Automatic Weather Station (AWS) yang dipasang oleh mahasiswa KKN-T Inovasi IPB University pada Sabtu (19/7). (Dok. IPB University)
JawaPos.com - Kondisi cuaca sangat dibutuhkan semua lapisan masyarakat untuk melaksanakan kegiatannya sehari-hari, termasuk kalangan petani. Dengan dapat membaca seperti apa cuaca hari ini atau beberapa hari mendatang, mereka bisa mengoptimalkan kegiatan pertaniannya. Apakah melakukan penanaman, pembibitan, atau kegiatan lain.
Selama ini petani di desa kerap terpaku dengan cara tradisional dalam membaca cuaca. Tidak jarang juga mereka salah duga. Pagi cerah, siang sudah hujan lagi. Akibatnya pekerjaan yang dilakukan pada pagi hari kerap dianggap sia-sia atau gagal.
Nah, petani di Dusun Kedungpoh Kidul, Kalurahan Kedungpoh, Kabupaten Gunungkidul, Jogjakarta, mendapat pemahaman baru dalam membaca prakiraan cuaca. Prakiraan cuaca itu dibaca menggunakan alat ala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).
Alat itu bernama Automatic Weather Station (AWS) yang dipasang oleh mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Tematik Inovasi (KKN-T Inovasi) IPB University.
Muchayat Aziz Syahputra yang menjadi salah satu mahasiswa peserta KKN mengatakan, inisiatif itu mendukung pertanian presisi yang adaptif terhadap perubahan iklim. Yaitu, dengan menyediakan data cuaca aktual dan prakiraan harian yang dapat diakses masyarakat secara daring.
Pemasangan AWS dilakukan pada pukul 08.00–10.00 WIB di area Lumbung Mataraman. Dilanjutkan dengan kegiatan sosialisasi dan pelatihan penggunaan data cuaca pada pukul 10.00–12.30 WIB di Balai Dusun Kedungpoh Kidul. AWS yang dipasang merupakan bagian dari program bertema “Empowering Agromaritime Society for Socio-Economic Resilience”.
"Alat ini mampu merekam data seperti suhu udara, kelembaban, curah hujan, intensitas cahaya matahari, serta kecepatan dan arah angin," ujar Muchayat Aziz kepada media pada Sabtu (19/7).
Adapun kegiatan sosialisasi dan pelatihan penggunaan data cuaca itu dihadiri oleh Ketua Badan Permusyawaratan Kalurahan (Bamuskal), para Kepala Dusun se-Kalurahan Kedungpoh, anggota Kelompok Wanita Tani (KWT), serta puluhan warga setempat.
Aziz--demikian Muchayat Aziz disapa mengatakan, kegiatan penyediaan AWS itu merupakan dukungan dari platform Sinaubumi sebagai mitra penyedia server. Data yang terekam di AWS dapat dipantau secara real-time dan digunakan untuk membuat prakiraan kondisi cuaca hingga 10 hari ke depan.
"Warga dikenalkan pada komponen AWS, cara membaca data, serta potensi pemanfaatannya dalam menentukan waktu tanam, menyusun strategi irigasi, dan mengantisipasi risiko pertanian," ungkap Aziz yang menyebut sosialiasi berlangsung interaktif.

Pertandingan Perpisahan Bruno Moreira? Kapten Persebaya Surabaya Kirim Sinyal Emosional Jelang Lawan Persis Solo
Mengenal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026: Aturan, Materi, dan Ambang Batas
Korban Rudapaksa di Cipondoh Jalani Trauma Healing, DP3AP2KB Kota Tangerang Beri Pendampingan Khusus
Prediksi Skor Bayern Munchen vs PSG: Siapa yang akan Bertemu Arsenal di Final Liga Champions?
10 Rekomendasi Restoran Paling Populer di Surabaya dengan Menu Lengkap dan Harga Variatif
Mobil Plat L Ringsek di Malang Diserang 300 Orang? Polres Malang Turun Tangan, Ini Fakta Terbarunya
11 Kuliner Gudeg Paling Recomended di Surabaya dengan Harga Murah Meriah Tapi Rasa Tidak Murahan
15 Rekomendasi Kuliner Mantap Dekat Bandara Juanda Surabaya, Cocok untuk Isi Waktu Sebelum Check-in
10 Batagor Terenak di Bandung dengan Bumbu Kacang Istimewa, Kuliner Murah Meriah dengan Rasa Premium
12 Kuliner Mie Kocok di Bandung Paling Enak dengan Kuah Gurih yang Bikin Nagih Sejak Suapan Pertama
