Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 10 Februari 2025 | 23.50 WIB

Ritual Unduh Tirta, Tradisi Menjaga Lingkungan dengan Kearifan Lokal

Warga yang terlibat dalam Ritual Unduh Tirta sedang mengambil makanan di Tumpeng Sedekah Bumi (Wahyu Umattulloh Al Iman/JawaPos.com) - Image

Warga yang terlibat dalam Ritual Unduh Tirta sedang mengambil makanan di Tumpeng Sedekah Bumi (Wahyu Umattulloh Al Iman/JawaPos.com)

JawaPos.com - Masyarakat Desa Wotanmas Jedong, Ngoro, Mojokerto, Jawa Timur, menggelar tradisi Ritual Unduh Tirta Air Terjun Sabrangan di sumber mata air Sabrangan yang berlokasi di area pendakian Gunung Penanggungan Via Genting pada Minggu (9/2).

Ritual Unduh Tirta Air Terjun Sabrangan merupakan bentuk penghormatan masyarakat desa Wotanmas Jedong kepada air yang telah memberikan kebermanfaatan bagi setiap makhluk hidup. Tujuan ritual itu sebagai bentuk rasa syukur manusia kepada Tuhan yang telah memberikan air sebagai pemenuh kebutuhan manusia.

Pimpinan Padepokan Astana Jabal Sirr Abdul Wahid menjelaskan, filosofi Ritual Unduh Tirta berhubungan dengan melestarikan mata air. "Maksud dari ritual unduh tirta di Air Terjun Sabrangan kalau dari segi kata unduh berarti mengambil, jika ingin mengambil harus mau merawat, melestarikan, menjaga dan menanam," ujar Abdul Wahid.

Penanaman bibit bambu dipilih sebagai pohon yang mampu menambah debit mata air lebih besar lagi. Begitu juga dengan fungsi pohon bambu, untuk mempercepat proses pengembalian air yang nantinya akan memunculkan sumber mata air yang baru.

Pagelaran wayang di area sumber Sabrangan. (Wahyu Umattulloh Al Iman/JawaPos.com)

Mata air Sabrangan mengalir di berbagai desa, seperti Desa Kunjoro Wesi, Dusun Kandangan, Desa Manduro, Desa wotanmas Jedong, dan Dusun Genting.

Asal muasal acara ini dari tradisi selamatan gegrojogan yang dilakukan turun temurun oleh pendahulu. Lantas acara itu kini berubah menjadi ritual unduh tirta. Ritual itu diselenggarakan pertama kali pada 2023. Mulai saat ini acara Ritual Unduh Tirta akan dilakukan rutin satu tahun sekali.

Berbagai kegiatan meriah dilakukan oleh masyarakat, anak anak Dusun Genting Mojokerto, dan dalang asal Jawa Tengah Ki Ompong Sudarsono. Ada arakan tumpeng hasil bumi, penanaman bibit bambu, Wayangan sumber, dan tari anak-anak.

Dalang Ki Ompong Sudarsono asal Temanggung Jawa Tengah menampilkan cerita pewayangan singkat yang berjudul Bimo suci. "Pagelaran wayang ini selain berterima kasih kepada Tuhan, juga kita mengenalkan tentang energi-energi alam yang ada, antara lain energi tanah, panas, angin, dan air. Dari pengenalan energi-energi alam kita bisa mengajak masyarakat untuk menghargai atau menjaga alam agar tetap lestari," Kata Dalang Ki Ompong Sudarsono.

Tumpeng sedekah bumi yang akan diarak menuju sumber Sabrangan. (Wahyu Umattulloh Al Iman/ JawaPos.com)

Selepas acara penanaman dan pewayangan masyarakat yang hadir bersama-sama menikmati tumpeng hasil bumi yang dibawa dari pos pendakian Gunung Penanggungan via Genting sampai sumber mata air Sabrangan. Tumpeng hasil bumi disimbolkan sebagai rasa syukur atas keberkahan Tuhan dengan tidak lepas dari keberadaan sumber mata air yang mampu mengaliri area pertanian masyarakat desa.

Editor: Ilham Safutra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore