
Keluarga korban Mardian Suhadi (baju kaos putih) datang ke RS Bhayangkara Polda Riau untuk melakukan serah terima jenazah, Senin (3/12) malam.
JawaPos.com - Raut sedih sekaligus letih tampak terpancar dari wajah keluarga Marian Suhadi, jasad yang ditemukan mengapung di perairan Selat Malaka, Kabupaten Bengkalis, Riau. Bagaimana tidak, setelah menempuh jalan darat 14 jam lamanya, mereka harus menelan kenyataan pahit kalau Marian sudah menjadi mayat.
Sekitar 10 orang keluarga Marian datang dari kampung halamannya, Dusun Getek II, Desa Pantai Cermin, Kecamatan Tanjung Pura, Kabupaten Langkat, Provinsi Sumatera Utara (Sumut) dan yang memang menetap di Pekanbaru.
Kedatangan mereka di Rumah Sakit Bhayangkara Pekanbaru, Senin (3/12), bertujuan untuk memastikan apakah Marian termasuk dalam salah satu dari 9 mayat yang ditemukan di perairan Selat Malaka.
"Kami inisiatif sendiri. Kami mencari yang mana keluarga kami yang hilang. Lalu kami dapat kabar ada mayat di Rumah Sakit Polda Riau, maka kami melangkah kemari ternyata di rumah sakit ini ada keluarga dari kami," ujar Paman Korban Fajar Sembiring, Senin (3/12) malam.
Setibanya di rumah sakit yang terletak di Jalan Hangtuah itu, tim Disaster Victim Identification (DVI) Polda Riau langsung melakukan pemeriksaan terhadap keluarga Marian. Setelah diperiksa, ternyata terdapat kecocokan pada salah satu jenazah.
Hal itupun membuat keluarga sedih. Sebab, terakhir kali berkomunikasi korban yang baru bekerja di Malaysia selama 4 bulan ini menyatakan akan pulang. Ia pulang ke kampung halaman dikarenakan sakit. Korban pun pulang menumpangi sebuah kapal.
"Terakhir kali tanggal 19 (November) kemarin. Dia memang kerja disana, tapi karena dia sakit makanya mau pulang. Sakit apa kurang tahu juga, mungkin sakit tak enak badan," ungkap Fajar.
Dua hari kemudian yaitu Jumat (21/11), keluarga pun mencoba menghubunginya. Tapi, nomor telepon korban tak lagi aktif. "Sampai sekarang konfirmasi itu enggak ada lagi. Makanya kami dengar ada kapal tenggelam dan ada mayat yang ditemukan lalu dibawa ke RS Bhayangkara, mungkin salah satunya anak kami," sebutnya.
Hal itulah yang membuat keluarga melangkah kaki ke Kota Bertuah ini. Ketakutan pun menjadi kenyataan, salah satu korban dipastikan memang bernama Marian.
Tanpa berpikir panjang, keluarga pun berembuk. Kemudian memutuskan Marian yang merupakan anak ketujuh dari 6 bersaudara ini akan dibawa ke kampung halaman untuk dikebumikan.
"Ini kami lagi nunggu ambulans dan petinya selesai. Kalau sudah selesai langsung bawa pulang ke kampung, karena enggak ada lagi yang mau ditunggu," jelasnya.
Sedangkan orang tua Marian sendiri, tidak ikut ke Pekanbaru. Usianya yang sudah lanjut, ditambah lagi sakit yang diderita mengharuskan mereka untuk menetap di rumah sambil menunggu jasad anaknya sampai disana.

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
Sempat Di-blacklist Koramil, Pembangunan Koperasi Merah Putih di Tuban Dikawal Babinsa
Kecelakaan Kereta dan KRL di Bekasi Timur, KAI Fokus Evakuasi Para Korban
11 Rekomendasi Gudeg Terenak di Jakarta, Kuliner Manis yang Tak Kalah Legit Seperti di Jogjakarta
Terkendala Lahan dan Faktor Teknis, 7 Koperasi Merah Putih di Sukoharjo Jawa Tengah Belum Dibangun
