Anggota DPR RI Herman Khaeron (kiri) bersama ketua dan kader DPC Partai Demokrat Kabupaten Cirebon.
JawaPos.com–Anggota DPR RI Herman Khaeron membedah pidato politik Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) bersama ketua dan kader DPC Partai Demokrat Kabupaten Cirebon. Dalam acara nonton bareng di salah satu kafe di Kabupaten Cirebon, Jumat (14/7) malam itu dihadiri para bakal caleg Partai Demokrat di wilayah Kota dan Kabupaten Cirebon.
Herman Khaeron menyatakan, dalam pidato politik yang disampaikan AHY ada beberapa hal penting yang akan menjadi perhatian. Hal itu didasarkan kepada situasi saat ini.
”Banyak aspek sendi-sendi rakyat kualitasnya menurun,” kata Herman Kaheron.
Sehingga menurut dia, hal itu yang menjadi semangat perubahan dan perbaikan. Di antaranya aspek ekonomi dan kesejahteraan masyarakat, sumber daya manusia, penegakan hukum, demokrasi, dan lingkungan.
”Situasi ekonomi saat ini sedang tidak wajar-wajar saja. Secara makro pertumbuhan ekonomi dan investasi tumbuh tapi tidak banyak dirasakan rakyat. Belum lagi utang pemerintah dan BUMN yang sangat membebani rakyat,” ucap Herman Khaeron.
Soal sumber daya manusia yang harus disiapkan menghadapi persaingan global, menurut dia, belum banyak disentuh pemerintah saat ini. Revolusi mental yang digaungkan tidak terlihat hasilnya.
”Pemerintah lebih senang membangun infrastruktur megah. Infrastruktur penting tapi sumber daya manusia juga sangat penting,” papar Herman Khaeron.
”Belum lagi untuk membangun infrastruktur itu harus mengorbankan banyak bentang alam. Terjadi penurunan kualitas lingkungan hidup kita. Akibatnya makin banyak bencana banjir dan tanah longsor karena daya dukung alam yang dirusak. Juga kebakaran hutan,” terang Herman Khaeron.
Soal penegakan hukum, lanjut dia, rakyat kecil susah mendapat keadilan. Penegakan hukum itu tajam ke bawah tapi tumpul ke atas. ”Keras ke oposisi tapi lemah ke koalisi. Makanya ada pemimpin daerah yang pindah partai ikut partai penguasa,” ujar Herman Khaeron.
Dia menambahkan, demokrasi dan kebebasan rakyat juga dibayang-bayangi masalah. Rakyat takut berbicara dan mengeluarkan pendapat. Sebab, tidak ada tempat untuk pengkritik dan yang berbeda pendapat dengan penguasa.
”Padahal sepanjang kritik itu bukan fitnah, kritik itu tidak membuat kerusakan terhadap kesatuan dan persatuan serta ideologi Pancasila, itu bukan masalah. Sepanjang kritik itu untuk membangun harusnya dibuka ruang-ruang untuk demokrasi. Mengadu ide dan gagasan demi kemajuan bangsa,” tutur Herman Khaeron.
Dia menambahkan, banyak yang takut dengan perubahan. Padahal perubahan itu bukan berarti mengganti semuanya. Tapi tetap melanjutkan yang sudah baik, menyempurnakan yang tidak sempurna.
”Jangan takut dengan perubahan. Justru kalau kita ingin menjadi lebih baik, ya kita harus mengubah dan mengusahakannya. Partai Demokrat akan melakukan itu dengan dukungan rakyat,” ucap Herman Khaeron.

10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
Berburu Oleh-Oleh Khas Pasuruan? Ini 15 Buah Tangan yang Cocok untuk Keluarga di Rumah Berdasarkan yang Paling Dicari Wisatawan
10 Tempat Makan Pempek Favorit di Bandung, Pilihan Menu Lengkap, Rasa Autentik, dan Perpaduan Cuko yang Kaya Rempah
16 Tempat Wisata Terbaik di Pandaan Pasuruan yang Buat Liburan Penuh Panorama Alam, Pegunungan dan Ketenangan
11 Rekomendasi Es Teler Terlaris di Jogja, Selalu Jadi Favorit Pecinta Dessert Tradisional Warga Lokal Maupun Pelancong!
10 Kuliner Lezat Dekat Stasiun Pasar Turi Surabaya, dari Lontong Balap hingga Nasi Bebek
10 Kedai Es Teler Paling Enak di Jakarta, Cocok untuk Melepas Dahaga saat Cuaca Panas di Siang Hari!
14 Rekomendasi Gado-Gado Paling Recomended di Surabaya, Cita Rasa Klasik Autentik dan Harga Ramah di Kantong
18 Oleh-Oleh Khas Tulungagung Ini Wajib Dibeli Jika Berkunjung, dari Kuliner hingga Kerajinan Tradisional
Ribuan Suporter Rayakan HUT ke-94 PSIS Semarang, Flare dan Nyanyian Menggema di Depan Kantor Gubernuran Jawa Tengah
