus di Indonesia, Kemenkes: Saat ini Ada 2 Kasus Suspek di Jakarta dan Yogyakarta
14 Spot Gudeg di Bandung dengan Cita Rasa Khas Yogyakarta yang Autentik dan Menggugah Selera
12 Kuliner Tahu Campur Paling Enak di Surabaya dengan Kuah Petis Kental yang Selalu Jadi Favorit Warga Lokal hingga Wisatawan
Jadwal Persipura vs Adhyaksa FC Play-Off Promosi Super League, Siaran Langsung, dan Live Streaming
15 Oleh-oleh Paling Ikonik dan Khas dari Kota Surabaya, Rasanya Autentik dan Tiada Duanya, Wajib Kamu Bawa Pulang!
11 Rekomendasi Mall Terbaik di Surabaya yang Bikin Betah Jalan-Jalan dan Susah Pulang
Jadwal PSS vs Garudayaksa FC Final Liga 2, Siaran Langsung, dan Live Streaming: Siapa Raih Trofi Kasta Kedua?
Hasil Play-off Liga 2: Adhyaksa FC Bungkam Persipura Jayapura 0-1 di Babak Pertama!
Jadwal Veda Ega Pratama di Sesi Q2 Moto3 Le Mans 2026! Rider Indonesia Bidik Start Terdepan
10 Batagor Terenak di Bandung dengan Bumbu Kacang Istimewa, Kuliner Murah Meriah dengan Rasa Premium
