Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 10 Mei 2019 | 22.20 WIB

Terjun Payung Siswa Calon Pasukan Hantu Laut

Siswa Dikkopaska TNI-AL angkatan ke-42 menjalani latihan terjun statis untuk mendarat di target yang ditentukan kemarin (9/5). (Dipta Wahyu/Jawa Pos) - Image

Siswa Dikkopaska TNI-AL angkatan ke-42 menjalani latihan terjun statis untuk mendarat di target yang ditentukan kemarin (9/5). (Dipta Wahyu/Jawa Pos)

JawaPos.com - Pesawat Casa NC-212 lalu-lalang di atas langit Bandara Internasional Juanda kemarin (9/5). Pesawat milik Skuadron Udara 600 Pusat Penerbangan TNI Angkatan Laut (Puspenerbal) itu sedang menjalani latihan. Tidak lama mengudara, satu per satu muncul penerjun dari ketinggian 1.000 kaki untuk mendarat di target yang sudah ditentukan.

Para penerjun itu merupakan siswa Pendidikan Komando Pasukan Katak (Dikkopaska) TNI-AL angkatan ke-42. Persiapan dilakukan sejak dini hari. Meski dalam kondisi berpuasa, semangat 25 siswa tersebut tidak surut. Sebelum diizinkan terjun, pengecekan alat dilakukan secara ketat oleh siswa yang dibantu para pelatih.

Salah satu kunci yang perlu dipersiapkan adalah teknik pelipatan parasut. Salah sedikit saja, bisa-bisa parasut tidak mengembang saat di udara. Selain itu, utilitas pendukung seperti tali dan pengait dicek. Baru kemudian semuanya dimasukkan ke tas parasut yang langsung dikenakan para siswa.

Komandan Sekolah Kopaska Mayor Laut (P) Sadarianto mengatakan, jenis terjun payung yang dilakukan adalah terjun statis. Jenis tersebut biasanya dipakai saat perang. Karena itu, posisi terjun tidak terlalu tinggi. Yakni, mulai 1.000 hingga 1.500 kaki. "Keluar dari pesawat, payung langsung dikembangkan," katanya.

Karena biasa digunakan saat perang, mereka terjun tidak dengan tangan kosong. Ada beban yang dibawa. Sebuah ransel dengan seberat 20 kilogram. Isinya adalah peralatan dan kebutuhan bertahan hidup serta senjata.

Setelah persiapan matang, para siswa tersebut dibagi menjadi beberapa kloter. Sebelum memasuki pesawat, kembali dilakukan pengecekan ulang oleh pelatih. Setelah dinilai aman, barulah mereka diizinkan naik. Tidak tampak raut wajah tegang dari para siswa. Sebab, sebelumnya para calon pasukan berjuluk Hantu Laut itu telah diberi pembekalan, baik fisik maupun mental.

Photo

Mayor Laut (P) Sadarianto berdoa di dalam pesawat Casa NC-212, Kamis (9/5). (Dipta Wahyu/Jawa Pos)

Dari atas pesawat, pilot terus mengabarkan kondisi arah dan kecepatan angin. Informasi ketinggian juga terus disampaikan. Mulai ketinggian 500 kaki, pintu belakang pesawat dibuka. Siswa bersiap. Pas di ketinggian 1.000 kaki, satu per satu loncat dari pesawat.

Posisi pendaratan yang ditentukan adalah lahan kosong berisi semak-semak yang tak jauh dari lokasi take-off. Namun, berbagai cerita unik terjadi dalam kegiatan itu. Beberapa siswa mendarat tidak tepat sasaran. Ada yang tersangkut di atas pohon. Ada pula yang jatuh di atas rumah warga. "Hal ini wajar karena faktor angin. Tapi, mereka juga sudah dibekali posisi yang benar saat mendarat di lokasi yang tidak seharusnya itu," imbuhnya.

Setelah ini, masih ada beberapa kegiatan latihan praktik keparaan yang harus ditempuh. Seusai latihan parastatik siang, rencananya hari ini para siswa menempuh latihan terjun statis saat malam. Tingkat kesulitannya justru lebih tinggi. Setelah selesai, baru ditutup dengan kegiatan terjun jenis free fall yang diselenggarakan di Jakarta. "Free fall untuk skill tambahan terjun mereka," jelas Sadarianto.

Photo

Editor: Dhimas Ginanjar
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore