
MAGMATIS: Kepala BPPTKG Jogjakarta Hanik Humaida menjelaskan perkenmbangan letusan Gunung Merapi, baru-baru ini.
JawaPos.com - Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Jogjakarta menyampaikan alasannya belum ada perubahan status dari aktivitas Gunung Merapi. Sampai kini gunung api aktif Waspada tersebut belum mengalami perubahan yang cukup signifikan.
"Suplai magma (dari dalam) masih sangat kecil. Frekuensi sangat jarang dan awan panas yang keluar masih sangat kecil. Kalau akan dievaluasi, nanti kalau (jarak luncuran) lebih 3 kilometer," kata Kepala BPPTKG Jogjakarta, Hanik Humaida saat ditemui di kantornya, Senin (25/2).
Status Merapi masih di tingkat II atau Waspada sejak 2018 silam. Ada kemungkinan bisa dinaikkan menjadi Siaga atau level III, bisa juga turun kembali ke normal. "Turun ke normal bisa juga. Status waspada masih bisa normal, tidak harus naik," katanya.
Namun, lanjut Hanik saat ini Merapi masih mengalami guguran. Baik itu material, lava pijar, maupun awan panas. "Suplai magma kecil sekali. Ini yang membuat setelah muncul (awan panas) diam dulu, baru muncul lagi," katanya.
Guguran awan panas terakhir tercatat pada pukul 11.24 WIB, dengan jarak luncur 1.100 meter ke arah hulu Kali Gendol, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Jogjakarta (DIJ). Akibat awan panas itu memang sempat menyebabkan hujan abu tipis. "Hujan abu tipis di lereng Merapi bagian Magelang, di Kecamatan Dukun," kata Hanik.
Saat ini rekomendasi dari pihaknya masih tetap sama. Yakni dalam radius 3 kilometer dari puncak supaya dikosongkan dari aktivitas penduduk. "Masyarakat tetap tenang masih diperbolehkan melakukan aktivitas seperti biasa. Tidak ada perubahan yang signifikan," ucapnya.
Mengenai sering terjadi hujan deras di sekitar puncak, menurutnya berdampak pada potensi terjadi banjir lahar. Di sungai-sungai yang berhulu Merapi. "Potensi banjir lahar itu ada, tapi kecil," katanya.
Terpisah, Kabid Kedaruratan dan Logistik, Badan Penangulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sleman, Makwan menambahkan, yang menjadi kekhawatiran adalah penambang pasir. Saat ini masih ada yang beraktivitas di aliran-aliran sungai.
"Kekhawatiran kami kepada para penambang. Jadi ketika berpotensi hujan lebat, supaya segera melakukan antisipasi atau ke tempat yang lebih aman," pungkasnya.

Bocor! Alasan Brian Uriarte Tetap P4 Meski Crash di Moto3 Hungaria 2026, Bikin Veda Ega Pratama Finis P16
Viral! Diduga Dana Operasional Belum Cair, Sejumlah SPPG Mogok Operasional Mulai 8 Juni 2026
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Shin Tae-yong Bajak Staf Persebaya Surabaya, Gerbong Eks Timnas Indonesia Bisa Diboyong ke Persija Jakarta
Apa Itu Weton Tibo Pati dan Siapa Saja yang Mendapatkan Julukan Ini? Simak Misteri di Balik Nasib Weton Tibo Pati
BREAKING NEWS! Persija Jakarta Resmi Tunjuk Shin Tae-yong sebagai Pelatih Baru
Menebak Ranking FIFA Timnas Indonesia Selanjutnya Jika Menang Lawan Mozambik
Melihat 10 Besar Penjualan Mobil Mei 2026: Jaecoo Kuasai Brand Tiongkok, Tak Ada Nama BYD
Prediksi Piala Dunia 2026: Sejarah Sebut Hanya 5 Tim Lolos Semua Kriteria Juara, Belanda Masuk Daftar
Sudah Setor Total Rp 117 Miliar tapi Rumah Tak Kunjung Jadi, Konsumen Emeralda Resort Polisikan Yana Priatna
