
Ilustrasi police line. (Adnan Reza Maulana/Dok. JawaPos.com)
JawaPos.com – Konflik antara warga dan aparat penegak hukum terjadi di Desa Pakel, Kecamatan Licin. Pemicunya adalah bentrokan antara kedua kubu di lahan perkebunan milik sebuah perusahaan.
Insiden yang terjadi pada Jumat (14/1) dini hari itu berbuntut. Empat warga Desa Pakel yang mengaku menjadi korban penganiayaan aparat melaporkan kasus tersebut ke Polsek Licin pada Sabtu (15/1). Bahkan, dalam perkembangannya, perkara tersebut juga mendapat atensi dari sejumlah lembaga.
Mereka adalah Suhardi, 43; Ahmad Fauzi, 19; Hariyadi, 30; dan Esa Ots Darmawan, 21. Semuanya mengalami luka-luka di bagian tubuhnya. ’’Setidaknya ada empat orang yang sudah melaporkan aksi penganiayaan ke polsek,’’ ujar tim advokasi masyarakat Desa Pakel, Kecamatan Licin, Usman.
Usman mengklaim penanganan petugas cukup lambat. Salah satunya karena visum yang dilakukan dua kali. ’’Pemeriksaan sudah dilakukan, tapi hasil visum belum kami ambil. Kami kecewa pelaksanaan visum harus sampai dua kali,’’ sesalnya.
Sementara itu, Kapolsek Licin AKP Dalyono membenarkan adanya laporan itu. Keempatnya sudah diperiksa untuk dilakukan visum. ’’Kami sebagai pelayan masyarakat tetap menjalankan tugas dan memberikan pelayanan,” katanya.
Dalyono menyatakan, laporan tersebut sudah diterima. Petugas masih memanggil para pelapor untuk dimintai keterangan. ’’Termasuk menjelaskan kronologi atau insiden yang dialami hingga adanya dugaan penganiayaan,’’ terangnya.
Untuk diketahui, insiden tersebut terjadi sekitar pukul 00.00 WIB. Kericuhan pecah setelah puluhan warga menghampiri sejumlah aparat yang sedang melakukan patroli di lahan perkebunan milik sebuah perusahaan. Patroli untuk antisipasi pembalakan liar belakangan kerap terjadi di sana.
Sejauh ini, pemicunya masih misterius. Versi warga, kericuhan meletus ketika warga mendatangi aparat yang berpatroli. Kedatangan warga dianggap mengancam petugas hingga muncul perselisihan hingga pemukulan. Versi dari aparat, petugas dihadang sejumlah warga sehingga berujung bentrokan.
Di sisi lain, konflik warga dengan aparat itu ternyata mendapat atensi luas. Sejumlah lembaga di negeri ini menyoroti kasus tersebut. Salah satunya, Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah.
Ketua PP Muhammadiyah Busyro Muqoddas menyatakan, pihaknya saat ini sedang mengumpulkan bukti di lapangan. Sesuai dengan perintah pimpinan pusat, tim akan menerjunkan kader hijau. ’’Untuk mengumpulkan bukti terbaru dan lengkap,’’ katanya seusai menghadiri konsolidasi organisasi di aula Mas Mansyur Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jatim kemarin.
Dia juga mendesak Kapolri untuk mengusut tuntas insiden yang berujung dugaan kekerasan terhadap warga. ’’Kami sudah mengamati lama. Kasus ini bukan individual, melainkan kelompok atau oknum aparat dengan korporasi,’’ ucap Busyro.
Sorotan serupa juga datang dari Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Jatim. Bahkan, dari informasi yang dihimpun lembaga tersebut, insiden itu diwarnai tembakan.

14 Kuliner Malam Bandung yang Paling Enak dan Selalu Ramai hingga Larut Malam dengan Suasana Seru dan Rasa Lezat
Bocoran Soal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026
Jika Persija Jakarta Gagal Juara, The Jakmania Punya Kesempatan Melihat Bobotoh Menangis
Tak Peduli Larangan ke Jepara, The Jakmania Sebut Kebiasaan atau Takut Main di Jakarta saat Persija Jamu Persib
18 Rekomendasi Kuliner di Tangerang untuk Keluarga, Tempat Makan Favorit dari Tradisional sampai Modern
Persebaya Surabaya Rayakan Kembalinya Bruno Moreira, Bonek Kompak Satu Suara
Pesan Haru Milos Raickovic ke Bonek! Gelandang Persebaya Surabaya Sudah Berikan Segalanya Musim Ini
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
Korban Dicekoki Miras Hingga Tak Sadar, Pelaku Pemerkosaan Cipondoh Masih Dicari
Link Live Streaming Semifinal Uber Cup 2026 Indonesia vs Korea Selatan dan Line-up Pertandingan
