Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 20 Oktober 2023 | 12.47 WIB

Bali Tetapkan Status Siaga Darurat Kekeringan14 Hari ke Depan

Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto bersama Pj Gubernur Bali Sang Made Mahendra Jaya dalam rapat koordinasi penanganan darurat bencana, Denpasar, Kamis (19/10). - Image

Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto bersama Pj Gubernur Bali Sang Made Mahendra Jaya dalam rapat koordinasi penanganan darurat bencana, Denpasar, Kamis (19/10).

JawaPos.com–Penjabat (Pj) Gubernur Bali Sang Made Mahendra Jaya menetapkan status siaga darurat di Pulau Dewata selama 14 hari ke depan. Tindakan itu merespons kondisi bencana kebakaran dan kekeringan yang terjadi belakangan.

”Dengan melihat perkembangan situasi yang ada, untuk perlindungan masyarakat dan meningkatkan kesiapsiagaan, serta memudahkan akses, kami sepakat menetapkan 14 hari ke depan status siaga darurat, mulai hari ini,” kata Sang Made Mahendra Jaya seperti dilansir dari Antara di Denpasar.

Orang nomor satu di Pemprov Bali itu menyampaikan, selama 14 hari ke depan pihaknya akan berupaya mempercepat pemadaman api yang saat ini sedang terjadi. Termasuk menyalurkan bantuan kepada daerah-daerah yang dalam kondisi krisis air bersih atau kekeringan.

”Ini (status siaga darurat) eskalasi yang paling rendah ya menurut undang-undang, sehingga nanti kita gerakan dan aksesnya (dalam menangani bencana) lebih mudah, baik melakukan berbagai kegiatan termasuk memberi ruang dukungan,” ujar Sang Made Mahendra Jaya.

Dalam rapat koordinasi penanganan darurat bencana bersama BNPB itu, Kepala Pelaksana BPBD Bali I Made Rentin menambahkan, ada dua permohonan dalam situasi tersebut. Yakni permohonan kelengkapan alat untuk penanganan kedaruratan kekeringan di seluruh Bali. Selanjutnya, BPBD Bali memohon agar diterapkan teknologi modifikasi cuaca (TMC) mengingat berdasar data BMKG Wilayah III Denpasar terdapat tiga kecamatan di Provinsi Bali yang lebih dari 94 hari berstatus hari tanpa hujan (HTH).

”Pertama Kecamatan Kubu, Karangasem; kedua Kubutambahan, Buleleng; ketiga Gerokgak, Buleleng. Oleh karena itu menjadi urgen dan mendesak bagi kami di Bali untuk menerapkan TMC,” papar Rentin.

Menanggapi permohonan Pemprov Bali, Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen TNI Suharyanto meminta agar daerah segera mengajukan peralatan yang dibutuhkan. Terkait rencana memodifikasi cuaca, pihaknya berjanji menurunkan armada dan peralatan penyemaian. Namun, masih menunggu pesawat yang saat ini sedang difokuskan untuk menangani bencana di daerah lain.

”BNPB sudah melaksanakan TMC 3 bulan terakhir terus menerus. Permasalahannya itu di sarana prasarananya. Jadi kita hanya punya lima pesawat, itu pun lima dari swasta. Lima pesawat itu fokus ke Kalimantan dan Sumatera. Sekarang kita fokus ke Riau dan Sumatera Selatan. Setelah reda kita laksanakan di Bali ya,” tutur Suharyanto.

”Satu pesawat ini bisa untuk Bali lah, karena Bali banyak event-event internasional, kalau kondisinya kurang baik malu juga sebagai negara. Pasti itu ya TMC, tapi juga kita lihat prediksi BMKG,” sambung dia.

Sementara itu, menurut Koordinator Bidang Data dan Informasi BMKG Wilayah III I Nyoman Gede Wiryajaya untuk melakukan TMC pihaknya harus memastikan posisi dan keberadaan awan. Setelah disetujui untuk menerapkan teknologi tersebut, BMKG akan melakukan pemantauan posisi dan arah pergerakan awan ke Bali, baik melalui arah Banyuwangi, atau pun Lombok.

Editor: Latu Ratri Mubyarsah
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore