
Ilustrasi pembagian kupon bansos di Jakarta. (dok. Jaawa Pos/Fedrik Tarigan)
JawaPos.com - Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Disdukcapil) Kota Jogjakarta kembali tancap gas mendorong aktivasi Identitas Kependudukan Digital (IKD). Meski telah mencapai target nasional, dinas ini menetapkan ambisi baru yakni capaian aktivasi di atas 10 persen dari total warga ber-KTP.
Dikutip dari Radar Jogja (JawaPos Group, hingga Senin (17/11), aktivasi IKD Jogja sudah menyentuh angka 32.827 pengguna atau sekitar 10 persen dari 327.782 penduduk Kota Jogja yang memiliki KTP.
Kepala Disdukcapil Kota Jogja, Septi Sri Rejeki, mengatakan berbagai strategi tambahan sudah disiapkan untuk mendorong warga melakukan aktivasi.
"Saat ini kami sudah membagikan undangan kepada penduduk di kemantren Umbulharjo by name by address, kemudian secara berkala menyasar kemantren lain," ujar Septi dikutip Selasa (17/11).
Menurut Septi, metode jemput bola dinilai efektif untuk menjangkau warga yang belum familiar dengan layanan digital.
Percepatan aktivasi IKD bukan tanpa alasan. Ke depan, seluruh layanan publik, termasuk penyaluran bantuan sosial (bansos), akan terhubung dengan sistem digital dan membutuhkan IKD. Kini pemerintah telah menerapkan penggunakan IKD dalam pencairan bansos Program Keluarga Harapan (PKH).
Septi menekankan pentingnya persiapan sejak dini agar warga tidak kerepotan nantinya.
"Kami tidak ingin, ketika IKD dibutuhkan masyarakat baru mengurus," tegasnya.
Untuk mempermudah pelayanan, Disdukcapil membuka layanan akhir pekan setiap Sabtu dan Minggu pukul 08.00–11.00. Warga hanya perlu membawa undangan resmi, KTP, dan smartphone untuk mengurus IKD.
Meski angka aktivasi sudah mencapai target awal, Disdukcapil masih menemui sejumlah kendala. Sebagian warga, terutama lanjut usia, belum memiliki perangkat smartphone yang mendukung aplikasi IKD. Selain itu, masih banyak masyarakat yang belum memahami manfaat IKD atau merasa ragu karena takut menjadi korban penipuan.
"Belum adanya edaran dari pemerintah pusat untuk mewajibkan penggunaan IKD juga menjadi kendala kami mendorong aktivasi di daerah," jelas Septi.
Kepala Bidang Pengelolaan Informasi Administrasi Kependudukan dan Pemanfaatan Data Dyah Intan Usaratri mengingatkan masyarakat agar waspada terhadap modus penipuan berkedok aktivasi IKD yang masih sering terjadi.
Menurutnya, pelaku biasanya menggunakan pesan WhatsApp atau telepon dengan mengatasnamakan petugas Disdukcapil.
"Jadi jika undangan disampaikan lewat pesan singkat, maka dapat dipastikan penipuan," ungkap Intan.
Ia menegaskan bahwa undangan resmi hanya diberikan melalui perangkat kampung seperti ketua RT/RW, bukan melalui pesan pribadi.

Kasus Hantavirus di Indonesia, Kemenkes: Saat ini Ada 2 Kasus Suspek di Jakarta dan Yogyakarta
14 Spot Gudeg di Bandung dengan Cita Rasa Khas Yogyakarta yang Autentik dan Menggugah Selera
Jadwal Persipura vs Adhyaksa FC Play-Off Promosi Super League, Siaran Langsung, dan Live Streaming
10 Batagor Terenak di Bandung dengan Bumbu Kacang Istimewa, Kuliner Murah Meriah dengan Rasa Premium
Pertandingan Perpisahan Bruno Moreira? Kapten Persebaya Surabaya Kirim Sinyal Emosional Jelang Lawan Persis Solo
12 Kuliner Tahu Campur Paling Enak di Surabaya dengan Kuah Petis Kental yang Selalu Jadi Favorit Warga Lokal hingga Wisatawan
11 Kuliner Gudeg Paling Recomended di Surabaya dengan Harga Murah Meriah Tapi Rasa Tidak Murahan
15 Oleh-oleh Paling Ikonik dan Khas dari Kota Surabaya, Rasanya Autentik dan Tiada Duanya, Wajib Kamu Bawa Pulang!
7 Hidden Gem Kuliner Sunda di Bogor yang Enak dan Wajib Dicoba, Suasana Asri dan Menunya Autentik
12 Rekomendasi Kuliner Malam di Surabaya dengan View Terbaik untuk Nongkrong Santai dan Pemandangan yang Memukau
