Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 16 Januari 2019 | 17.30 WIB

Merapi Waspada, Ketersediaan Logistik Disiapkan

KUBAH BARU: Gunung Merapi di perbatasan Jateng DIJ masih terus bergejolak. Lava pijar kerap keluar dan terlihat jelas di malam hari dari kejauhan. - Image

KUBAH BARU: Gunung Merapi di perbatasan Jateng DIJ masih terus bergejolak. Lava pijar kerap keluar dan terlihat jelas di malam hari dari kejauhan.

JawaPos.com - Terus bergejolaknya Gunung Merapi membuat wilayah sekitar siap siaga. Ketersediaan logistik menghadapi bencana pun sudah disiapkan.


Pelaksana Harian (Kalakhar) BPBD Kabupaten Boyolali, Bambang Sinungharjo mengatakan meski aktivitas Merapi meninggi namun kondisinya masih waspada normal. Terkait dengan luncuran lava pijar dan awan panas menurutnya juga masih normal.


Namun dengan seringnya luncuran panas, membuat sejumlah wilayah di Kabupaten Boyolali dan Klaten mengalami hujan abu tipis. “Luncuran awan panas yang cukup tinggi itu menyebabkan terjadinya hujan abu tipis, tetapi hanya terjadi dalam beberapa menit saja,” ujarnya kepada JawaPos.com, baru-baru ini.


Terjadinya hujan abu tersebut, membuat pihaknya langsung bergerak cepat untuk melakukan pembagian masker kepada warga masyarakat. Khususnya yang tinggal di wilayah yang terdampak hujan abu.


Saat ini, stok masker yang dimiliki oleh BPBD Boyolali mencapai 6.500 buah. Jumlah tersebut menurutnya masih mencukupi untuk kebutuhan Boyolali. Meski begitu, dari Provinsi Jateng sudah menyiapkan lebih kurang 15 ribu masker.


“Kalau untuk saat ini wilayah Boyolali belum begitu membutuhkan masker, dari Provinsi juga sudah menyiapkan 10 ribu sampai dengan 15 ribu masker,” katanya.


Sinung menegaskan, meski kondisi Merapi masih aman terkendali, namun pihaknya mengimbau kepada seluruh warga masyarakat yang berada di radius 3 kilometer dari Gunung Merapi agar tetap waspada. “Warga saat ini memang sudah beraktivitas seperti sediakala, tetapi kami juga mengimbau kepada mereka untuk selalu waspada,” katanya.


Menurutnya, ada beberapa wilayah yang menjadi zona merah gunung Merapi. Yakni Kecamatan Tlogolele, Jrakah dan juga Klakah. Di tiga lokasi tersebut menjadi fokus untuk kewaspadaan gunung Merapi.


Kepala BPPTKG Jogjakarta Hanik Humaida menambahkan, sejak Mei 2018 lalu gunung ini disebutnya mengalami fase erupsi yang bersifat efusif. Berupa pembentukan kubah lava baru, dengan adanya tekanan dari dalam perut kawah. “Intensitas pertumbuhannya masih rendah. Namun statusnya tetap waspada,” kata dia.


Data terakhirnya dalam aktivitas Merapi yang dirangkum sejak 4 sampai 10 Januari 2019, secara visual cuaca cerah terjadi pada pagi dan malam hari. Kemudian untuk siang dan sore hari berkabut.


Asap yang keluar dari kubah lava teramati berwarna putih, tebal, dengan tekanan gas lemah. Tinggi maksimum 450 meter teramati dari Pos Pengamatan Gunung Merapi Babadan pada tanggal 10 Januari 2019 lalu.


Dari aktivitas selama periode itu disimpulkan, kondisi kubah lava masih stabil dengan pertumbuhan yang relatif rendah. Namun secara umum aktivitasnya masih cukup tinggi, untuk itu masih dalam status tingkat II atau Waspada.


Pihaknya memberikan saran agar dalam radius 3 kilometer dari puncak gunung dikosongkan dari aktivitas penduduk maupun pendakian. “Lalu untuk masyarakat yang masih tinggal di Kawasan Rawan Bencana (KRB) III supaya meningkatkan kewaspadannya,” ucapnya.

Editor: Sari Hardiyanto
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore