Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 15 Juli 2025 | 21.24 WIB

Heboh Ritual Putih di Puncak Gunung Lawu, Netizen Heboh: Sekte? Ziarah? Atau yang Lain?

Viral sekolompok orang berpakaian serba putih lakukan ritual di Gunung Lawu. (TikTok). - Image

Viral sekolompok orang berpakaian serba putih lakukan ritual di Gunung Lawu. (TikTok).

JawaPos.com - Jagat maya mendadak gempar gara-gara satu video berdurasi singkat. Segerombolan orang, laki-laki dan perempuan, berpakaian serba putih, naik ke puncak Gunung Lawu dan mengelilingi Tugu Hargo Dumilah dengan penuh kekhusyukan. 

Dari kemeja putih panjang, gamis, hingga mukena, mereka tampak seperti sedang mengikuti prosesi ritual yang mengundang tanda tanya besar: Apa sebenarnya yang sedang mereka lakukan?

Video itu diunggah oleh akun TikTok salah satunya oleh @adtyaaidrt dan langsung meledak di media sosial. Dalam caption-nya disebutkan, "Kejadian di puncak Lawu hari Jumat kemarin, dari jam 10.00 sampai sekitar jam 12.30, sepertinya sedang melakukan ritual karena masih dalam bulan Suro."

Bulan Suro, bagi masyarakat Jawa, memang dikenal sebagai bulan sakral yang lekat dengan berbagai laku spiritual. Tapi tetap saja, pemandangan belasan orang berseragam putih mengelilingi tugu di atas gunung dengan sunyi dan khidmat, tak urung membuat netizen geger.

Komentar pun ramai: “Ini aliran apa nih?”
“Serem tapi penasaran...” kata netizen.

Menjawab kegelisahan publik, pihak Perhutani BKPH Lawu Selatan langsung turun tangan. Mulyadi, selaku Asisten Perhutani, memastikan bahwa ritual itu bukanlah bagian dari ajaran sesat atau aktivitas menyimpang.

“Kegiatan itu digelar sebagai ziarah spiritual, penghormatan kepada Sunan Lawu,” jelas Mulyadi.

Ternyata, kegiatan ini bukan hal baru. Rombongan tersebut berasal dari Nahdlatul Ulama (NU) Purwodadi dan sudah rutin melakukan ziarah ke Lawu setiap Jumat selama 14 tahun terakhir.

“Sudah berlangsung selama 14 tahun. Mereka datang setiap Jumat untuk berdoa, bertawasul, dan salat Jumat di depan Tugu Triangulasi (Hargo Dumilah),” ungkap Mulyadi.

Uniknya, para peserta ziarah ini tidak langsung naik gunung dengan pakaian putih. Mereka baru mengenakannya sesampainya di puncak, sebagai bentuk simbol kesucian spiritual.

“Baju putih dipakai setelah sampai di atas, seperti hendak salat. Jadi ada makna spiritualnya,” tambah Mulyadi.

Meski ritual tersebut tidak menyalahi aturan agama ataupun hukum, Perhutani tetap akan mengevaluasi jalur komunikasi dan prosedur perizinan kegiatan serupa.

“Kami akan perketat koordinasi agar tidak ada kebingungan atau keresahan di kalangan pendaki dan masyarakat,” tegasnya.

Gunung Lawu memang bukan gunung biasa. Sejak lama, ia dikenal sebagai tempat sakral, tempat orang-orang bertapa, mencari petunjuk, dan menjalani laku prihatin. Terlebih saat bulan Suro, aura mistis Lawu seolah semakin mengental.

Polisi juga membenarkan adanya aktivitas spiritual tersebut, dan memastikan tidak ada unsur pelanggaran.

Editor: Bintang Pradewo
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore