
MINIM SISWA: Fahira Bunga Formoza, satu-satunya siswa baru di SDN 1 Setono, didampingi seorang guru kelas I pada hari perdana sekolah, Senin (17/7).
JawaPos.com – Ruang kelas I SDN 1 Setono, Desa Setono, Jenangan, Ponorogo, tampak kosong melompong. Padahal, Senin (17/7) adalah hari pertama tahun ajaran baru. Hanya satu siswa anyar yang memasuki kelas itu. Dia adalah Fahira Bunga Formoza.
Sejatinya, bocah 6 tahun tersebut sudah kadung berharap bakal punya teman baru saat memasuki kelas. Namun, fakta berkata lain. Dia sendirian di kelas itu. ”Tetap senang (sendiri, Red) karena bisa sekolah,’’ ucap Fahira yang terlihat semringah saat didampingi seorang guru.
Nasib lebih mengenaskan dialami SDN 1 Jalen, Balong, Ponorogo. Sekolah itu nihil siswa baru pada tahun ajaran kali ini. ’’Kelas I kosong, kelas II ada 1 siswa, kelas III ada 3, total seluruh sekolah hanya 24 siswa,’’ beber Kepala SDN 1 Jalen Dedy Adi Nugroho.
Itulah sekelumit cerita dari banyaknya sekolah negeri di sejumlah wilayah di Jatim yang minim siswa baru. Paling banyak dialami SD. Usaha penjaringan dalam penerimaan peserta didik baru (PPDB) lalu tak membuahkan hasil. Sekalipun dengan skema zonasi.
Di Ponorogo saja, dari total 556 SDN, hanya 11 SDN yang mampu memenuhi pagu pada tahun ajaran 2023–2024. ”Kami sudah melaksanakan semua sistem PPDB yang ditetapkan pemerintah. Namun, semua jalur belum mampu mendongkrak pamor sekolah,” kata Kepala Dindik Ponorogo Nurhadi Hanuri.
Situasi sama juga terjadi di daerah lain. Contohnya di Tuban, satu sekolah di wilayah perkotaan juga sepi pendaftar. Yakni, SDN Sukolilo 1. Pada PPDB tahun ini, sekolah itu baru menerima dua siswa.
”Jika dijumlah total, (jumlah siswa kelas I sampai VI, Red) tak lebih dari 13 siswa,’’ kata Plt Kepala SDN Sukolilo 1 Ernik Inwati.
Bahkan, berdasar data PPDB online yang dikumpulkan Jawa Pos Radar Tuban hingga akhir pekan lalu, sedikitnya ada empat SDN yang belum mendapatkan siswa baru. Sedangkan enam SDN lain memperoleh siswa tak lebih dari lima.
Banyak faktor yang menjadi penyebab situasi itu. Selain persoalan disparitas antarsekolah, sedikitnya jumlah anak usia SD ikut menjadi penyebab. Misalnya, di lingkungan Desa Beji, Tulungagung. Semua SD negeri di sana tak mampu memenuhi pagu. ’’Satu desa itu ada tiga SD. Sedangkan lulusan TK tahun ini sedikit. Sehingga banyak SDN yang siswanya sedikit,” tuturnya. (gen/kid/yud/wid/ziz/rka/c7/ris)

Prediksi Susunan Pemain Timnas Portugal vs RD Kongo: Vitinha Incar Gol Pertamanya
Bocor ke Publik! 2 Alasan Krusial Ramadhan Sananta Mau Gabung ke Persebaya Surabaya
Apa Itu Weton Tibo Pati dan Siapa Saja yang Mendapatkan Julukan Ini? Simak Misteri di Balik Nasib Weton Tibo Pati
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
Daftar Pemain Ghana dan Panama di Grup L Piala Dunia 2026
Prediksi Skor Austria vs Yordania di Piala Dunia 2026: Debut Bersejarah Wakil Asia Terancam di Laga Pertama
Sudah Masuk KBLI, Konten Kreator Didorong Punya NIB untuk Perkuat Legalitas
TVRI Hilang? Begini Cara Memunculkan Sinyal TVRI untuk Nonton Piala Dunia 2026 Gratis
Prediksi Skor Timnas Portugal vs RD Kongo, Duel Pembuka Grup K Piala Dunia 2026 yang Sarat Ambisi
Foto Prabowo-Gibran Dipasang di Salib Merah saat Demo di Monas, PMKRI: Simbol Dua Pendosa
