
Ilustrasi menu makan MBG. (Nur Chamim/Jawa Pos Radar Semarang).
JawaPos.com - Guna memastikan kualitas dan standar tinggi dalam pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG), SPPG di Sumba dan Tasikmalaya patut menjadi contoh. Dengan menggandeng petani lokal, SPPG tersebut mampu membangun ekosistem perekonomian yang saling menguntungkan dengan masyarakat sekitar.
Di Sumba ada SPPG Kadi Wano yang berada di wilayah Wewewa Timur, Sumba Barat Daya. Di bawah kepemimpinan Edwin Putra Kadege, SPPG tersebut berhasil membuktikan bahwa dapur MBG yang dijalankan dengan baik akan dinantikan oleh anak-anak di sekolah. Sehingga program MBG yang menjadi prioritas Presiden Prabowo Subianto bergulir dengan baik.
”Banyak anak yang datang ke sekolah tanpa sarapan karena keterbatasan ekonomi orang tua. Fakta di lapangan, guru-guru melapor anak-anak kini jauh lebih bersemangat sekolah meskipun jarak rumah mereka sangat jauh,” ungkap Edwin dalam keterangan resmi pada Kamis (19/3).
Keterangan itu bersesuaian dengan temuan Research Institute Of Socio-Economic Development (RISED) yang melakukan penelitian Dampak Awal Program MBG Terhadap Kesejahteraan Anak pada Februari 2026 lalu. Hasil survei RISED di 3 kabupaten dan kota di Jawa Tengah itu menunjukkan bahwa anak-anak jadi lebih ceria setelah program MBG berjalan.
”Sekitar separuh dari 1.800 responden orang tua siswa yang mengikuti survei kami menyatakan setuju bahwa anak menjadi lebih jarang sakit dan terlihat lebih ceria. 50 persen orang tua siswa menganggap terlihat lebih ceria, 48 persen orang tua menilai anak mereka menjadi lebih jarang sakit setelah menerima MBG,” beber Direktur RISED M. Fajar Rachmadi.
Tidak hanya menyajikan makanan bernutrisi bagi 2 ribu anak di 15 sekolah di Sumba Barat Daya, SPPG Kadi Wano telah membuktikan bahwa ketahanan pangan bisa dimulai dari pemberdayaan petani lokal. Buktinya, hampir seluruh kebutuhan sayur-mayur SPPG tersebut dipenuhi oleh kelompok tani setempat.
Alhasil keberadaan SPPG Kadi Wano membentuk ekosistem perputaran ekonomi yang nyata. Petani lokal tidak lagi bingung menjual hasil panennya karena SPPG bertindak sebagai pembeli siaga atau off taker. Selain SPPG Kadi Wano, SPPG Cibuntu di Kecamatan Taraju, Tasikmalaya juga menunjukkan sinergi yang tak kalah apik.
Berdasar data, tingkat pemenuhan pangan lokal untuk SPPG tersebut mencapai 85 persen. SPPG itu sudah berhasil menggandeng petani, pedagang pasar, hingga karang taruna desa setempat untuk bersinergi membangun ekosistem yang baik. Bahkan keberadaan SPPG telah memantik revolusi pertanian kecil-kecilan di Taraju.
Hal itu diakui oleh Mitra SPPG Cibuntu bernama Tino Rirantino. Dia menyampaikan bahwa kehadiran program MBG mendorong perubahan pola tanam petani. Bila sebelumnya buah-buahan harus didatangkan dari luar wilayah, kini para petani lokal mulai bersemangat menanam buah secara mandiri agar bisa diserap langsung oleh SPPG.
”Kami memfasilitasi petani agar hasil bumi mereka memiliki pasar yang jelas dan memberikan kontribusi positif bagi kesejahteraan warga desa,” ujarnya.
