Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 5 Maret 2019 | 06.26 WIB

Siswa SUPM Aceh Ditemukan Tewas Membusuk di Belakang Sekolah

Jenazah Aan saat ditemukan. - Image

Jenazah Aan saat ditemukan.

JawaPos.com – Sofyan, 42, tak pernah menyangka akan kehilangan Raihan Al Sahri. Hasil buah cintanya dengan Reni Rahayu 16 tahun silam itu harus tewas dengan mengenaskan saat menimba ilmu di Sekolah Usaha Perikanan Menengah (SUPM) Negeri Ladong, Kecamatan Masjid Raya, Aceh Besar.


Kediaman mereka di Jalan Rumah Potong Hewan, Gang Sastro, Kelurahan Mabar, Kecamatan Medan Deli, Kota Medan masih didatangi pelayat. Masih terpancar raut wajah sedih dan kecewa pada Sofyan.


Yang membuat keluarga terpukul, jenazah anak kedua dari lima bersaudara itu ditemukan 300 meter dari sekolahnya, Jumat (1/3) siang. Kondisinya membusuk dan ditutupi dedaunan.


“Pertama kali Raihan ditemukan penggembala lembu di sana,” kata Sofyan, Senin (4/3).


Kondisi jenazah mendapat luka memar diduga akibat pukulan benda tumpul. Keluarga menduga Aan begitu korban biasa disapa, tewas setelah dianiaya.


Soal penganiayaan itu memang sudah terlihat. Aan yang duduk dikelas X sempat memberi kabar jika dia mendapat tekanan dari kakak kelasnya.


Perlakuan keras dari para senior memang kerap dirasakan Aan. Sang ibu bercerita, Aan pernah mengabarinya jika dia mendapat perlakuan kasar. “Dia disuruh ambilkan bubur. Karena enggak penuh dia ambil buburnya, lalu ia ditunjang dan tercampak. Tekonya rusak akibat ditendang kakak kelas itu. Itu cuma karena tidak penuh mengambilkan bubur," ujar Reni.


Reni bersama sang suami langsung menjemput jenazah Aan. Dari keterangan teman-temannya, Aan didatangi senior ke kamar pada Rabu (27/2) sebelum akhirnya hilang.


“Anak saya dipanggil dan ditarik. Dia diancam beberapa orang senior," cerita Reni.


Aan katanya, juga dipukul. Dia sempat lari ke Masjid dan kembali di hajar di sana. Lantas Aan lari ke belakang sekolah. Itulah saat terakhir Aan terlihat setelah akhirnya ditemukan tewas.


Semasa hidupnya, Aan dikenal sebagai pribadi yang jenaka. Terakhir kali keluarga bertemu Aan saat dia pulang ke Medan, 4 Januari lalu. Rabu (27/2) lalu, Raihan sempat memberi kabar. Aan kembali bercerita soal dinamika di sekolahnya.


"Iya mama enggak tau tentang anak Medan kan. Lagi panas-panasnya nih di semua SUPM. Udah sampek Jakarta. Iya kemarin lah yang tinggal 2 angkatan sama anak kelas 2. Anak Medan kelas 1 nya di pukulin. Iya Aan pun kena tapi Aan diam-diam aja," tulis Aan saat chat dengan mamanya.


Reni sempat membalas. Namun pesan itu tidak berbalas lagi. Itu juga jadi kabar terakhir Aan ke keluarganya. Akhirnya, teman Raihan yang dihubungi mengabarkan kalau remaja itu hilang. Dia pun heran kenapa pihak sekolah tidak memberi kabar pihak keluarga.


Sofyan dan Reni meminta pihak berwajib dapat segera mengungkap kasus itu hingga tuntas. Jika Raihan benar dianiaya atau dibunuh, pelakunya harus ditangkap dan dihukum berat.


“Harapan saya, kasus ini cepat terungkap siapa pembunuhnya. Agar anak kita tenang di sisi-Nya. Pelaku harus diberi hukuman setimpal dengan apa yang dibuat untuk anak saya," sebut Sofyan.

Editor: Budi Warsito
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore