Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 16 Oktober 2026 | 05.50 WIB

BMKG: Kualitas Udara di Sulsel Sangat Tidak Sehat

Sejak pemantauan akhir September hingga awal Oktober 2026, terjadi penurunan kualitas udara karena diselimuti asap dengan kategori tidak sehat. (ANTARA) - Image

Sejak pemantauan akhir September hingga awal Oktober 2026, terjadi penurunan kualitas udara karena diselimuti asap dengan kategori tidak sehat. (ANTARA)

JawaPos.com - Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) wilayah IV Makassar melansir hasil pemantauan kondisi kualitas udara pada sejumlah wilayah Sulawesi Selatan dampak polusi asap terutama di Kota Makassar dan sekitarnya dikategorikan sangat tidak sehat.

"Per hari ini, 14 Oktober 2026, dari perkembangan pembaharuan pengamatan naik menjadi sangat tidak sehat untuk wilayah Sulawesi Selatan," kata Prakirawan BMKG IV Makassar Nurahmi Utami di Makassar, dikutip Kamis (15/10).

Ia menjelaskan, sejak pemantauan akhir September hingga awal Oktober 2026, terjadi penurunan kualitas udara karena diselimuti asap dengan kategori tidak sehat. Namun hari ini, tingkat konsentrasi PM2.5 mencapai di angka 150,5 mikrogram per meter kubik (µg/m³) kategori sangat tidak sehat.

Dari hasil pengamatan, kata Utami mengemukakan, terjadi penumpukan asap di udara karena diduga dipicu dua faktor yaitu, dinamika pergerakan angin serta titik kebakaran lahan dan hutan (karhutla).

Selain itu, pola pergerakan angin timur dengan kencang membawa sebaran asap dari luar daerah itu mendorong asap dari wilayah Maluku menuju masuk ke wilayah Sulsel.

Faktor lainnya, karhutla lokal masih terjadi pada sejumlah titik pada sejumlah darah di Sulsel turut memperparah keadaan, hingga menambah penumpukan particular kering di atmosfer.

Kabut asap yang semakin tebal tidak hanya menyelimuti Kota Makassar dan sekitarnya, seperti di Kabupaten Gowa, Maros, serta sejumlah daerah lainnya di Sulsel.

Utami menuturkan, BMKG membedakan dua fenomena yang terjadi, yakni kategori fog atau kabut uap air dengan jarak pandang kurang dari satu kilometer, sedangkan haze atau kabut asap dengan jarak pandang kurang dari lima kilometer.

Kabut asap ini juga dapat menurunkan jarak penglihatan bila berkendara, karena memicu penurunan jarak pandang yang berpotensi membahayakan pengendara berlalu lintas.

Pekatnya kabut asap berpotensi meningkat jika karhutla tidak dapat diatasi atau dipadamkan. Kendati demikian, kualitas udara bisa membaik bila wilayah Sulsel diguyur hujan dengan intensitas sedang.

Editor: Estu Suryowati
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022

Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore