Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 20 Agustus 2020 | 01.35 WIB

Ritual Mubeng Beteng Keraton Ditiadakan Demi Cegah Covid-19

Sejumlah Abdi Dalem Keraton Jogjakarta membawa gunungan saat prosesi Grebeg Syawal di Masjid Gede Kauman Jogjakarta tahun lalu. Andreas Fitri Atmoko/Antara - Image

Sejumlah Abdi Dalem Keraton Jogjakarta membawa gunungan saat prosesi Grebeg Syawal di Masjid Gede Kauman Jogjakarta tahun lalu. Andreas Fitri Atmoko/Antara

JawaPos.comLampah budaya Tapa Bisu Mubeng Beteng Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat yang biasa digelar setiap malam tahun baru Jawa 1 Sura atau tahun baru Islam 1 Muharam, ditiadakan untuk menghindari penularan Covid-19.

”Ditiadakan karena kondisi pandemi Covid-19 ini. Kalau dijalankan yang bergabung banyak dan itu sangat berbahaya,” kata Pengageng Tepas Dwarapura Kraton Ngayogyakarta KRT Jatiningrat seperti dilansir dari Antara di Jogjakarta pada Rabu (19/8).

Menurut KRT Jatiningrat, keputusan peniadaan Tapa Bisu Mubeng Beteng bukan perintah Raja Sri Sultan HB X, melainkan inisiatif dari para abdi dalem sendiri. Pasalnya, ritual yang biasa diwujudkan dengan berjalan mengelilingi beteng keraton tanpa berbicara serta diikuti ribuan warga Jogjakarta itu merupakan hajad kawula dalem atau diinisiasi para abdi dalem.

”Keputusan peniadaan itu mutlak inisiatif abdi dalem. Mereka tahu sendiri. Dengan adanya protokol kesehatan di lingkungan keraton, mubeng beteng ini ditiadakan,” terang KRT Jatiningrat.

Baca juga : Keraton Jogjakarta Bagikan Ubarampe Gunungan pada Hari Raya Idul Adha

Dia menjelaskan, kegiatan yang melibatkan ribuan warga sangat berisiko apalagi berpotensi diikuti para wisatawan dari luar daerah. ”Jogjakarta ini kan wisata sudah dibuka. Biasanya wisatawan luar ikut bergabung. Itu yang tidak bisa dikendalikan,” kata KRT Jatiningrat.

Meski ditiadakan, menurut dia, sebagai pengganti, beberapa abdi dalem bakal menggelar doa bersama di Keben Keraton atau di sekitar Bangsal Ponconiti Keraton Jogjakarta pada Kamis (20/8) bertepatan Malam 1 Suro Jimakir 1954 pukul 21.30 WIB. ”Dilakukan para abdi dalem tanpa mengundang warga. Itu kan masih di dalam kompleks keraton,” ujar KRT Jatiningrat.

Dia menjelaskan, ritual tapa bisu lampah mubeng beteng dapat dimaknai sebagai sarana introspeksi diri terhadap apa yang dilakukan pada tahun lalu dan memperbaiki diri memasuki tahun baru. ”Mengelilingi beteng keraton biasanya dengan diam tidak diperkenankan berbincang-bincang untuk memusatkan diri. Memohon maaf kepada Allah serta mensyukuri segala nikmatnya,” terang KRT Jatiningrat.

Mubeng Beteng Keraton Jogjakarta merupakan ritual untuk menyambut awal tahun baru penanggalan Jawa 1 Sura atau 1 Muharam. Ribuan warga bersama para abdi dalem keraton yang mengikuti acara itu biasanya berkumpul di sekitar Bangsal Ponconiti Keben Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Tepat pukul 00.00 WIB, mereka menyusuri jalan tanpa berbicara mengelilingi seluruh benteng keraton yang berjarak 5 kilometer. Ritual itu dimulai dari Keben Keraton menuju Jalan Retowijayan, Jalan Kauman, Jalan Agus Salim, Jalan Wahid Hasyim, hingga Pojok Beteng Kulon, Jalan Mayjen M.T. Haryono sampai Pojok Benteng Wetan, Jalan Brigjen Katamso, Jalan Ibu Ruswo, Alun-Alun Utara, dan berakhir di Keben Keraton.

Saksikan video menarik berikut ini:

https://www.youtube.com/watch?v=IE9J2PpmWfY

Editor: Latu Ratri Mubyarsah
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore