
Kapolda Papua Barat Irjen Pol Daniel Silitonga (kedua dari kanan) mengecek barang bukti senjata api rakitan yang berhasil diamankan oleh Tim Opsnal Polresta Manokwari, Senin (23/10).
JawaPos.com - Kapolda Papua Barat Irjen Pol Daniel Silitonga memerintahkan seluruh jajarannya untuk menelusuri dan menyita senjata api rakitan yang beredar di kalangan masyarakat. Hal ini berkaitan dengan transaksi jual beli senjata api rakitan oleh enam tersangka yang telah ditangkap Tim Opsnal Satuan Reskrim Polresta Manokwari, pada Minggu (22/10).
"Sudah 40-an pucuk yang dijual tersangka. Saya perintahkan semua jajaran untuk cari dan sita," kata Daniel Silitonga di Markas Polresta Manokwari, Senin (23/10).
Daniel Silitonga menduga penjualan senjata api rakitan yang dilakukan oleh enam tersangka menyasar kepada kelompok berseberangan dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Kepolisian membutuhkan dukungan dari semua komponen masyarakat termasuk media massa, untuk memberikan informasi terkait keberadaan senjata api rakitan di kalangan masyarakat.
"Tidak menutup kemungkinan, senpi rakitan beredar sampai ke mereka (kelompok berseberangan) seperti di Maybrat atau daerah lainnya," ucap Daniel.
Baca Juga: 1 Anggota KKB Papua Tewas Usai Kontak Tembak dengan Prajurit TNI
Dari hasil pemeriksaan sementara, kata dia, barang bukti 12 pucuk senjata api yang disita Polresta Manokwari dirakit menggunakan teknik tertentu bukan teknik biasa. Untuk itu, kasus tersebut akan dilakukan pengembangan lebih lanjut guna mengidentifikasi teknisi yang mengajarkan enam tersangka merakit senjata api untuk diperdagangkan.
"Tersangka mengaku belajar otodidak, tentu kepolisian tidak serta merta percaya. Kita akan dalami siapa teknisi yang menjadi otaknya," tutur Daniel.
Sementara itu, Kepala Polresta Manokwari Komisaris Besar Polisi Rivadin Benny Simangunsong menjelaskan, enam tersangka yang ditangkap terbagi dalam dua kelompok perakit senjata api ilegal. Keenamnya berinisial RT, 38; K, 36; ARP, 34; MS, 42; MT, 40; dan NM, 39, yang ditangkap pada dua lokasi berbeda.
Baca Juga: TNI Tembak Mati 5 Anggota KKB Papua, Sita Amunisi hingga Senjata Tajam
"Mereka awalnya hanya satu kelompok, tapi setelah mendapatkan modal mereka pecah menjadi dua kelompok," tutur Benny Simangunsong.
Aktivitas perakitan senjata api, kata dia, dilakukan secara berkala sesuai dengan permintaan dari masyarakat (pemesan) yang jumlah lumayan banyak.
Tindakan enam tersangka dijerat Pasal 1 ayat (1) Undang-Undang Darurat Nomor 12 Tahun 1952 dengan hukuman mati atau hukuman penjara seumur hidup atau hukuman penjara selama 20 tahun.
"Masih ada satu tersangka berinisial W yang kami kejar. Sudah masuk dalam DPO, dan W ini diduga sebagai pemodal," jelas Simangunsong.

Pertandingan Perpisahan Bruno Moreira? Kapten Persebaya Surabaya Kirim Sinyal Emosional Jelang Lawan Persis Solo
Mengenal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026: Aturan, Materi, dan Ambang Batas
Korban Rudapaksa di Cipondoh Jalani Trauma Healing, DP3AP2KB Kota Tangerang Beri Pendampingan Khusus
Prediksi Skor Bayern Munchen vs PSG: Siapa yang akan Bertemu Arsenal di Final Liga Champions?
10 Rekomendasi Restoran Paling Populer di Surabaya dengan Menu Lengkap dan Harga Variatif
Mobil Plat L Ringsek di Malang Diserang 300 Orang? Polres Malang Turun Tangan, Ini Fakta Terbarunya
11 Kuliner Gudeg Paling Recomended di Surabaya dengan Harga Murah Meriah Tapi Rasa Tidak Murahan
15 Rekomendasi Kuliner Mantap Dekat Bandara Juanda Surabaya, Cocok untuk Isi Waktu Sebelum Check-in
10 Batagor Terenak di Bandung dengan Bumbu Kacang Istimewa, Kuliner Murah Meriah dengan Rasa Premium
12 Kuliner Mie Kocok di Bandung Paling Enak dengan Kuah Gurih yang Bikin Nagih Sejak Suapan Pertama
