
Ratusan Guru Ngaji Semarang Terima BSU, Gunakan untuk Keperluan Santri Guru ngaji dari TPQ, Madin, dan Pesantren datang silih berganti untuk mendapatkan Bantuan Subsidi Upah (BSU), Aula Kantor Kementerian Agama Kota Semarang, Jawa Tengah, Kamis (17/7/2025
JawaPos.com - Malang nian nasib seorang guru ngaji madrasah diniyah (madin) di Ngampel, Karanganyar, Demak, Jawa Tengah (Jateng). Dia terpaksa menjual sepeda motornya untuk membayar ganti rugi Rp 25 juta kepada salah seorang wali muridnya.
Dikutip dari pemberitaan Radar Semarang pada Jumat (18/7), guru madin itu diduga menampar salah seorang muridnya. Tindakan itu membuat wali muridnya murka dan meminta ganti rugi dengan angka yang cukup besar bagi seorang guru ngaji berusia lanjut.
Peristiwa itu bermula saat proses belajar-mengajar berlangsung di salah satu madin di Demak. Saat para murid bercanda hingga terjadi saling lempar sandal, ada sandal yang mengenai peci guru madin tersebut. Karena itu, murid yang melempar sandal diberi hukuman.
Karena tidak terima dengan hukuman tersebut, wali murid membuat surat pernyataan. Pada surat pernyataan yang sudah ditindaklanjuti oleh kedua belah pihak tertulis bahwa guru madin itu harus membayar ganti rugi dengan nilai mencapai Rp 25 juta.
Berdasar informasi yang beredar, guru madin tersebut menyanggupi membayar Rp 15 juta dari hasil penjualan sepeda motor miliknya. Sementara kekurangan Rp 10 juta masih harus menunggu. Karena merasa iba, banyak warganet menggalang donasi untuk membantu guru madin tersebut.
Gus Miftah melalui akun media sosial miliknya turut mengomentari informasi yang beredar luas di media sosial itu. Dia mengunggah video yang menunjukkan guru madin yang sudah tampak sepuh menandatangani surat pernyataan. Pada unggahannya, Gus Miftah menyertakan caption berbunyi:
Guru madrasah diniyah atau guru ngaji adalah sosok yang sangat ikhlas mendidik santri dan muridnya, mereka biasanya mengajar di mushola/langgar atau masjid yang ada desa dan perkampungan.
Bahkan banyak diantara mereka tidak menerima fee/syahriah sama sekali.
Zaman benar2 sudah berubah, zaman dahulu banyak santri dan anak didik ketika dapat pembinaan atau hukuman fisik.
Ketika mengadu kepada kedua orang tuanya, orang tua selalu menyalahkan anaknya sendiri bahkan ikut memberikan tambahan hukuman bagi anaknya.
Sekarang? Kenapa justru banyak orang tua melaporkan gurunya ke kantor polisi, dan membawa persoalan seperti ini ke meja hukum” tulisnya dalam video unggahan tersebut.
Sampai hari ini (18/7), unggahan tersebut sudah menjangkau lebih dari 478 ribu pengguna media sosial dan menuai ribuan komentar dari warganet.

Persib Bandung Dilaporkan Berburu 2 Winger Kiri Baru demi Prestasi di AFC, Nilai Pasarnya Lewati Thom Haye!
Persebaya Surabaya Dikabarkan Rekrut 2 Striker dan 2 Bek Baru, Ada Punggawa Tim Nasional
11 Kuliner Maknyus Sekitar Kebun Raya Bogor, Tempat Makan yang Sejuk, Nyaman dan Enak
Jadwal Shalat Idul Adha 2026 di Jakarta, Bandung, Surabaya, dan Kota Besar Lainnya
Dulu Antreannya Mengular dan Jadi Buah Bibir Media Sosial, Kini Terlihat Lengang: Mengulik 5 Tempat Makan yang Sempat Viral Lalu Sepi Pengunjung
16 Tempat Wisata Terbaik di Pandaan Pasuruan yang Buat Liburan Penuh Panorama Alam, Pegunungan dan Ketenangan
20 Cafe Paling Instagramable di Surabaya, Tempat Ngopi yang Bukan Hanya Kuliner Enak tapi Juga Estetik
14 Angkringan Paling Nikmat di Surabaya, Tempat Nongkrong Seru Sambil Kuliner dan Jajan
Breaking News! Persebaya Surabaya Deal Rekrut Yuran Fernandes, Green Force Dapatkan Pengganti Gustavo Fernandes
10 Kuliner Lezat Dekat Stasiun Pasar Turi Surabaya, dari Lontong Balap hingga Nasi Bebek
