
JALUR DARAT: Petugas gabungan memadamkan titik api di kawasan lereng Gunung Bromo. Hingga kemarin (13/9), upaya pemadaman masih berlangsung.
JawaPos.com – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah gunung besar di Jatim pada musim kemarau kali ini begitu besar. Efeknya pun berantai. Selain kerugian begitu besar, biaya pemadaman yang harus dikeluarkan juga tidak sedikit. Mengingat, hingga kini upaya pemadaman berlangsung.
Hingga kemarin (13/9), pemadaman karhutla dilakukan di kawasan Gunung Bromo. Meski sudah jauh berkurang, titik api masih terlihat di sejumlah lokasi. Misalnya, di Bukit Keciri, Njemplang, dan Watu Gede.
Selain pemadaman lewat jalur darat dengan melibatkan tim gabungan, upaya mematikan api kembali dilakukan via jalur udara. ”Hari ini (kemarin, Red) ada water bombing. Dua helikopter melakukan pemadaman sejak pagi sampai sore,” kata Kalaksa BPBD Jatim Gatot Soebroto.
Terkait dengan besaran dana yang diperlukan untuk penanganan karhutla, baik di Arjuno maupun Bromo, Gatot tidak menampik bahwa anggaran yang dikeluarkan memang tidak sedikit. ”Hanya, sejauh ini angkanya belum diketahui karena masih dihitung,” ujarnya.
Namun, berdasar hitung-hitungan yang pernah dibuat Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), pemadaman karhutla di Jatim kali ini sangat besar. Yang paling terasa adalah penggunaan water bombing.
Jika dirata-rata, per hari biayanya diestimasi mencapai Rp 450 juta (dengan asumsi setiap jamnya senilai Rp 150 juta). Proses ini sudah berlangsung lebih dari 10 hari. Artinya, biayanya bisa tembus Rp 4,5 miliar.
Padahal, proses water bombing masih berlangsung. Jadi, kebutuhan dananya masih bertambah. Belum termasuk kebutuhan operasional pemadaman lainnya. Mulai penyediaan logistik, personel, hingga lainnya.
Di bagian lain, imbas maraknya karhutla di wilayah pegunungan di Jatim, Perhutani Divisi Regional (Divre) Jatim menutup seluruh jalur pendakian. Kebijakan itu diterapkan hingga batas waktu yang belum ditentukan.
Setidaknya ada sejumlah jalur pendakian yang ditutup. Di antaranya, Gunung Lawu via Cemoro Sewu, Gunung Penanggungan, Gunung Butak, dan Gunung Kelud.
Kepala Perhutani Divre Jatim Amas Wijaya menyampaikan, penutupan dilakukan pada kawasan yang menjadi wilayah Perhutani. ”Surat edaran diberikan kepada seluruh pemangku wilayah kawasan hutan,” ujar Amas.
Menurut dia, instruksi penutupan tersebut merupakan upaya preventif dalam mencegah kebakaran hutan yang akhir-akhir ini melanda sejumlah wilayah. ”Seluruh pengelola hutan diminta untuk selalu siaga dalam mencegah dan mengendalikan kebakaran hutan. Serta berkoordinasi dengan semua pemangku kepentingan,” tuturnya. (hen/c14/ris)

104 Pusat Perbelanjaan di Jakarta Bakal Pesta Diskon sampai 70 Persen, Catat Waktunya!
Pulang ke Persebaya Surabaya? Andik Vermansah Dapat Tawaran dari 5 Klub, Ingin Kembali Bermain di Kasta Tertinggi
11 Rekomendasi Es Teler Terlaris di Jogja, Selalu Jadi Favorit Pecinta Dessert Tradisional Warga Lokal Maupun Pelancong!
16 Tempat Wisata Terbaik di Pandaan Pasuruan yang Buat Liburan Penuh Panorama Alam, Pegunungan dan Ketenangan
Jadwal Moto3 Italia 2026! Veda Ega Pratama Ditantang Tak Goyah di Mugello demi Salip Rival Klasemen
10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
8 Spot Kuliner di Kota Tua Surabaya, Makan Enak dengan Suasana Vintage dan Pemandangan yang Memanjakan Mata!
Mariano Peralta Merapat ke Persija Jakarta? Manajer Borneo FC Langsung Buka Suara
15 Kuliner Soto Ayam Paling Lezat di Surabaya dengan Kuah Kuning Pekat, Koya Memikat dan Topping Nikmat
Berburu Oleh-Oleh Khas Pasuruan? Ini 15 Buah Tangan yang Cocok untuk Keluarga di Rumah Berdasarkan yang Paling Dicari Wisatawan
