
ASRI: Pemandangan di Rowo Bayu, Dusun Sambungrejo, Desa Bayu, Kecamatan Songgon, Minggu (22/5). Tempat itu disebut-sebut sebagai lokasi asli terjadinya kisah yang diangkat dalam film KKN di Desa Penaril. (Salis Ali/Jawa Pos Radar Banyuwangi)
JawaPos.com - Film bertajuk KKN di Desa Penari tengah menjadi perbincangan publik negeri ini. Lebih dari 7 juta orang sudah menyaksikan film yang diklaim diangkat dari kisah nyata itu. Tak ayal, publik dibuat penasaran. Di mana tempat aslinya desa yang diceritakan penuh misteri tersebut.
Setelah film itu dirilis dan booming, misteri tentang lokasi asli desa tersebut kembali dicari. Dan, meski masih memicu pro-kontra, ”Desa Penari” disebut-sebut berada di Banyuwangi. Apalagi, di film tersebut, ada begitu banyak adegan yang seakan ”mengarahkan” bahwa cerita tentang kejadian mistis yang menimpa sejumlah mahasiswa yang sedang KKN itu terjadi di sana.
Jawa Pos Radar Banyuwangi menelusuri sejumlah desa yang disebut-sebut sebagai ”Desa Penari”. Salah satunya adalah Desa Bayu di Kecamatan Songgon. Di sana terdapat petilasan bernama Rowo Bayu yang disebut-sebut lokasi kegiatan KKN mahasiswa sebuah perguruan di Surabaya itu.
Benarkah? Ditemui di kediamannya, Kepala Desa Bayu Sugito menceritakan fakta menarik. Dia mengakui, hal itu terjadi sekitar 2009 (persis dengan waktu kisah yang diangkat dalam film tersebut). ”Saya tanyakan ke perangkat desa. Mereka mengaku (pernah ada, Red) 11 mahasiswa dari Surabaya KKN di sini,” katanya, Minggu (22/5).
Awalnya rombongan datang ke Rowo Bayu. Tapi, ada dua anak yang memisahkan diri dan masuk hutan. Ending ceritanya pun persis dengan kisah dalam film maupun cerita aslinya yang diunggah di salah satu akun media sosial. ”Setelah kembali ke desa, mereka berdua tiba-tiba sakit keras. Mereka dipulangkan dan beberapa bulan kemudian meninggal,” ungkapnya.
Meski membenarkan adanya peristiwa itu, Sugito tidak yakin bahwa kisah KKN di Desa Penari itu terjadi di desanya. Sebab, di sana tidak pernah ada sanggar tari. ’’Kalau Desa Penari saya jamin bukan di sini. Kalau kisah itu, mungkin iya. Tapi, tidak ada pembuktiannya. Makanya, kami sedang mengumpulkan data-data terkait hal itu,” katanya.
Sugito juga mengakui di desanya dulu terdapat kampung yang kini sudah ”hilang”. Namanya Darungan atau Pendarungan. Dulu ada 10 rumah di sana. Tapi, pada 2010 warga mulai meninggalkan tempat itu.

Pertandingan Perpisahan Bruno Moreira? Kapten Persebaya Surabaya Kirim Sinyal Emosional Jelang Lawan Persis Solo
11 Kuliner Gudeg Paling Recomended di Surabaya dengan Harga Murah Meriah Tapi Rasa Tidak Murahan
Mengenal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026: Aturan, Materi, dan Ambang Batas
10 Batagor Terenak di Bandung dengan Bumbu Kacang Istimewa, Kuliner Murah Meriah dengan Rasa Premium
Prediksi Skor Bayern Munchen vs PSG: Siapa yang akan Bertemu Arsenal di Final Liga Champions?
14 Spot Gudeg di Bandung dengan Cita Rasa Khas Yogyakarta yang Autentik dan Menggugah Selera
7 Hidden Gem Kuliner Sunda di Bogor yang Enak dan Wajib Dicoba, Suasana Asri dan Menunya Autentik
13 Gudeg Paling Enak di Solo dengan Harga Terjangkau, Rasa Premium, Cocok untuk Kulineran Bareng Keluarga!
12 Rekomendasi Kuliner Malam di Surabaya dengan View Terbaik untuk Nongkrong Santai dan Pemandangan yang Memukau
Prediksi Skor Bayern Munchen vs PSG: Sejarah Die Roten Selalu Lolos dari Semifinal Liga Champions, Masih Dominan Lawan Klub Ligue 1
