Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 6 Maret 2022 | 03.48 WIB

Jembatan Plengkung Mangunsari, Tulungagung, Berdiri Kukuh meski Dibom

DIJAGA DI SEGALA PENJURU: Jembatan Plengkung cukup indah saat malam. Kabarnya, di bawah jembatan tersimpan banyak pusaka, termasuk batangan emas. (Frizal/Jawa Pos) - Image

DIJAGA DI SEGALA PENJURU: Jembatan Plengkung cukup indah saat malam. Kabarnya, di bawah jembatan tersimpan banyak pusaka, termasuk batangan emas. (Frizal/Jawa Pos)

Selain sebagai ikon Tulungagung, Jembatan Plengkung Mangunsari menjadi saksi sejarah perang kemerdekaan Indonesia. Warga yang dituakan di dekat lokasi tersebut mengatakan, dulu jembatan itu pernah dibom tentara Belanda. Namun, bangunannya tetap utuh.

---

Hingga kini, konstruksi Jembatan Plengkung masih kukuh. Besi penyangga berdiri tegak meski usianya sudah sembilan dekade. Jembatan itu melintang sepanjang 45 meter dan menghubungkan Jalan Abdul Fatah. ’’Hampir semua orang Tulungagung tahu soal jembatan ini,’’ kata Listoyono, salah seorang warga sekitar.

Jembatan Plengkung berdiri di atas Sungai Ngrowo. Jembatan tersebut dibangun Belanda ketika masih menjajah Indonesia. Tepatnya sekitar 1925. Fungsinya, menjadi penghubung pusat pemerintahan dengan pusat perdagangan. Waktu itu wilayah Tulungagung masih berbentuk kadipaten.

Berdasar cerita warga sekitar, Belanda saat itu membuat sayembara. Hal tersebut dilakukan atas dasar nasihat salah seorang tokoh. Isinya, jika ada yang bisa melompati Sungai Ngrowo, akan dibuatkan jembatan. Alasannya, orang yang bisa melompati sungai selebar 45 meter itu pasti sakti sehingga jembatan tersebut nanti bisa dijaga dan tetap kukuh.

Mulai pagi hingga sore tidak ada yang berani. Sampai kemudian ada ulama sekitar yang datang. Namanya Kiai Haji Raden Abdul Fatah. Beliau berhasil memenangi sayembara. Belanda akhirnya memenuhi janjinya. Salah seorang guru spiritual di Tulungagung Mbah Kuntoro menuturkan, sekitar 1942 jembatan itu dibom dinamit, tapi tidak membuat bangunan roboh.

Cerita itu bermula ketika Jepang menguasai Tulungagung. Belanda tidak mau menyerahkan begitu saja. Mereka menempatkan bom di bawah jembatan. Tujuannya, jembatan putus sehingga akses tentara Jepang terputus. Termasuk menimbulkan korban bagi kubu Jepang.

Menurut Kuntoro, Jembatan Plengkung bisa kukuh bukan tanpa alasan. Selain konstruksinya kuat, di sana ada karomah dari KH Raden Abdul Fatah. Maklum, setelah pembangunan jembatan jadi, beliau berdoa di sana. Tujuannya, jembatan bisa terus berdiri kukuh dan membantu kegiatan masyarakat.

Kuntoro menuturkan, jembatan tersebut ditunggui banyak makhluk gaib. Di sisi utara terdapat sinden yang tewas dibunuh tentara Belanda serta naga hijau. Sementara itu, di sisi selatan ada puluhan tentara Jepang yang meninggal dalam pertempuran serta sebuah bendera yang tak kasatmata. Menurut Kuntoro, bendera itu tak lain dipasang atas perintah Presiden Pertama RI Soekarno.

Namun, kata dia, keberadaan makhluk gaib di sana tidak bisa mengganggu karena ada doa dari KH Raden Abdul Fatah. Itulah kenapa sampai sekarang belum ada kejadian laka di sana. Padahal, jembatan tidak begitu lebar. ’’Hampir 60 tahun saya belum pernah dengar ada kejadian orang kecelakaan di sana,’’ ucapnya.

Jawa Pos bertandang ke sana saat tengah malam. Kesan mistis tidak terasa. Jembatan Plengkung justru ramai. Maklum, lokasinya dekat dengan pasar. Saat malam, pemandangannya juga indah. Sayang, pencahayaannya masih kurang. Kata plengkung diambil dari bentuk setengah lingkaran yang ada di setiap sisinya. Masing-masing ada tiga plengkung.

Kuntoro mengatakan, di bawah jembatan juga tersimpan pusaka. Termasuk emas. Namun, barang-barang itu tidak boleh diambil. Sebab, ada penunggunya. Bisa jadi malah kena bala. Tujuan penyimpanan pusaka tersebut tak lain agar jembatan tetap kukuh. Kalaupun dibongkar, harus hati-hati. Salah cara bisa jadi bencana. ’’Ada ritualnya, itu pun hanya untuk kondisi urgen. Kalau tidak, lebih baik jangan dibongkar,’’ paparnya.

Dia menambahkan, jembatan tersebut bisa buat ngalap berkah. Caranya, empat sisinya diberi tanaman beringin putih yang kecil. Hal itu bisa berdampak baik bagi yang melakukan. Namun, semuanya kembali pada keyakinan mereka. Termasuk berdoa kepada Yang Mahakuasa.

Editor: Dhimas Ginanjar
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore