
Pengasuh Pondok Pesantren Mamba’ul Ma’arif Denanyar Jombang, Abdussalam Shohib alias Gus Salam. (Istimewa)
JawaPos.com - Pengasuh Pondok Pesantren Mamba’ul Ma’arif Denanyar Jombang, Abdussalam Shohib mengecam perang yang terjadi antara Iran, Amerika Serikat dan Israel. Dia menilai tindakan Amerika dan Israel telah membuat situasi geopolitik di Timur Tengah menjadi tidak kondusif.
Hal itu disampaikan Gus Salam dalam Peringatan Nuzulul Quran yang dirangkaikan dengan penutupan khataman kitab Ramadhan, serta doa untuk bangsa Iran di Denanyar, Jombang, Jawa Timur, Jumat (7/3).
“Kegiatan ini bukan hanya ungkapan empati untuk rakyat Iran dan Palestina, tetapi juga bentuk dukungan atas nama kemanusiaan dan keadilan, terutama kepada sesama saudara muslim di dunia,” ujar Gus Salam.
Dia menyoroti banyaknya korban jiwa di tengah bulan suci Ramadhan akibat perang ini. Terlebih, korban yang berjatuhan banyak dari kalangan masyarakat sipil.
Gus Salam menilai serangan tersebut sebagai tindakan brutal yang tidak hanya melanggar prinsip kemanusiaan, tetapi juga mencederai hukum internasional. Terlebih, serangan dilakukan di tengah upaya mediasi konflik antara Iran dan Amerika Serikat yang dimediasi oleh Oman.
“Serangan dilakukan saat umat Islam menjalankan ibadah Ramadhan dan telah menelan banyak korban sipil, terutama anak-anak. Ini tindakan yang sulit diterima oleh akal sehat,” imbuhnya.
Baca Juga:Aneka Olahan Ikan Pari: Resep Iwak Pe Kuah Tauco, Perpaduan Rasa Jawa dan Chinese Food yang Menggoda
Dalam kesempatan ini, Gus Salam juga menyoroti situasi terkini di wilayah Gaza Strip dan Tepi Barat. Sebab, wilayah tersebut masih menjadi sasaran operasi militer Israel.
“Eskalasi konflik saat ini berpotensi meluas karena keterlibatan sejumlah negara di Timur Tengah. Hal ini tidak lepas dari keberadaan pangkalan militer Amerika Serikat di berbagai negara kawasan Teluk seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Qatar, Bahrain, Irak, dan Kuwait yang menjadi sasaran serangan balasan Iran,” jelasnya.
Selain itu, konflik juga berpotensi meluas ke negara lain di kawasan seperti Lebanon melalui kelompok Hezbollah, serta memicu ketegangan baru di kawasan Kaukasus, termasuk di Azerbaijan.
“Konflik global tersebut tidak terlepas dari peran dua tokoh politik dunia, yakni mantan Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu yang dinilainya sebagai aktor utama di balik berbagai konflik di kawasan Timur Tengah,” tandasnya.
