
Ilustrasi petani sawit. Foto: Fajar.co.id/JawaPos.com
JawaPos.com PANGKALAN BANTENG –Sejumlah petani sawit di Pangkalan Banteng, Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah mengeluhkan harga tandan buah segar (TBS) sawit yang makin terpuruk. Kondisi itu membuat mereka kesulitan memenuhi kebutuhan sehari-hari. Jika harga masih seperti ini sampai dua bulan ke depan, ia khawatir para petani akan tambah sengsara.
”Tinggal menunggu waktunya saja. Sekarang saja sudah ’kembang kempis’ kantong kami untuk membiayai keperluan keluarga sehari-hari,” kata Surianto, seorang petani kepada Radar Sampit (Jawapos Grup). Saat ini, harga sawit dari petani ke pengepul hanya Rp 750 per kilogram. Sedangkan di tingkat perusahaan cuma Rp 970 – Rp 975 per kilogram.
Ia juga mengeluhkan ketidakmampuan pemerintah daerah dalam mengontrol harga sawit. Sebab sepengetahuannya, di wilayah Kabupaten Lamandau, harga sawit masih ada di kisaran Rp 1.000 – Rp 1.200 per kilogram.
”Padahal harga sawit itu biasanya ada campur tangan pemerintah untuk mengaturnya, namun kenapa saat ini seakan dibiarkan. Kalau bisa ada aturan ketat bagi tengkulak agar tidak seenaknya mempermainkan harga,” katanya
Abdul Rahman, petani lainnya juga mengakui hal serupa. Ia terpaksa pinjam duit untuk ongkos anaknya berangkat kuliah ke Palangka Raya setelah selesai libur Lebaran.
”Sekarang nasib petani sawit malah lebih jatuh daripada petani karet. Tak hanya saya, petani lain juga saat ini kesulitan biaya anak mereka yang minta ongkos berangkat dan biaya hidup selama mereka kuliah, apalagi yang kuliah ke Pulau Jawa,” kata petani yang punya lahan sawit seluas tiga hektare itu.
Sejak harga sawit turun, tanaman petani banyak yang tidak terurus. Petani malas memberikan pupuk karena hasil penjualan tidak sesuai harapan. ”Jangankan kasih pupuk kualitas terbaik, untuk biaya penyemprotan saja sekarang itu tidak cukup lagi. Jadi uang hasil panen itu alhamdulillah hanya cukup untuk makan keluarga kami saja setiap bulan,” ujarnya.
Selain itu, dia juga mengeluhkan kenaikan harga pupuk jenis NPK nonsubsidi dari Rp270.000 per karung menjadi Rp 290.000. ”Harga pupuk juga sekarang naik, jadi kami tidak bisa berbuat apa-apa. Terpaksa kebun tidak lagi dipupuk,” ujarnya.
Dampak murahnya harga kelapa sawit juga sudah mulai dirasakan para pedagang di pasar. Pertokoan dan juga pasar tradisional yang biasanya selalu sesak, kini sepi pembeli. (sla/yit/jpg)

Jika Persija Jakarta Gagal Juara, The Jakmania Punya Kesempatan Melihat Bobotoh Menangis
10 Rekomendasi Restoran Paling Populer di Surabaya dengan Menu Lengkap dan Harga Variatif
14 Kuliner Malam Bandung yang Paling Enak dan Selalu Ramai hingga Larut Malam dengan Suasana Seru dan Rasa Lezat
Tak Peduli Larangan ke Jepara, The Jakmania Sebut Kebiasaan atau Takut Main di Jakarta saat Persija Jamu Persib
18 Rekomendasi Kuliner di Tangerang untuk Keluarga, Tempat Makan Favorit dari Tradisional sampai Modern
Mengenal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026: Aturan, Materi, dan Ambang Batas
Korban Rudapaksa di Cipondoh Jalani Trauma Healing, DP3AP2KB Kota Tangerang Beri Pendampingan Khusus
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
Bocoran Soal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
